Revenue

Selasa, 11 Oktober 2011

PUISI, POLITIK, DAN PEREMPUAN CANTIK


Ayo, kenakan sepatumu/ jalanan menyiapkan debu dan kelu.
(Bambang Q-Anees)

Mari kita mulai dengan rendezvous, kenapa puisi itu mirip politik? Lalu apa hubungannya dengan perempuan cantik? Menurut pengamatan saya begitu jelas hubungan ketiga makhluk tersebut, saling bertautan satu dengan lianya, ketiganya sering bertemu dan menimbulkan energi puitik. Lalu ketiga hal tersebut semuanya harus sensual, gemulai, meliak-liuk, ada juga yang mengentak, relasi dari ketiganya harus soal bagaimana bisa menyihir, puisi harus memberikan makna mendalam kepada pembaca, politik harus membelai rakyat, begitu pula perempuan cantik harus menyihir para penyair dan politisi,(sedikit mengenang) semua itu serba memakai sesuatu yang konotatif dan tentunya syarat dengan pelbagai kepentingan. Bahkan Goenawan Moehammad dalam catatan pinggirnya menulis bahwa Richard Nixon, seorang politisi Amerika berpidato itu mirip puisi, tetapi apa yang di katakan Nixon bukan puisi tetapi ia tetap seorang politisi.

Setelah itu, mari kita lihat apa bedanya para penulis puisi (penyair) dan politisi khususnya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kenyataanya puisi dan politik sering berbenturan, puisi bisa saja melawan, menolak, bahkan menyerukan politik, sampai-sampai banyak tema dari puisi membentak para politisi, penyair mengungkapkan ekspresinya lewat puisi, tentu saja mereka peduli terhadap perkembangan politik, politik menjadi tema dalam sastra, dan penyair Wiji Tukul selalu mengingatkan kita “hanya ada satu kata, lawan!”

Di sisi lain berbeda jika menohok para politisi khususnya yang tergabung dari pejabat kampus, mereka bisa jalan-jalan( studi banding) didanai kampus dengan dalih-dalih merumuskan undang-undang kampus, yang belum tentu seluruh mahasiswa mengetahuinya, sampai-sampai keadaaan perpolitikan kampus karut-marut hingga sampai saat ini belum ada kejelasan, belum lagi perebutan proyek kekuasaan, bagaimana nasib mahasiswa sekarang, seharusnya politisi kampus memikirkan dan membebaskan tahanan (mahasiswa atau mustad’affin) dari belenggu jeruji besi. Berbeda dengan penyair (penulis puisi) di kampus, belum tentu bisa seperti itu jalan-jalan didanai oleh kampus. Padahal penyair selalu memikirkan kampus, selalu memikirkan nasib mahasiswa (menjadikanya tema dalam puisi).

Oleh karena itu dalam benak saya bertanya-tanya, apakah para para politisi kampus akan peduli terhadap puisi? Sebuah keniscayaan, sebab puisi ditulis berdasar dengan ketulusan hati (AZN), jikalau politik syarat dengan kepentingan, dalih-dalih dalam politik ada anekdot “kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan” begitulah politik, tak menguntungkan Ya, tidak jadi kawan, kacian deh loe! Eh, padahalah media ucapnya sama, yaitu kata-kata (jika kampanye atau lobi-lobi). Seharusnya politisi mencintai puisi, mereka sering puitis lho, ayo coba ketika pencalonan, seribu janji membuai tehadap rakyat kampus, padahal itu konotatif, bermakna ganda, terkadang menimbulkan metapor, menimbulkan banyak pesan, terkadang tidak tertuju terhadap makna aslinya. Bahkan terlaksana atau tidak itu urusan belakangan.

Pada sisi lain juga, puisi sejak zaman dahulu kala telah ada, ia menjadi semacam tradisi lisan bagi masyarakat sebelum mengenal tulisan, pada zaman Yunani kuno hingga ke peradaban Romawi, Persia puisi tidak pernah absen. Begitu juga politik selalu beriringan, selalu berdampingan.

Hingga pada masa Arab klasik, di negeri jazirah itu banyak penyair, sampai-sampai Ka’bah, kiblat bagi umat islam menjadi semacam pertarungan antara penyair, puisi yang bagus akan di pajang, mereka sering berkumpul dan membaca puisi (dahulu sebutannya syair), bahkan kitab suci Al-qur’an diturunkan untuk melibaskan, membasmi syair para kaum jahiliah, mungkin tidak salah karena Tuhan sebagai Dzat yang maha puitis. lalu apakah Alqur’an puisi-puisi dari Tuhan itu sendiri? kita bisa setuju atau tidak, kalau tidak setuju maka seyogyanya nagucung di alun-alun.

