Revenue

Jurnal SASAKA

Edisi Juni 2012

Haul to Chairil Anwar

Acara FAS (Forum Alternatif Sastra)

Komunitas Sasaka

Pungkit, Anto,Atep, Ema

Acara Godi Suwarna

Sedang menyimak

Diskusi

Kebersamaan tak lekang oleh waktuuuu

Dado dan Nira

MC Acara FAS

Pungkit, Ema dan Atep

kongko-kongko

Jurnal SASAKA

Coming Soon Edisi September 2012

Minggu, 26 Agustus 2012

Indonesia Mudik




MUDIK adalah ciri khas kebudayaan Indonesia. Buktinya, Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings, penyusun A Comprehensive Indonesian-English Dictionary (2010), tidak menemukan padanan yang tepat buat istilah mudik. Mereka hanya dapat menerjemahkannya menjadi “go back to one’s native village at Lebaran”. Alhasil, dalam urusan mudik, kamus dwibahasa (yang mencari padanan kata) pun terpaksa menyerupai kamus ekabahasa (yang menerangkan arti kata).

Pemakaian istilahnya saja unik nian. Terbentuk dari kata dasar udik, istilah mudiksesungguhnya informal. Verba yang baku seharusnya mengudik, tapi kata bentukan demikian tidak pernah terdengar. Betapapun, istilah informal itu dipakai dalam rapat kabinet, digunakan dalam rumusan kebijakan serta program birokrasi pemerintahan, dan diolah dalam media jurnalistik. Dengan kata lain, gejala mudik memperlihatkan betapa kegiatan informal dapat menguras perhatian tatanan formal. Tanpa perang saudara atau bencana alam, seluruh tatanan transportasi Indonesia bisa dibikin hibuk selama dua pekan sehabis Lebaran. 

Mungkin itu sebabnya orang sulit mencari bandingan mudik di luar Indonesia. Dari segi besarannya, kafilah Idul Fitri ini kiranya hanya dapat dibandingkan dengan migrasi kolektif dalam novel klasik The Grapes of Wrath karya John Steinbeck. Tentu, kaitan cerita Amerika itu berbeda, yaitu terusirnya warga desa oleh industrialisasi pertanian, hingga mereka bergerak di jalan raya buat mencari tempat baru. Dengan kata lain, rakyat Steinbeck meninggalkan udik, sedangkan rakyat Indonesia kembali ke udik —setelah tersedot industrialisasi kehidupan di kota. 

Uniknya pula, kata udik itu sendiri sudah jarang dipakai dalam perbincangan sehari-hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), kata itu bisa berarti “daerah di hulu sungai” atau “dusun”. Sungai dahulu kala adalah jalan raya hari ini. Dulu, tatkala sungai masih menjadi jalur transportasi utama, orang Nusantara pergi ke hilir dan kembali ke udik. Dari situlah, rupanya, timbulnya ungkapan hilir-mudik alias mondar-mandir yang biasa digunakan buat melukiskan keadaan lalu lintas. Kata udik tak lagi sering digunakan karena orang Indonesia sudah lama mengabaikan sungai.

Perhatian Indonesia hari ini terarah ke jalan raya, bukan ke sungai. Buktinya, rumah-rumah di bantaran kali umumnya membelakangi kali itu sendiri. Kali dan sungai akhirnya dijadikan ruang belakang tempat banyak orang membuang sampah, kotoran, dan sebagainya. Adapun jalan raya kemudian dijadikan ruang depan tempat banyak orang mempertaruhkan karier dan harkat dirinya. Jejak-jejak peradaban sungai di negeri ini hanya dapat dirasakan pada istilah dan rutinitas mudik. Mereka yang mudik tak ubahnya dengan ikan salmon yang kembali ke hulu pada waktu-waktu tertentu.

Bagi kawanan ikan salmon, hulu sungai adalah tempat yang baik buat mati dan melaksanakan regenerasi. Bagi jutaan orang Indonesia, dusun atau desa adalah tempat yang baik buat memperlihatkan sikap berani mati setahun sekali. Tidak mustahil hidup para pemudik berakhir di jalur pantura Jawa atau di jurang kelokan empat puluh empat Sumatra. Sepeda motor adalah simbolnya yang menonjol. Pasukan kavaleri manapun, tampaknya, tidak dapat menandingi patriot bermotor dalam hal keberanian, kecepatan, daya angkut, dan jarak tempuhnya.

Patut dicatat bahwa salah satu destinasi terpenting bagi para pemberani itu adalah kuburan. Meski Persis atau Muhammadiyah barangkali tidak menyukainya, muslim pemudik pada umumnya menjadikan kunjungan ke kuburan sebagai kegiatan penting. Mereka merambih ke makam leluhur atau anggota keluarga lainnya. Di situ bunga rampai ditaburkan dan air jernih dikucurkan ke atas pusara, juga doa dipanjatkan. Lebaran mendapatkan salah satu simbolnya dalam semacam air setaman.

Di situ pun terlihat watak Indonesia. Jika Idul Fitri di negeri ini dapat ditafsirkan sebagai kesempatan reuni, patut dicatat bahwa reuni itu tidak hanya melibatkan orang-orang yang masih hidup, melainkan juga melibatkan orang-orang yang sudah mati. Si hidup dan si mati berkumpul lagi dalam suasana Idul Fitri. Leluhur dan kaum kerabat yang telah tiada seakan tidak benar-benar mati, melainkan tetap ikut mempengaruhi suasana hati dan gerak-gerik keluarga yang masih hidup.

Pentingnya orang-orang yang telah tiada dalam kehidupan orang Indonesia tergambarkan dalam The Potent Dead (2002) suntingan Henri Chambert-Loir dan Anthony Reid. Buku ini menyajikan sejumlah telaah mengenai aspek-aspek spiritual orang Indonesia, antara lain orang Jawa, Dayak, dan Bugis. “The potent dead, as this book demonstrates, are omnipresent in modern Indonesia,” tulis penyunting buku itu dalam bagian pendahuluan.

Demikianlah, melalui rutinitas mudik yang bersifat informal, dengan segala risikonya, orang Indonesia merealisasikan gerak batin ke tempat asal, ke lingkungan leluhur, di mana kebersamaan sepertinya diteguhkan kembali.***

Oleh Hawe Setiawan. Budayawan dan Kritikus Sastra.