Uniknya, Sayidina Umar r.a, sahabat rasul pernah berkata kepada Tuhan, ya Tuhan kenapa bukan aku yang menjadi atau nabi, kenapa Engkau memilih Muhammad? padahal saya penyair, tutur Umar. Bila melihat dahulu kepenyairan begitu dahsyat dan sangat diperhitungkan bahkan sebagian pakar mengatakan bahwa penyair itu nabi. Beban yang berat coy, jika menjadi penyair. Pantas saja saya melihat kecenderungan di abad ini orang-orang memilih menjadi politisi, ya, kalau menjadi politisi tinggal banyak pencitraan, sedikit gombal dan bisa melobi sana-sini, sambil berbekal ribuan massa. Niscaya Anda akan menjadi-jadi. Slogannya; maju tak gentar memebela yang bayar!
***
Perkembangan puisi di kampus ini memang tak seperti perkembangan politik. Meski adanya jurusan atau fakultas sastra tidak menjadi tolak ukur (menara gading) bagi perkembangan puisi. namun puisi tetap hadir, tetap lahir dan mengikuti semangat perkembangan zamannya, menjadi suara lain atau menurut Penyair Octavio Paz, The Other Voice. Mari kita sedkiti mengenang, dari zaman penyair Bambang Q-Anees sampai ke zaman B.F Syarifudin, dalam genre Sunda ada Liman Sanjaya, punggawa dari Garut utara, periode IAIN, hanya menyebut beberapa nama, hingga saat ini setelah berubah menjadi UIN. Atau sebut saja dari periode K.H Anwar Mussadad(alm) sampai ke periodik Rektor H. Nanat Fatah Natsir, puisi akan terus hadir. Beberapa genarasi pelapis mulai bermunculan, karena proses estafeta kepenulisan puisi harus dilanjutkan, penyair akan hadir, meski tidak banyak, dari sekian ribu cvitas akademika, mungkin hanya ada beberapa, mungkin ini yang mirip dengan konsep kenabian, dan penyair selalu menggemakan takbir, selebihnya sedikit mengutif, puisi jangan dipeti matikan atuh beb!

Puisi harus tetap hidup, jangan mati, proses kepenulisan tetap berjalan meskipun kampus hancur, gedung-gedung dirobohkan, mahasiswa tercerai berai atau menurut pandangan penyair sekaligus dosen Theologi Bambang Q-Annes menyebutnya seperti Yahudi, tersebar di mana-mana.

Oleh karenanya saya tiba-tiba ingin mengutif petikan puisinya berjudul laut, penyair ini menuliskan ,/Masih terasa getar dari bau tanah/langit dan amis laut / dan daratan yang terbakar tak disapa. Itu lah kehebatan puisi meskipun sudah di tulis pada sekitaran 2000 makna dan suasana dari puisi tersebut seakan aktual, bisa dikontekstualkan dengan keadaan kampus, liat kampus UIN seperti daratan yang terbakar tak disapa.

Lalu dalam larik selanjutnya di tulis, “Apa yang kau bebaskan Hanoman, waktu telah menindas jarak”. sebagai pembaca saya diingatkan kembali kepada sosok Hanoman atau juga ini alusi, dalam puisi tersebut si ‘aku” lirik di lukiskan sebagai hanoman yang membantu Rama ketika membebaskan perempuan cantik yang bernama Sitta, yang diculik Rahwana, “waktu telah menindas jarak”, dalam arti tidak ada kesempatan lagi, sudah terlalu lama, Sitta telah menunggu untuk dibebaskan, lirik selanjutnya “tetapi ia, juga kamu tak tahu/ bahwa sitta telah menemukan waktu dalam api/.

Ada penggambaran peristiwa, sehingga membaca puisi tersebut, bagi saya menimbulkan banyak metapor, tafsir menjadi luas, bisa dari berbagai pendekatan, bisa didekati dari sudut mana saja. Selanjutnya saya ingin menafsir, bagaimana waktu diibaratkan dengan api, mungkin semakin lama, semakin panas, atau lebih tepatnya menunggu itu hal yang membosankan, hal yang bisa membuat pori-pori tubuh seperti terbakar.

Dengan demikian, pada zaman ini saya mengambil makna dari tokoh Hanoman dari puisi Bambang Q-Annes itu dengan konteks zaman edan ini, dan mulai bertanya masih adakah sosok seorang yang mirip Hanoman di hari ini; perasaan yang tulus, pengabdi terhadap Rama, seorang pembebas, maksud saya di sini orang yang benar-benar tulus membebaskan.

Dalam ceritanya, Sitta digambarkan seorang perempuan cantik, berhidung mancung, ketika tersenyum mirip dalam iklan pasta gigi, saya membayangkan ia mirip foto model atau pragawati dari daratan Hindustan. Karena perempuan cantik harus dibebaskan, kebanyakan dalam dunia cerita, tokoh perempuan cantik menjadi sandera politik, sebenarnya saya melihat cerita antara Rahwana dan Rama sebagai peristiwa politis, memang motif pelebaran cerita digambarkan melalui penculikan Sitta, namun di sisi lain saya melihat itu sebagai perebutan kekuasaan atau politik. Atau kelakar saya jangan-jangan penyair Bambang Q-Annes sempat membebaskan perempuan cantik? Ya, bisa saja jikalau dilihat dari aspek sosiologis namun sebaiknya tidak membahas itu.

Begitulah sementara dalam tulisan yang dihidangkan kepada pembaca khususnya di kampus UIN, dalam pandangan yang tidak disertakan berbagai referensi ini, bahkan membingungkan membacanya karena tak usai, perihal sengaja, syukur-syukur bisa berlanjut menjadi bahan diskusi. Namun kembali pada persoalan puisi, politik dan perempuan cantik, memang banyak sekali tema, atau keterkaitan terhadap persoalan tersebut, atau selamanya perempuan cantik yang sensual, lengkung bibirnya tipis, alisnya hitam agak tebal, akan terus menjadi tema para penyair dan politikus? coba sejenak kita bayangkan di siang rindang, matahari belum terkudeta, angin membelai daun-daun, kau duduk di bawah pohon rindang (DPR), kau melihat perempuan berkerudung merah jambu, hidungnya mancung, tingginya semampai, leluk tubuhnya mirip pragawati Paris atau foto model dari Italia, atau sebut saja perempuan Cileunyi rasa Itali, akan timbul puisi atau tidak? selajutnya apakah UIN masih tetap seperti itu, akan tetap selamanya menjadi rumah perkutut dan para dewa!

Oleh Pungkit Wijaya. Bergiat di konsorsium sastra UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


Do you like this story?

Tulisan Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar