Revenue

Jurnal SASAKA

Edisi Juni 2012

Haul to Chairil Anwar

Acara FAS (Forum Alternatif Sastra)

Komunitas Sasaka

Pungkit, Anto,Atep, Ema

Acara Godi Suwarna

Sedang menyimak

Diskusi

Kebersamaan tak lekang oleh waktuuuu

Dado dan Nira

MC Acara FAS

Pungkit, Ema dan Atep

kongko-kongko

Jurnal SASAKA

Coming Soon Edisi September 2012

Kamis, 22 Desember 2011

Hasan(the)isme


Oleh Bunyamin Fasya*

Prolog

Manusia modern menurut Gabriel Marcel, cenderung melihat manusia lain sebagai ‘engkau’ yang keberadaannya dianggap berguna hanya ketika memberikan manfaat dan keuntungan bagi ‘aku’. Inilah yang disebut oleh Marcel sebagai hubungan aku-engkau, suatu jenis hubungan subjek-objek. Hubungan yang seperti itu merupakan hubungan yang berbahaya karena hubungan tersebut akan menjadikan manusia-manusia yang individualis, tidak peduli pada orang lain di sekitar dirinya.

Kecenderungan memandang orang lain sebagai bagian—di luar dirinya ini, tidak hanya sebatas pada hubungan interaksi sosial melainkan sudah pada wilayah idealisme. Idealisme yang dimaksud adalah sebuah bentukan tradisi berkepercayaan terhadap Tuhan baik secara praktik maupun konsep berpikir, sebagaimana yang ditanamkan oleh leluhurnya. Ketika leluhurnya beragama Islam misalnya, maka idealisme atau keyakinan keturunannya harus berdasarkan dengan ajaran agama Islam.

Namun ajaran yang ditanamkan oleh leluhur itu tidak menjamin bahwa idealisme atau keyakinan itu akan dianut oleh si individu secara liniar. Bisa jadi seiring dengan perkembangan peradaban manusia, keyakinan itu bisa berubah sesuai dengan kehendak baru yang diyakininya. Faktor psikologis seseorang ketika bertemu atau menemukan realitas baru atau ganjil akan menentukan segalanya—ia bisa ke kanan dan ke kiri.

Pembicaraan di atas bisa ditemukan pada gambaran realitas manusia dalam teks sastra Roman Atheis karangan Achdiat K. Miharja. Di dalam Roman ini, menceritakan  tokoh Hasan seorang pemuda desa yang taat beragama, namun karena bergaul dengan orang-orang yang beraliran materialisme (kebendaan), kejiwaan Hasan menjadi terganggu—kepercayaannya terhadap Tuhan yang diyakininya menjadi pudar.

Sebelumnya Hasan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang taat beragama yaitu Islam.Hasan adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng gunung Telaga Bodas. Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam, Ayahnya Raden Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik, sopan, berilmu dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, walaupun Hasan masih kecil, tapi dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat. Hasan selalu patuh kepada semua peraturan kedua orang tuanya.

Suatu hari, ia bertemu dengan Rusli, sahabat karib masa kecil Hasan. Rusli mempunyai sahabat perempuan, Kartini yang sangat memesona bagi Hasan. Saat Hasan mengetahui bahwa Rusli dan Kartini adalah seorang atheis, ia terkejut dan menjauhi mereka. Hal ini dilakukan agar ia tidak ikut terpengaruh menjadi seorang atheis seperti mereka. Namun, niat itu diurungkannya. Perlahan – lahan, Rusli dan Kartini memberikan pengaruh terhadap perkembangan iman Hasan, membuat dirinya yang seorang agamawan fanatik menjadi seorang atheis. Ditambah lagi, muncul seorang atheis fanatik bernama Anwar, sahabat Rusli. Lambat laun, ia menganggap menjalankan kewajiban agama sebagai suatu perbuatan yang terlarang.

Eksistensi Hasan Sebagai Manusia
Dunia manusia adalah dunia wacana. Mengutip Prof. Dr. Fuad hasan, kemampuan berpikir merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni ‘a world of discourse’. Melalui kesanggupannya itu, manusia mengutarakan pikirannya dan pendapatnya (logos), gairah dan perasaannya (phatos), serta adab dan susilanya (ethos).

Eksistensi menurut Karl Jaspers (Syamsudin, 1997: 76), berdiri berhadapan dengan transendensi, sama dengan kebebasan yang diberi isi. Dengan begitu manusialah yang memberi arti dan isi kepada hidupnya sendiri. Manusia bukanlah kenyataan yang berkeping-keping, yang bergerak dari masa kini ke masa lainnya. Manusia adalah sekaligus masa lampau, masa kini dan masa datang. Manusia mempunyai “sikap” sejarah. Historisitas merupakan struktur konstitutif eksistensi manusia (W. Poespoprodjo, 1987: 8-9).

Sebagaimana di atas telah digambarkan bahwa keberadaan leluhur dalam beragama menjadi kriteria utama dalam keturunannnya. Hasan merupakan contoh historisitas struktur konstitutif eksistensinya sebagai  manusia. Historisitas itu dibentuk oleh orang tuanya yang taat beragama.

Keberadaan manusia (Hasan) sebagai hamba dan sebagai khalifah Allah di muka bumi, merupakan suatu kenyataan apriori (imani) bagi umat Islam. Posisi dilematis, bahkan paradoks tersebut (juga posisi manusia atas alam dan manusia lain) menjadi dasar ontologis keimanan dalam agama. Kemestian beribadah seorang manusia, sebagai contoh, didasarkan pada keyakinan akan posisinya sebagai hamba di hadapan Tuhan. Posisi ini, secara epistimelogis, mensyaratkan sikap apriori, tanpa reserve, untuk menghambakan dirinya pada Tuhan. Akan tetapi, di sisi lain, posisi manusia sebagai khalifah mensyaratkan kemerdekaan manusia untuk berkreasi, mengaktualisasikan seluruh potensi yang diberikan Tuhan pada dirinya. Yaitu, potensi indera, pikir, rasa, dan potensi-potensi lainnya untuk berkreasi.

Keberadaan manusia pada posisi itu, merupakan cerminan Hasan ketika dia mengalami dilematis mental setelah pertemuannya dengan Rusli dan Kartini. Rusli yang atheis mencoba meretakkan keimanan Hasan. Pada peristiwa ini Hasan membuktikan kemerdekaannya dalam berkreasi—ia mengikuti faham atheisme yang dianut Rusli. Secara umum kreasi Hasan dalam sikap tidak hanya digambarkan dalam tingkah lakunya saja yang sudah meninggalkan ibadah melainkan pada sikap tutur Hasan yang cenderung kontroversi.

”Baru sekali  ini aku bertengkar dengan orang  tua. Dan alangkah hebatnya pertengkaran  itu  pertengkaran  paham,  pertengkaran  pendirian,  pertengkaran kepercayaan. Tapi ah, mengapa aku tidak bersandiwara saja ? mengapa aku harus berterang-terangan  memperlihatkan  sikapku  yang  telah  berubah  itu  terhadap  agama?”

Secara eksistensial, Hasan berada dalam himpitan antara tekanan-tekanan primordialnya sebagai hamba Tuhan dan sebagai khalifah. Selanjutnya, secara ontologis, pluralitas Hasan sebagai makhluk biologis (sebagai bagian integral dari kenyataan alamiah), dan sebagai makhluk ruhaniah, telah menghadirkan dilema ontologis yang berimplikasi pada dilema epistemilogis pula.
Hasan yang mengalami dilematis diri itu tergambar pada perubahan psikisnya yang mulai merasakan kesalahan-kesalahan dirinya terhadap Tuhan, Kartini bahkan pada orang tuanya. Hasan teringat akan nasihat-nasihat yang diberikan orang tuanya.

”Aku mengucap beribu syukur alhamdulillah, bahwa aku hanya menjadi ”pembunuh” di dalam khayal. Mengucap syukur alhamdulillah, karena aku merasa sudah terlalu berat berdosa. Berdosa terhadap orang tua sendiri. Berdosa...juga terhadap Kartini, yang terlalu bengis kuperlakukan. Berdosa terhadap Tuhan Yang Mahakuasa. Ya, terhadap Tuhan yang selama ini sudah kuabaikan segala perintah-Nya.”

Dengan demikian, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh cara pandangnya terhadap diri dan segala sesuatu di luar dirinya. Hal ini secara gamblang dijelaskan C.A. van Peursen dalam tiga tipologis mental budaya manusia, yaitu: pertama, mental mitis yang melahirkan manusia-manusia statis karena memasukkan dirinya dan menjadikan dirinya sebagai bagian integral dari wilayah imanen. Kedua mental ontologis yang melahirkan sikap mengambil jarak (eliminasi) antar manusia dengan segala sesuatu di luar dirinya. Mental ontologis ini memiliki kecenderungan untuk melakukan eksploitasi terhadap apa-apa yang ada di luar diri, sebagai objek. Dan, mental yang ketiga, adalah mental fungsional yang berusaha melakukan relasi antara dirinya dengan sesuatu di luar dirinya, relasi ini berpijak di atas prinsip-prinsip fungsional.

Ketiga mental tersebut merupakan gambaran manusia pada sisi eksistensinya sebagai manusia dalam prerilaku keberfungsiannya sebagai makhluk sosial yang bertitik pada psikologis dirinya. Psikologis ini, merupakan hasil kontak diri manusia (Hasan) dengan lingkungannya dan di luar dirinya—Tuhan, Kartini, Rusli, Anwar, Orangtuanya.

Epilog

Dalam konteks budaya, seorang manusia secara kodrati senantiasa berhadapan dan berada dalam masyarakatnya, homo socius. Masyarakat telah ada sebelum seorang individu dilahirkan dan masih akan ada sesudah individu tersebut mati. Lebih dari itu, di dalam masyarakatlah dan sebagai hasil proses sosial, individu menjadi sosok pribadi, ia memperoleh dan berpegang pada suatu identitas.

Manusia tidak akan eksis bila terpisah dari masyarakat. Dengan kata lain, bahwa masyarakat (sebagai kumpulan individu-individu manusia) diciptakan oleh manusia dan manusia merupakan produk dari masyarakat. Kedua hal tersebut menggambarkan adanya dialektika inhern dari fenomena masyarakat.
Proses dialektika fundamental tersebut, menurut Berger, terdiri dari tiga momentum, yaitu: internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. Ketika seorang manuisa hidup dalam masyarakat, ia akan senantiasa menganggap dirinya sebagai bagian penting dari masyarakat tersebut. Keadaan dan proses inilah yang dikenal dengan eksternalisasi.

Dalam Atheis, Achdiat K. Miharja, menggambarkan ekternalisasi tersebut pada sosok Hasan yang berusaha kembali pada orang tuanya. Berusaha kembali pada rahim ibunya pada sarakannya, yang menjadi eksistensi diri Hasan yang sebenarnya. Meski harus menempuh jalan kematian yang tak disengaja.

Tiba-tiba… tar tar tar aduh
“Hasan  jatuh  tersungkur.  Darah  menyerobot  dari  pahanya.  Ia  jatuh pingsan.  Peluru  senapan  menembus  daging  pahanya  sebelah  kiri.  Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling  sebentar  di  atas  aspal,  bermandikan  darah.  Kemudian  dengan  bibir melepas kata...”Allahu Akbar”, tak bergerak lagi….
Wallahu ‘alam bi al-shawab.

* Penyair, aktif di FAS (Forum Alternatif Sastra) Bandung.

Minggu, 11 Desember 2011

IMAJI HUJAN



sore ini api lilin indah
di luar hujan mengintai 
tapi surut pandang cahayanya lemah di bakar kobar wajahmu
dan aku tahu, kita adalah tawanan di tubuh yang sama

                                                                                    syamsi 12, at 16.36 pm

oleh Asep Gunawan mahasiswa sastra Inggris, yang sedang belajar menyastra

Selasa, 06 Desember 2011

Modernitas dalam Novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” (Resensi Diskusi di komunitas Sasaka novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”)


Oleh Asep Gunawan

Dalam dunia kesusastraan Indonesia pra kemderdekaan semua tentunya mengenal novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” karya seorang intelektual Hamka. Novel tersebut dicetak sekitaran 1936, tentunya ini termasuk karya sastra klasik yang begitu dahsyat. Yang termaktub dalam khazanah kesusastraan Indonesia sampai saat ini.

Ketika kita membaca karya Hamka yang satu ini, praktis imaji kita akan dibawa pada romantisme kondisi Indonesia pra merdeka. Setting yang diambil pada karyanya yang satu ini bercerita tentang tanah Minang, tanah yang sangat kental akan lokalitas budayanya, terutama paham matriarki yang dianutnya. Dan Hamka sedikitnya mengambil titik pijak narasinya dengan adat ini, terbukti ketika di awal cerita kita akan disuguhkan mengenai konflik antara Sutan Pandekar dengan Mamaknya Yang berujung dengan diusir dan dipenjaranya Sutan Pandekar di Cilacap setelah dengan tidak sengaja membunuh Mamaknya.
Selain landsekap tanah Minang, Hamka juga cukup pandai dalam mendeskripsikan tanah Mengkasar, yang jadi tanah pijakan kedua bagi Sutan Pandekar, sampai dia menikah dan memiliki anak di sana.

Zainudin, si anak campuran darah mengkasar dan Minang itu, mesti menerima kenyataan pahit bahwasannya leluhur ayahnya di Minang tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang keturunan Minang. Karena adat dan tradisi di sana yang beranggapan bahwa orang Minang haruslah beristrikan orang lokal. Selain juga budaya matriarki yang dipegang kuat di padang Panjang ini. Hingga membuat kisah cinta Zainudin dengan Hayati tak kesampain lantaran adat yang menjadi tembok pemisah keduanya. selain pada akhirnya, lagi – lagi zainudin harus menelan pil pahit, mengingat Hayati lebih memilih untuk menikah dengan Aziz yang secara ekonomi lebih mapan dibanding Zainudin.

Wacana modernitas

Kelahiran suatu karya memang pada dasarnya dibidani oleh keadaan social pengarangnya. Di mana banyak phenomena – phenomena yang melatarbelakangi kelahiran karya sastra dan sedikit banyaknya direflesikan oleh sang pengarang dalam karyanya. Karena pada dasarnya karya sastra merupakn pencerminan keadaan masyarakat pada saat tertentu. (Ian Watt dalam Faruk: 2010)

Begitupun Hamka, yang mendeskripsikan adanya gejala – gejala modernitas yang merasuk pada tatanan pranata social pada orang – orang Indonesia. Paling tidak ada dua aspek yang cukup terlihat pada ceritanya yang satu ini. Yang pertama mungkin, semakin lunturnya nilai – nilai moral dan religious yang menjadi pondasi kuat bangsa Indonesia, terutama Minang. Dan yang kedua, munculnya sikap materialism pada setiap individu, yang dengan mudahnya menanggap bahwa materilah yang menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang.(I. Bambang Sugiharto: 1996).

Kedua gejala tersebut cukup berhasil direfresentasikan pada kedua tokohnya, Aziz dan Hayati. Aziz yang notabene, berasal dari keluarga elit yang telah bersinggungan dengan modernitas, yang dicirikan dengan pola hidupnya yang cenderung matrealistis dan menjurus pada kehidupan hedonis, hingga berakhir tragis. Sedang, Hayati tentunya tak lepas dari judgment yang sama, keputusannya untuk memilih menikah dengan Aziz selain dorongan dari kelurganya,  materi pulalah yang dijadikan pertimbangan olehnya, mengingat Aziz merupakan orang yang “ada”.

Modernitas, memang salah satu unsur yang diperkenalkan oleh bangsa Barat yang secara melalui kolonialismenya. Melalui modernitas seolah bangsa kita diajak untuk lebih berfikir maju dan logis, sehingga kadang melupakan budaya primordial kita. Namun lagi – lagi ketidaksiapan mental Indonesia dalam memaknai modernitas, nampaknya menjadi boomerang bagi kita. Karena memang, bangsa Indonesia bisa dibilang saat itu, sedang mengalami masa transisi dari pola hidup tradisional menuju pola hidup modern.

Budaya lokal tentu saja akan selalu menjadi lawan bagi budaya global yang masuk. Namun mungkin Hamka ingin memberikan gambaran akan sebuah ketidaksiapan mental jika memang terlalu terbuka menyerap semua unsur modernitas yang diterapkan barat pada Indonesia khusunya, akan berakhir dengan sebuah ketragisan. Tak mengherankan, mindset seperti ini memang sudah menjadi wacana global bagi semua negara – negara pasca kolonial untuk meniru si penjajah atau kalau meminjam istilah Homi. K. Bhaha, Mimikri. Semua produk Barat baik sikap, pemikiran atau life style, akan menjadi bahan acuan bagi bangsa terjajah hingga bermuara pada sebuah wujud peniruan, yang salah satunya tentang modernitas.

Namun Hamka, dengan pandai membungkusnya dengan model narasi yang tidak terlalu fulgar menceritakan wacana itu, hingga yakni tema cintalah yang seolah muncul ke permukaan. Tentunya, hamka tidak serta merta memberikan gambaran itu jika tidak merujuk pada phenomena sosial yang sedang terjadi kala itu. Persentuhan Barat dan local melahirkan perubahan paradigma yang kadang mengancam budaya local hingga bisa mengakibatkan tercerabutnya nilai lokalitas yang sejak dulu tertanam.

Peran Akar Primordial

Di dalam sebuah karya tentunya mengandung ideology pengarang. Ideology – ideology yang ingin disampaikan terhadap para pembacanya. Jika melirik background Hamka yang seorang Buya, atau seorang tokoh Islam, tentunya nilai – nila islamilah yang ingin dia sampaikan, namun tidak terlepas dari akar primordial bangsa Indonesia. Paling tidak kedua hal itulah yang harus dijadikan pijakan utama bagi bangsa Indonesia dalam memaknai modernitas atau globalitas secara umum.

Pada kontek kekinians, modernitas semakin buas terlihat dan tanpa ampun menghempaskan nilai lokalitas bangsa kita. Nilai moral dan religious semakin berbanding terbalik dengan pola pikir ke-Baratan yang semakin menguat. Walhasil, sikap hidup yang selalu diorientasikan pada materilah yang laku bagi setiap pendirian seseorang. Hingga setiap orang harus selalu bersaing satu sama lain dalam meraih materi, walaupun harus ada yang “dikorbankan”, sebuah sikap masyarkat yang cenderung tidak manusiawi, hingga tidak aneh kalau krisis multi dimensi di Indonesia tak pernah menemui titik akhirnya.

Paling tidak secara implisit Hamka ingin mengutarakan bahwa globalitas apapun itu bentuknya tak harus membuat kita tercerabut dari nilai – nilai local yang kita anut. Karena hal itulah yang menjadi satu – satunya identitas di dalam dunia global yang semakin menghapus batasan – batasan budaya antar bangsa. Baiknya secara bijak kita menyambut modernitas itu dengan penuh pertimbangan, bukan malah dengan tangan terbuka hingga menyerap dan menerapkannya secara total dalam kehidupan kita. untuk itu sikap kritis sangatlah dibutuhkan agar bangsa kita tidak menjadi bangsa yang tergerus budaya global. Dan tentunya dengan tetap menjaga citra sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai religious dan akar primordial kita.

Penulis, Mahasiswa Sastra Inggris UIN Bandung, bergiat di Komunitas Sasaka

Senin, 28 November 2011

SANG SUREALIS DAN NOBEL SASTRA 2011


Penganugrahan nobel kesusastraan telah disiarkan. Betapa tidak, moment tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh semua sastrawan di seluruh dunia. Sebab perayaan tersebut menjadi semacam kebanggaan bagi para sastrawan dunia. Yang karyanya bagus dan memukau dewan juri maka akan masuk nominasi, tentu saja ada beberapa kategori yang khusus untuk menentukan siapa pemenangnya.


Terlebih setelah komite hadiah Nobel di Akademi Kerajaan Swedia, Kamis (06/10) di Stockholm mengumumkannya. Yakni penyair Swedia, Tomas Transtroemer (80) meraih hadiah Nobel sastra 2011, Trantroemer kerap menyuguhkan karya yang sederhana tetapi berbau mistik tentang alam, sejarah, dan kematian, seperti yang di ungkapkan  juri Swedis Acamedy “Transtroemer dianugerahi hadiah bergengsi itu karena mampu menghadirkan gambaran realitas yang "tembus cahaya", ringkas, dan padat. "Dia memberi kita akses segar ke arah realitas".


Puisinya penuh dengan imajinasi dan emosi, tetapi juga berisi hal-hal yang tak disangka-sangka sehingga membuat karyanya secara bersamaan disorientasi dan menyegarkan.
    
Selan itu, Transtomer yang terkenal di kawasan Skandinavia itu disebut-sebut master of mysticism, selalu mempersembahkan kesadaran seperti mimpi. "Sebagian besar koleksi puisi Transtroemer berciri ekonomi, hal-hal konkret, dan metafora. "Transtroemer telah beralih menuju format yang bahkan lebih kecil dengan derajat konsentrasi lebih tinggi," tutur salah satu juri.
    
Di sisi lain dalam jumpa persnya, Transtroemer yang murah senyum mengatakan bahwa hadiah yang diberikan terhadapnya terasa "sangat istimewa". orang Swedia ketujuh yang meraih hadiah bergengsi itu, akan menerima hadiah senilai 10 juta kronor Swedia (1,48 juta dollar AS atau 1,08 juta euro) pada acara penyerahan di Stockholm pada 10 Desember. Sementara istrinya, Monica, menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan karena suaminya menderita stroke pada 1990, yang menyebabkan kemampuan komunikasinya terganggu.


Uniknya sekretaris tetap Swedish Akademy, Peter Englund, mengatakan kepada televisi Swedia bahwa Transtroemer telah dinominasikan untuk hadiah itu setiap tahun sejak 1993.    
Oleh karenanya "Karyanya tentang kematian, sejarah, dan kenangan, melihat kita, menciptakan kita, dan membuat kita penting karena manusia bagian dari penjara tempat semua entitas besar bertemu," kata Englund kepada laman the nobelprize.org.
    
Sementara buku-buku kumpulan puisinya antara lain The Great Enigma: New Collected Poems (New Directions, 2006), The Half-Finished Heaven (2001); New Collected Poems (1997); For the Living and the Dead (1995); Baltics (1975); dan Windows and Stones (1972).


Perkenalan dengan Penyair Amerika


          Dilahirkan di Stockholm tahun 1931, Transtromer dibesarkan seorang diri oleh ibunya seorang guru setelah dia bercerai dengan ayahnya -- seorang wartawan. Dia mulai menulis puisi saat belajar di Sekolah Sodra Latin di Stockholm dan mencapai debutnya dengan koleksi "Seventeen Poems" pada usia 23 tahun setelah itu sejak tahun 1950-an, Transtromer berteman akrab dengan penyair Amerika Robert Bly, yang mengalihbahasakan banyak karyanya dalam bahasa Inggris dan beberapa Karya-karyanya telah dialihbahasakan ke lebih 50 bahasa.


Dengan demikian kita dapat melihat bahwa perkenalannya dengan penyair lain diluar negaranya dapat memberikan seseuatu yang baru, selebihnya dapat menciptakan karya menjadi di baca oleh semua orang, dengan bahasa yang diterjemahkan, tentunya ini faktor lain mengapa Transtomer mendapatkan hadiah tersebut.


           Dari perhelatan tersebut, ada pertanyaan kapan Indonesia akan menyandang gelar tersebut? Ya sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan, selama karya sastra Indonesia telah dan dapat dibaca oleh orang dunia, dengan cara titik perantaranya adalah penerjemah. Kita sebagai masyarakat tidak hanya sebatas mengkonsumsi karya dunia, tentu kita juga harus di konsumsi oleh dunia.


Oleh karenanya dari hadiah nobel sastra tersebut dapat diambil beberapa point tertentu, semisal apa yang Jose Saramago, sastrawan Portugal pemenang hadiah nobel kesusastraan pada tahun 1998, bahwa karya sastra dunia diciptakan penerjemah, jadi posisi penerjemah sangat berperan penting untuk membuat karya sastra menjadi dibaca dan terpahami oleh dunia, sebab biasanya karya tersebut telah di alihbahasakan ke bahasa Inggris.


Pada titik inilah, sementara puisi “sang surealis” itu akan dinanti pasar pembaca sastra khususnya di Indonesia, karena akan diterjemahkan dan beberapa penyuka puisi sudah  mencoba menterjemahkan itu, lihat saja di internet-ruang-ruang maya, puisi Tranformer sudah mulai diterjemahkan, kita akan selalu menunggu akan terjemahan dari karya yang tentunya berkualitas, semoga dapat menjadi pelajaran.


*Oleh. Pungkit Wijaya, Penulis, penikmat puisi dan sedang menulis skripsi, bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung.

Sabtu, 19 November 2011

Kisah si Periang 1


Saat matahari mulai mendaki
Keramaian yang sudah tidak asing lagi
Untuk kita nyatakan dengan teriakan

Disana, di suatu ruang yang menjulang
dimana orang-orang saling memberi
Dan mengisi dirinya dalam kehampaan

Hiruk pikuk para penduduk tak tertunduk
Sorak sorai kegembiraan melengkapi
Terik cahaya matahari satu-satunya
Yang tak kita pedulikan.

Hanya satu titik yang ada dalam kepala.

Tiba-tiba terdengar teriakan
Gemanya menembus perasaan yang bimbang

Kuingat lagi pesan- pesan sang rembulan.

Penghuni malam sunyi
Penunggu lautan tak bertepi.
Menjadi awal peristiwa tertutupnya langit biru
Oleh gumpalan asap hitam.
Disini..
Diruang waktu tak bertepi,
Tersimpan kisah si periang
Yang hidup diselimuti kegelapan.

Ombak-ombak menghantamnya bertubi-tubi
Menyayat bagai tikaman ribuan belati
Maka Butiran air nyeri menetes tak berwujud

Aku ambruk dalam getarannya, terperosok
dari tetesan butir air nyeri yang jatuh perlahan.
Terperosok dan terjerembab tak tertahan !

Bara api dari dasar laut Merayap,
menghasut keheningan

Tapi sepatah kata demi kata menyelinap
kedalam telinga dan tungku-tung
kumemadamkan api dasar lautanku

Menghentikan getaran bumi yang sakit
dan bintang-bintang yang menganga Penuh tanya.

Menyiasati keindahan alam.

Sang rembulan tersenyum
cahayanya memancar dan memantul lagi.
Suasana bumi dan langitpun
terasa Keramahannya

Maka lautan semakin sunyi
Dan begitu indah untuk kita jelajahi


2011

Saeful Mustofa lahir di Bandung 12-06-1993. Tercatat sebagai mahasiswa jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

Jumat, 14 Oktober 2011

IDENTITAS


Pada suatu hari di pameran lukisan, Saya melihat drawing karya seseorang yang tentu saja saya kenal orangnya. Saya melihat drwaing tersebut, sebuah patung liberti berwarna hitam dan biru, tetapi tidak seperti laiknya liberti yang sebenarnya, pelukis tersebut mengganti obor yang di usung tangan kanannya oleh sebuah pot bunga. Mula-mula saya jadi ingin tertawa melihat karya tersebut sambil bertanya,
“kenapa ya, ko obornya di ganti oleh pot bunga”.
sambil melihat-lihat lukisan lain di sekitar dinding itu saya membayangkan drawing tadi, dan tiba-tiba ada seorang teman untuk mengajak ngbrol dengan sendirinya saya lupa dengan drawing itu dan keasyikan mengobrol sampai pulang.

Berangkatlah saya ke tempat Tolabul Ilmu, tempatnya lumayan cukup jauh dari tempat menitipkan baju dan sepatu, tentu nya saya di perjalan sebelum tiba di sana sempat berpikir

“ jikalau menuntut ilmu mendapat pahala, apalagi jauh tempatnya wah, pahalanya juga pasti di tambah”
Namun dengan jarak 15 menit saya pun tiba di sana. Dengan panas dan penuh keringat memenuhi tubuh saya kembali bertanya
“ memang siapa yang akan menambah pahalanya, meskipun tempat tolabul ilmu saya jauh dan sedikit menguras keringat dan mengeluarkan kocek uang”
Sambil menghela nafas, Saya memang seorang mahasiswa yang “tidak disiplin” katanya, memang itu kata seorang dosen,
“sudah datangnya kesiangan ke kelas lalu tidak memakai sepatu dan berpakain tidak rapih”
Memang waktu itu saya tidak mekakai sepatu, hanya memakai sendal saja dan memakai pakaian seadanya. sebelumnya memang saya tidak mandi karen di kostan stok air sedang habis jadi ya seadanya sajalah, tetapi yang penting gosok gigi agar tak bau nafas.
fikir saya begini
“ yang penting gosok gigi meskipun tidak mandi asalkan jangan korupsi tetapi harus berbaik hati. 
Setelah itu, saya duduk di bangku sambil menyadari kesalahan saya sebagai mahasiswa yang “tidak disiplin” atau setidaknya tidak mematuhi aturan perkuliahan yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saya tidak memperhatikan dosen tersebut ketika menerangkan mata kuliah tersebut, pikiran malah terus bertanya-tanya, sebenarnya aturan mahasiwa harus memakai pakaiain rapi itu dari mana dan apabila saya hanya memakai kain “ sarung” saja ke kelas akan seperti apa, dengan itu sebenarnya pola pemikiran dari mana sich, dan terus bertanya, pikiran saya kadang jalan-jalan ke alun-alun Bandung yang katanya sich kota mode “ faris Van java” gitu loh, terus pikiran berjalan-jalan ke tempat di kampus yang sedang di bangun, lebih teapatnya sudah retak gitu dech, nah tiba-tiba saya teringat perkataan teman saya yang tampan dari Milenia Corporation tepatnya Cileunyi Group ia memang pengusaha Counter. di samping itu, ia punya media juga, ia sempat berkata begini
“ ah saya mah kalau kuliah mau pakai peci hitam saja”
mungin saja, saya pikir ia alumni Pondok Pesantren, ah saya semakin pusing saja bila berjalan-jalan terus, sudah lah saya tidak mau mengingat itu lagi sambil jam mata kuliah sebentar lagi selesai.
Memang semua harus di pertanggung jawabkan.
Setelah ucapan teman saya di atas, ia bertanya kepada teman saya yang satu lagi. Begini katanya “ kenapa rambutmu gondrong, kamu harus mempertanggung jawabkanya juga lho”dan mungkin ada yang lebih bijak juga kata teman saya juga si tampan dari milenia itu tadi. nah ketika saya katanya ditanya oleh ayah yang budiman setelah kuliah begini
“ ayah, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi”.
Ya, begitulah hidup memang penuh pertanggung jawaban. Ketika seorang pemuda menteskan airmani pun harus tanggung jawab apabila kekasihnya hamil. Nah saya kembali lagi memperhatikan dosen tadi sambil menggerutu dalam hati
“ pak, bapak juga harus bertanggung jawab juga, karena hidup ini tanggung jawab”

Memang tidak seperti halnya kata temen saya “udunan adalah jiwa” jikalau bapak dosen keilmuan sastra ya harus tanggung jawab kepada sastra itu sendiri dan kepada mahasiswa sastra tersebut. Saya sebenarnya ingin mendebat dosen tersebut, tetapi ya sudahlah, mau gimana lagi mahasiswa yang “tidak dispilin”  dilarang berbicara. Jadi sama saja ya \saya andaikan “ orang miskin dilarang sekolah dan buang sampah”, nah maka dari itu apakah pendidikan hanya di nilai dari bungkusnya saja tetapi isi kacangnya tidak pernah di buka apalagi di makan, karunya atuh si kacang. pengandaian yang sederhana dari teman saya ketika ia memang mahasiswa tidak disiplin juga atau interdisiplin.

Mmengapa begitu karena bergelut di tiga dispilin ilmu sekaligus atau kalau bahasa teman saya yang satu lagi begini “menyelam sambil minum air, sudah minum air terus sambil mencari karang juga. dengan itu, pertama mempelajari pendidikan, jurnalistik dan sastra, kalau saya golongkan ia sudah mendapat gelar Fropesor sekaligus, "edan kan” bayangin aja.

Tetapi setelah adzan ashar membalut kota, aku menulis catatan ini dengan segelas kopi dan sebatang rokok sambil mendengarkan lagu “kopi lambada”, aromanya asmara dan nikmatnya membara, asyik juga ya walaupun perut keroncongan, bahwa menulis itu asyik dan lebih asyik, lebih daripada jadi politikus.

Kembali lagi ke cerita awal tentang drwaing lukisan yang mengganti patung liberti pake pot bunga, jadi menurut saya fenomena “tidak disiplin” memang kita dapati dalam kehidupan di abad ini, nah maka seorang kretator lukisan syah-syah saja menggantinya juga atau tidak disiplin, semisal sekarang banyak kiai yang menjadi politisi, ada juga lulusan Ilmu Hukum menjadi sastrawan begitu pula lulusan dokter, ada yang menjadi penulis puisi dan penyanyi dan aktris ibu kota begitu pula dengn saya seorang mahasiswa jurusan Cicaheum-Garut ( elf) hehe, maksudnya jurusan sastra tetapi menjadi tukang gorengan sampeu. mungkin itulah sejumlah contoh orang yang tidak disiplin menurut saya.

Sambil menyambut nadoman saya membayangkan begini jikalau MUI (majelis umat islam) mengeluarkan ftawa seperti “ menulislah walau satu ayat, kalau tidak menulis haram dan tidak diakui sebagai umat” itu akan seperti apa, umat islam indonesia. 

Semisal ketika jurusan sastra pasti mengkaji karya sastra dan sejumlah perkembangannya, biografi pengarang dan banyak lagi teus semisal jurusan ilmu hukum mengkaji tentang UUD 45 dan jurusan pendidikan mempelajari metode pengajaran atau ekonomi islam mempelajari teori berdagang ala Rasululoh Muhamad S.A.W. nah maka selayaknya jikalau dan sebaiknya pula ranah keilmuan tersebut mampu “disiplin” mengapa? ya jikalau jurusan Ilmu Hukum pastrilah ada dari staf pengajarnya yang menjadi konsultan hukum atau pengacara dan mahasiswnya juga kalau ada, lalu jurusan pendidikan begitu pula dengan sastra maka seharusnya “disiplin”. jikalau memang “disiplin” atau bahasa kerenya dari praktisi menuju akademisi dan dari akademisi menuju praktisi, apa salahnya jika kita mencoba berkolaborasi, mahasiswa sastra menjadi pengacara dan mahasiswa pendidikan menjadi Advocakat, apa itu “tidak disiplin?

Catatan : maaf apapbila ada nama, tokoh dan setting yang sama ini tidak kesengajaan ini hanyalah karya fiksi.

Pungkit Wijaya, penikmat kopi lambada.

KUNANG-KUNANG KEMATIAN


Di kampungku—yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang yang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.

“Apa orang yang baik tidak butuh cahaya? Apakah cahaya sudah ada melalui amal baiknya? Sedangkan yang tidak baik masih membutuhkan cahaya, bukan melalui amal baik malah dari cahaya kunang-kunang?” tanya salah seorang warga, beberapa hari yang lalu.

“Cahaya kunang-kunang itu berasal dari zat luciferin, mungkin ada hubungannya dengan Lusifer para setan neraka.” jawab Pak RT.

“Berarti bila kita mati nantinya akan menjadi iblis toh?” ia kembali bertanya.
“Bila sampean mati membawa amal buruk pasti bakalan seperti itu.” timpal yang lain.
“Tidak baik percaya sama tahayul.” bantah seseorang yang tidak setuju.
“Sampean tak percaya? Kualat loh!”
“Manusia dan iblis itu beda, tapi sama-sama mahluk ciptaan Gusti Allah!”
“Mbuh!”

Pada waktu itu aku tidak ikut melibatkan diri dalam obrolan-obrolan mereka, padahal mereka selalu sibuk membicarakannya bila ada warga yang mati. Dan entah sejak kapan mitos itu ada di kampungku, mungkin pada zaman dulu para leluhur jawa kuno selalu mengingatkan untuk melakukan amal baik terhadap sesamanya ketika hidup, dan bila matinya meninggalkan amal buruk maka kukunya akan menjelma kunang-kunang untuk mencari cahaya setelah dikubur. 

Dan sekarang hampir semua warga—dari mulai anak kecil, dewasa, hingga para orang tua—sudah tidak asing lagi untuk mengetahuinya.
Malam ini di luar nampak rembulan telah matang, langit semakin gosong, di sana ada ribuan bintang bercahaya seperti segerombolan kunang-kunang beterbangan di pekarangan rumahku, seolah ada yang mengundang kedatangan mereka. Lantas siapakah orang itu? “Apakah sekarang ada warga yang mati dengan buku catatan amal di tangan kirinya?” tanyaku dalam hati.

Kunang-kunang itu masih berkeliaran di antara pepohonan, tanah tandus yang di penuhi rimbun semak, bahkan ada satu kunang-kunang yang hinggap di jendela kamarku, lalu ke tanganku, sepertinya ia menyukaiku, atau akan menjemputku pada kematian. Pasalnya, selain mempercayai mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati, orang-orang juga percaya bila ada salah satu warga yang dihinggapi kunang-kunang maka ia akan mati. Kunang-kunang itu penjemput kematian.

            Aku tidak begitu percaya pada yang namanya mitos. Tahayul. Mungkin karena sewaktu kecil aku rajin mengaji, ilmu yang pernah aku dapat bahwa orang yang mati arwahnya langsung ditempatkan oleh Tuhan, entah dimana, aku lupa lagi, sebab sudah sepuluh tahun aku tidak menuntut ilmu agama. Aku malu pada namaku yang selalu di sebut-sebut sebagai jawara kampung tak terkalahkan di usiaku sekarang yang masih berumur 27 tahun. Hingga namaku kian santer terdengar ke kampung-kampung lain.

Yadi Jopang, begitulah mereka menyebut namaku. Ketika nama itu disebut, orang-orang yang mendengarnya pasti bakal menutup pembicaraan mereka lalu pergi dari orang yang menyebut namaku. Atau mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka bila aku berteriak-teriak di sekitar kampung pada larut malam yang tengah menikmati minuman memabukan. Di telinga mereka, suaraku bagaikan aungan singa jantan yang hendak berburu karena kelaparan.

Mereka mulai segan dan takut padaku ketika pada suatu hari di kampungku pernah terjadi sebuah bentrokan warga antar kampung. Kala itu kampungku diserang warga kampung sebelah. Mereka datang dengan membawa berbagai parang ditangannya. Penyebabnya berawal ketika Taryo, salah seorang warga kampungku yang kepergok sedang bergumul dengan istri warga kampung sana, dan bukan untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Aku sebagai sahabat Taryo tentu membelanya, dengan cara melawan warga kampung sebelah dan bisa mengalahkan mereka yang membawa kapak atau sebilah belati hanya dengan tangan kosong.

Ternyata senjata mereka tidak bisa melukakiku, hanya rasa gatal saja ketika para jawara kampung lain pernah menancapkannya ke leherku. Kenapa? Sebab sudah lama aku menuntut ilmu kanuragan pada salah seorang dukun. Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan. Bila mematuhi semua syarat itu, maka hanya dengan membacakan mantra “Yaahu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den keya keris mengkana landhepe tangan ingsun” lalu tangan kanan menggebrak tanah, seketika itu puluhan lawan akan terpelanting, kocar-kacir tak karuan.

Lamunanku dikejutkan oleh Joko, sahabatku yang berbadan gemuk dengan di penuhi tato menjarah di kedua lengannya. Ia datang dari balik jendela dengan raut muka yang pucat menjadi seperti warna lampu neon kamarku. Langkahnya yang terburu-buru dan napasnya masih terengah-engah, aku tahu ia pasti membawa kabar buruk.

“Yadi, kampung kita digegerkan dengan kematian Taryo.” katanya yang berdiri di ambang jendela terbuka.
“Apa! Taryo mati? Tapi mengapa kematiannya begitu menggemparkan warga kampung?” tanyaku dengan mata melotot dan terkejut.
“Kematiannya itu telah mengundang banyak kunang-kunang, mereka takut dijemput kematian.” jawab Joko.
            “Ia mati kenapa?” tanyaku lagi.
            “Dikeroyok warga kampung sebelah karena selalu menjaili wanita sana,” jawab Joko. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Sebagai sahabatnya, apa yang harus kita lakukan?”
“Entahlah,” jawabku yang masih tak percaya keadaan ini.

Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.
“Lebih baik kita bunuh saja warga kampung sebelah, kita harus balas dendam!” katanya lagi antusias.
“Kau saja, aku takut seperti Taryo!”
“Kau takut mati? Bukankah kau tidak bisa dibunuh!” tanya Joko kembali.
            “Tadi ada kunang-kunang hinggap di tanganku, aku takut kunang-kunang itu penjemput kematianku.”
“Ha ha... Goblok! Mati itu di tangan Tuhan, bukan melalui kunang-kunang!”
            “Jangan bicara Tuhan, hanya mengingatkanku pada kematian!” kataku dengan nada menggertak. Lalu ia beralasan:

“Bukankah tubuhmu kebal terhadap senjata? Dulu pun kau bisa mengalahkan sepuluh jawara yang membawa parang hanya dengan tangan kosong.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum kecut lalu menengadahkan kepala  ke atas dengan menggertakan gigi, dan mengepalkan tangan.
***

Siang yang panas, cuaca begitu terik membuat wajah orang-orang menjadi seperti pantat kunang-kunang yang bercahaya, dan rawa-rawa telah lama mengering. Tapi tidak pada suasana rumah Taryo yang sedang berkabung. Isak tangis, derai air mata, masih mengalir dari para keluarganya. Ia yang semasa hidupnya lekat dengan dosa, kini telah berpulang meninggalkan dunia. Aku berada di rumah kecil itu bersama Joko, sekadar mengucapkan kalimat bela sungkawa, dan mengamati para pelayat dengan wajah yang di sedih-sedihkan. Aku tahu kesedihan mereka bukan karena kematian Taryo, melainkan karena kegelisahannya terhadap kunang-kunang. Bahkan secara tak sengaja kami mendengar dari salah seorang pelayat mengatakan bahwa kematian Taryo hanya penyebar kunang-kunang.
“Nanti malam pasti kunang-kunang akan semakin banyak berkeliaran, mengingat kelakuan Taryo yang tidak baik, pasti ia membutuhkan banyak cahaya, semoga tidak hinggap pada kita saja, kunang-kunang itu penjemput maut.” kata pelayat itu.

“Lebih baik kita musnahkan saja mereka, biasanya mereka bersarang di tempat-tempat yang tandus dan berawa.” jawab yang lain.
“Tapi alangkah baiknya bila kita berdoa untuk Taryo, kasihan!” aku menimpal obrolan mereka. Namun sepertinya ucapanku itu tak dihiraukannya.

 Jujur, aku sedikit emosi, apalagi setelah mendengar dari omongan seluruh warga, ternyata mereka telah sepakat nanti malam akan menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Lantas bagaimana acara tahlilan dan yasinan? Bukankah warga kampung mempunyai tradisi setiap malam mendoakan orang yang mati supaya arwahnya merasa tenang? Apakah menangkap kunang-kunang lebih penting ketimbang mendoakan Taryo? Bila mitos kunang-kunang itu memang benar, dan tak ada yang berkeliaran, mungkin ia akan kekurangan cahaya di alam sana.
“Setuju...”
“Kami semua setuju…”
“Malam ini kita harus menangkap semua kunang-kunang!” teriak semua warga bersamaan.
            “Basmi...”
“Bunuh...”
“Basmi semua hingga tak tersisa. Kami tidak ingin mati!”

Aku mendengar kerumunan warga yang berteriak di lapangan. Sepertinya kunang-kunang sudah mereka anggap sebagai Tuhan, mereka pikir kematian bukan lagi kehendak Tuhan, mereka sudah terlalu mempercayai mitos itu. Namun satu pertanyaanku, bila kunang-kunang berhasil dimusnahkan, apakah mereka bakal terhindar dari kematian? Bakal hidup abadi? Mereka menganggap Tuhan sudah mati. Bahkan Taryo yang telah mati pun mereka anggap sampah; penyebar bencana; pembawa sial; dan itu yang membuatku benci kunang-kunang. Aku tidak akan mati meski dihinggapinya. Hidup dan matiku kehendak Tuhan.

***
            Malamnya aku datang membalaskan dendam pada kampung sebelah, melakukan kerusuhan dengan melemparkan api ke rumah-rumah warga kampung itu yang terbuat dari bilik kayu dan mudah terbakar, membuat kampung itu menjadi merah, seperti neraka, api di mana-mana, dan tentunya hati mereka pun terbakar dengan mengacung-acungkan ancam sebuah parang ke arah kami.
“Tangkap mereka…”
“Kita bunuh mereka…” teriak seluruh warga.

Mereka berlari mengejar kami, seperti halnya warga kampungku yang sekarang sedang menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Melihat situasi seperti itu, raut muka Joko menjadi pucat, bahkan aku sendiri pun langsung berlari menjauhinya, dan melesapkan diri di balik semak tak jauh dari sana. Entah kenapa kekuatanku tidak lagi melindungiku, hanya darah yang bercucuran di mana-mana: kepala, tangan, dan baju yang aku kenakan pun robek terkena sayatan sebuah belati.
“Apa karena siang tadi aku menginginkan warga kampungku supaya mendoakan Taryo? Tentunya meminta kepada Tuhan.” bisikku dalam hati. Tanpa sadar aku telah melanggar pantangan dari dukun itu dan kembali mengingat Tuhan.

Di balik semak-semak itu aku hanya bisa mendengar suara Joko yang melolong kesakitan meminta pertolongan: Aduh, ampun, sakit, hentikan, dan terakhir ia berteriak memanggil namaku. Dan setelah itu hening, tak ada suara. Sial. Kenapa di saat seperti ini kekuatanku malah lenyap. Aku hanya bisa bersembunyi ketika sahabatku dikeroyok, mungkin hingga tewas. Kurasakan lututku bergetar, mungkin aku juga takut, pastinya setelah ini giliranku yang menjadi santapan para warga yang geram dengan parang tajam di tangan mereka. Sekelimunan orang masih mencari tempat persembunyianku. Aku membayangkan apa jadinya bila aku tertangkap? Mungkin tubuhku diseret, pentungan dan parang tajam akan mendarat ke tubuhku—bernasib sama seperti Taryo dan Joko—mati di tangan amukan massa.

“Apakah aku akan mati di tangan mereka?”
“Apakah kematianku telah di jemput kunang-kunang?”

Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang sekarang sedang berkecamuk di pikiranku. Aku berharap mitos itu hanya bualan belaka. Aku tidak ingin mati. Kini yang aku bisa hanya meminta perlindungan Tuhan, bukan pada kekuatan yang tiba-tiba hilang. Aku mengintip mereka melalui celah semak-semak, jumlahnya sangat banyak, mungkin ada puluhan orang yang membawa parang serta pentungan yang siap di arahkan pada tubuhku. Inikah yang di rasakan Taryo dan Joko? Menikmati saat terakhir menghela napas dengan penuh dosa. Kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah di hinggapinya. Dan bila aku mati disini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku.

Sumedang, 19 Juli 2011

Oleh Ihsan Taufik Hidayat. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Menulis puisi dan cerpen. Bergiat di Komunitas SASAKA

ABAD YANG LAIN


seekor anjing yang setia menunggu di mulut goa
bersama para pemuda yang resah

sesekali ada berita dari langit
tentang bisik yang gaib
sampai mereka tertidur lelap
dalam sunyi yang terjaga

“hai tuan-tuan apa yang kau lakukan?”

tak ada jawaban
hanya gamis dan kain yang menua
logam usang tak bisa ditukar

siapa yang bisa menghitung detik
dari malam-malam yang hilang

mereka terbangun dengan janggut dan rambut menggumpal
seseorang lantas pergi ke kota
iman sudah dimana-mana
orang-orang menjadi karib yang baik

“tuan kau  berada di abad yang lain”

ia menundukkan wajah
mencoba memutar ulang ingatan
ia kembali ke goa
dan menemukan enam lelaki
sudah tiada bernyawa
seekor anjing entah kemana

“tuhan masihkah aku beriman?”

Juni 2011

Oleh Miftahul Khoer (Miko Alonso) Senang Menulis Puisi, Cerpen dan Esai. Bergiat di Komunitas Kabel Data. Sedang sibuk menjalani olah jiwa.

Selasa, 11 Oktober 2011

PUISI, POLITIK, DAN PEREMPUAN CANTIK


Ayo, kenakan sepatumu/ jalanan menyiapkan debu dan kelu.
(Bambang Q-Anees)

Mari kita mulai dengan rendezvous, kenapa puisi itu mirip politik? Lalu apa hubungannya dengan perempuan cantik? Menurut pengamatan saya begitu jelas hubungan ketiga makhluk tersebut, saling bertautan satu dengan lianya, ketiganya sering bertemu dan menimbulkan energi puitik. Lalu ketiga hal tersebut semuanya harus sensual, gemulai, meliak-liuk, ada juga yang mengentak, relasi dari ketiganya harus soal bagaimana bisa menyihir, puisi harus memberikan makna mendalam kepada pembaca, politik harus membelai rakyat, begitu pula perempuan cantik harus menyihir para penyair dan politisi,(sedikit mengenang) semua itu serba memakai sesuatu yang konotatif dan tentunya syarat dengan pelbagai kepentingan. Bahkan Goenawan Moehammad dalam catatan pinggirnya menulis bahwa Richard Nixon, seorang politisi Amerika berpidato itu mirip puisi, tetapi apa yang di katakan Nixon bukan puisi tetapi ia tetap seorang politisi.

Setelah itu, mari kita lihat apa bedanya para penulis puisi (penyair) dan politisi khususnya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kenyataanya puisi dan politik sering berbenturan, puisi bisa saja melawan, menolak, bahkan menyerukan politik, sampai-sampai banyak tema dari puisi membentak para politisi, penyair mengungkapkan ekspresinya lewat puisi, tentu saja mereka peduli terhadap perkembangan politik, politik menjadi tema dalam sastra, dan penyair Wiji Tukul selalu mengingatkan kita “hanya ada satu kata, lawan!”

Di sisi lain berbeda jika menohok para politisi khususnya yang tergabung dari pejabat kampus, mereka bisa jalan-jalan( studi banding) didanai kampus dengan dalih-dalih merumuskan undang-undang kampus, yang belum tentu seluruh mahasiswa mengetahuinya, sampai-sampai keadaaan perpolitikan kampus karut-marut hingga sampai saat ini belum ada kejelasan, belum lagi perebutan proyek kekuasaan, bagaimana nasib mahasiswa sekarang, seharusnya politisi kampus memikirkan dan membebaskan tahanan (mahasiswa atau mustad’affin) dari belenggu jeruji besi. Berbeda dengan penyair (penulis puisi) di kampus, belum tentu bisa seperti itu jalan-jalan didanai oleh kampus. Padahal penyair selalu memikirkan kampus, selalu memikirkan nasib mahasiswa (menjadikanya tema dalam puisi).

Oleh karena itu dalam benak saya bertanya-tanya, apakah para para politisi kampus akan peduli terhadap puisi? Sebuah keniscayaan, sebab puisi ditulis berdasar dengan ketulusan hati (AZN), jikalau politik syarat dengan kepentingan, dalih-dalih dalam politik ada anekdot “kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan” begitulah politik, tak menguntungkan Ya, tidak jadi kawan, kacian deh loe! Eh, padahalah media ucapnya sama, yaitu kata-kata (jika kampanye atau lobi-lobi). Seharusnya politisi mencintai puisi, mereka sering puitis lho, ayo coba ketika pencalonan, seribu janji membuai tehadap rakyat kampus, padahal itu konotatif, bermakna ganda, terkadang menimbulkan metapor, menimbulkan banyak pesan, terkadang tidak tertuju terhadap makna aslinya. Bahkan terlaksana atau tidak itu urusan belakangan.

Pada sisi lain juga, puisi sejak zaman dahulu kala telah ada, ia menjadi semacam tradisi lisan bagi masyarakat sebelum mengenal tulisan, pada zaman Yunani kuno hingga ke peradaban Romawi, Persia puisi tidak pernah absen. Begitu juga politik selalu beriringan, selalu berdampingan.

Hingga pada masa Arab klasik, di negeri jazirah itu banyak penyair, sampai-sampai Ka’bah, kiblat bagi umat islam menjadi semacam pertarungan antara penyair, puisi yang bagus akan di pajang, mereka sering berkumpul dan membaca puisi (dahulu sebutannya syair), bahkan kitab suci Al-qur’an diturunkan untuk melibaskan, membasmi syair para kaum jahiliah, mungkin tidak salah karena Tuhan sebagai Dzat yang maha puitis. lalu apakah Alqur’an puisi-puisi dari Tuhan itu sendiri? kita bisa setuju atau tidak, kalau tidak setuju maka seyogyanya nagucung di alun-alun.

Uniknya, Sayidina Umar r.a, sahabat rasul pernah berkata kepada Tuhan, ya Tuhan kenapa bukan aku yang menjadi atau nabi, kenapa Engkau memilih Muhammad? padahal saya penyair, tutur Umar. Bila melihat dahulu kepenyairan begitu dahsyat dan sangat diperhitungkan bahkan sebagian pakar mengatakan bahwa penyair itu nabi. Beban yang berat coy, jika menjadi penyair. Pantas saja saya melihat kecenderungan di abad ini orang-orang memilih menjadi politisi, ya, kalau menjadi politisi tinggal banyak pencitraan, sedikit gombal dan bisa melobi sana-sini, sambil berbekal ribuan massa. Niscaya Anda akan menjadi-jadi. Slogannya; maju tak gentar memebela yang bayar!
***
Perkembangan puisi di kampus ini memang tak seperti perkembangan politik. Meski adanya jurusan atau fakultas sastra tidak menjadi tolak ukur (menara gading) bagi perkembangan puisi. namun puisi tetap hadir, tetap lahir dan mengikuti semangat perkembangan zamannya, menjadi suara lain atau menurut Penyair Octavio Paz, The Other Voice. Mari kita sedkiti mengenang, dari zaman penyair Bambang Q-Anees sampai ke zaman B.F Syarifudin, dalam genre Sunda ada Liman Sanjaya, punggawa dari Garut utara, periode IAIN, hanya menyebut beberapa nama, hingga saat ini setelah berubah menjadi UIN. Atau sebut saja dari periode K.H Anwar Mussadad(alm) sampai ke periodik Rektor H. Nanat Fatah Natsir, puisi akan terus hadir. Beberapa genarasi pelapis mulai bermunculan, karena proses estafeta kepenulisan puisi harus dilanjutkan, penyair akan hadir, meski tidak banyak, dari sekian ribu cvitas akademika, mungkin hanya ada beberapa, mungkin ini yang mirip dengan konsep kenabian, dan penyair selalu menggemakan takbir, selebihnya sedikit mengutif, puisi jangan dipeti matikan atuh beb!

Puisi harus tetap hidup, jangan mati, proses kepenulisan tetap berjalan meskipun kampus hancur, gedung-gedung dirobohkan, mahasiswa tercerai berai atau menurut pandangan penyair sekaligus dosen Theologi Bambang Q-Annes menyebutnya seperti Yahudi, tersebar di mana-mana.

Oleh karenanya saya tiba-tiba ingin mengutif petikan puisinya berjudul laut, penyair ini menuliskan ,/Masih terasa getar dari bau tanah/langit dan amis laut / dan daratan yang terbakar tak disapa. Itu lah kehebatan puisi meskipun sudah di tulis pada sekitaran 2000 makna dan suasana dari puisi tersebut seakan aktual, bisa dikontekstualkan dengan keadaan kampus, liat kampus UIN seperti daratan yang terbakar tak disapa.

Lalu dalam larik selanjutnya di tulis, “Apa yang kau bebaskan Hanoman, waktu telah menindas jarak”. sebagai pembaca saya diingatkan kembali kepada sosok Hanoman atau juga ini alusi, dalam puisi tersebut si ‘aku” lirik di lukiskan sebagai hanoman yang membantu Rama ketika membebaskan perempuan cantik yang bernama Sitta, yang diculik Rahwana, “waktu telah menindas jarak”, dalam arti tidak ada kesempatan lagi, sudah terlalu lama, Sitta telah menunggu untuk dibebaskan, lirik selanjutnya “tetapi ia, juga kamu tak tahu/ bahwa sitta telah menemukan waktu dalam api/.

Ada penggambaran peristiwa, sehingga membaca puisi tersebut, bagi saya menimbulkan banyak metapor, tafsir menjadi luas, bisa dari berbagai pendekatan, bisa didekati dari sudut mana saja. Selanjutnya saya ingin menafsir, bagaimana waktu diibaratkan dengan api, mungkin semakin lama, semakin panas, atau lebih tepatnya menunggu itu hal yang membosankan, hal yang bisa membuat pori-pori tubuh seperti terbakar.

Dengan demikian, pada zaman ini saya mengambil makna dari tokoh Hanoman dari puisi Bambang Q-Annes itu dengan konteks zaman edan ini, dan mulai bertanya masih adakah sosok seorang yang mirip Hanoman di hari ini; perasaan yang tulus, pengabdi terhadap Rama, seorang pembebas, maksud saya di sini orang yang benar-benar tulus membebaskan.

Dalam ceritanya, Sitta digambarkan seorang perempuan cantik, berhidung mancung, ketika tersenyum mirip dalam iklan pasta gigi, saya membayangkan ia mirip foto model atau pragawati dari daratan Hindustan. Karena perempuan cantik harus dibebaskan, kebanyakan dalam dunia cerita, tokoh perempuan cantik menjadi sandera politik, sebenarnya saya melihat cerita antara Rahwana dan Rama sebagai peristiwa politis, memang motif pelebaran cerita digambarkan melalui penculikan Sitta, namun di sisi lain saya melihat itu sebagai perebutan kekuasaan atau politik. Atau kelakar saya jangan-jangan penyair Bambang Q-Annes sempat membebaskan perempuan cantik? Ya, bisa saja jikalau dilihat dari aspek sosiologis namun sebaiknya tidak membahas itu.

Begitulah sementara dalam tulisan yang dihidangkan kepada pembaca khususnya di kampus UIN, dalam pandangan yang tidak disertakan berbagai referensi ini, bahkan membingungkan membacanya karena tak usai, perihal sengaja, syukur-syukur bisa berlanjut menjadi bahan diskusi. Namun kembali pada persoalan puisi, politik dan perempuan cantik, memang banyak sekali tema, atau keterkaitan terhadap persoalan tersebut, atau selamanya perempuan cantik yang sensual, lengkung bibirnya tipis, alisnya hitam agak tebal, akan terus menjadi tema para penyair dan politikus? coba sejenak kita bayangkan di siang rindang, matahari belum terkudeta, angin membelai daun-daun, kau duduk di bawah pohon rindang (DPR), kau melihat perempuan berkerudung merah jambu, hidungnya mancung, tingginya semampai, leluk tubuhnya mirip pragawati Paris atau foto model dari Italia, atau sebut saja perempuan Cileunyi rasa Itali, akan timbul puisi atau tidak? selajutnya apakah UIN masih tetap seperti itu, akan tetap selamanya menjadi rumah perkutut dan para dewa!

Oleh Pungkit Wijaya. Bergiat di konsorsium sastra UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

KOTA INI


Hari menjelang malam adalah rombongan pengantar jenazah, dengan seragam serba hitam mereka berjalan pelan.
“Jasad siapakah yang kalian antarkan?” Tanyaku.

“Ini jasadmu, kawan. Sekarang Jum’at malam.” Jawabnya dingin. Ah, aku teringat pemuda Kafka itu, yang memasuki lubang kuburan setelah membaca namanya tertera di batu nisan.
Jum’at menjelang malam adalah ketika biasanya aku pulang dengan perasaan penuh. Rutinitas telah tandas dalam laporan mingguan, meski masih ada ini itu di pundakku, aku sampirkan untuk dilampirkan minggu depan. Pun hari ini.

Kamarku, masih seperti saat kutinggalkan pagi tagi. Apa-apa bergelatakan, rasa bosan yang sulit kurapikan. Biasanya, sebelum pulang aku berbenah. Untuk Senin nanti, menyiasati semangat dengan kerapian berapi-api. Tapi sepertinya tidak kali ini, meski sapu lidi sudah naksir berat pada karpet; puntung-puntung rokok, debu-debu, sampah kertas dan plastik. Kali ini keletihanku tidak merestui. Hanya seperti kubiarkan semula. Hanya cucian yang kubawa, beberapakali aku bawa pekerjaan pulang. Hasilnya pundakku mengalami nasib malang.

Aku memutar kunci dengan tangan berkeringat. Bukan meninggalkan kota ini terasa berat. Keharuan yang entah darimana meninggalkan kota keranjang rutinitas yang entah dengan cara apa harus kucintai. Mungkin, hanya teringat seseorang yang sempat mencintaiku tanpa cara, tanpa bicara. Biasanya besok pagi aku temui. Tapi bagaimana mungkin cinta seperti itu, bukankah gambaran dari bentuk cinta itu bersudut, sedangkan kita membayangkan dunia adalah selingkar penuh? Ah, aku hanya akan pulang. Dengan kekosongan.

Di kursi tiga dekat jendela, hunian idaman selama ini. Tas kusimpan disampingku, benteng pertahanan yang paling kuandalkan. Ah, kerandaku beroda. Rombongan pengantar jenazah itu semakin penuh mengantarku, dalam setengah jaga. Tiba-tiba aku ingin bertanya pada Jum’at malam yang mengunyahku.

“Bagaimana rasanya kekosongan, hah?”
Jawabnya adalah lanskap-lanskap di kaca jendela, berlarian dan tersesat dalam labirin bayangan wajah sendiri.

Dua setengah jam perjalanan. Kota yang kutuju, adalah sepuluh tahun yang lalu, pertama ia menyapa telapak kakiku. Kota yang kusangka tidak memungkinkan bagi cinta. Kota dimana jalan raya adalah kesempatan emasmu untuk mampus di tangan remaja pengendara, kota dimana lampu merah berubah menjadi ayah yang menculik anak-anak dari sekolah, sungai di kota ini adalah pawai limbah dan bayi-bayi yang mati kaku, pusat perbelanjaan di kota ini adalah rumah ibadah yang membuat si kapiran-kapiran tertunduk rendah. Di kota ini, orang-orang mengecat rambutnya berwarna-warna, karena mereka telah bosan dengan mimpi yang hitam putih saja; mimpi yang sering diceritakan bapak dan emak sewaktu sarapan itu. Ah, sudah kubilang. Kota ini tidak memungkinkan untuk cinta.

Kota yang menjadi tempat menginapku untuk semalam, sebelum Sabtu mengajakku pulang ke rumah dan kemudian berharap menjelma batu. Kota yang dimana cinta kadang seperti pasukan tentara, menyergap lalu melemparku semena-mena. Berkali-kali. Kota yang lampu-lampunya kunyalakan oleh senyuman gadis di Sabtu pagi. Meski di sini hujan lumpur terjadi, mereka tetap akan melahirkan pelangi.
Pukul 22.11. keranda berlabuh. Lampu-lampu di kota ini tanpa nyawa. Harus kunyalakan dengan senyum siapa? Ah, aku hanya ingin istirah dan membasuh lanskap di wajah dengan mimpi paling asing. Lalu, besok aku akan pergi, meninggalkan kota ini dalam sehari.

Cibiru, 05 Maret 2011

Oleh Pow Sirunggawir. Alumni Aqidah dan Filsafat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sekarang sedang sibuk membangun kerajaan di Empires and Allies

MENCARI MAKAM BUNDA


/1/
lalu kau tuntun aku ke surga, sore itu. rumputan tegun
dan hanjuang sungsang mencerna merah gamismu.
langkahmu penuh, genggammu teguh: seolah mengajariku
agar kukuh pada tempuh. “demikian hidup,” katamu suatu kali,
“adalah ketabahan memenuhi janji.”

sementara jalanan dikukus kering: kampung tak lebih dari
jejer jemuran. orangorang serupa menolak halaman,
mungkin tak akrab lagi dengan penantian. gerimis telah
disangkal musim, namun matamu tetap bening.
maka aku terus merapat ke sampingmu:
langgar tinggal seinci, condong menuju sepi.

kau lantas mengalunkan barzanji. sementara aku iri:
mengapa anakmu tak pernah disebut namanya?
aku lalu meneguhkan hati, barangkali itulah caramu
memanggilku. “Tuhan tak bobo, nak,” katamu.
namun rupanya jemaatmu terlambat. mungkin benar,
iman itu serupa iuran, tergantung angka berapa
almanak menunjuknya.

sore menyorong senja ke sirna, pertanda jemaat
tak bakal mendekat. tapi kau sabar seperti megamega:
menekuni mushaf dari alif hingga ya. jendela harus
segera dirapat, pertanda jemaat urung menemu wasiat.
tapi kau tabah laiknya ayat: melipatlipat munajat
sampai ke sunyat. dalam kesendirianmu, kulihat takdirmu.

/2/
mungkin kau lupa, surga itu harus megah,
bukan langgar dengan gorden lusuh,
bedug ompong atau bilik bolong,
bukan reuni keluarga atau kolorkolor di jendela.
barangkali kau lupa bahwa selalu ada yang tak tetap
dalam fana, sebab yang kau tahu bahwa kesederhanaan
adalah iman tanpa bandingan.

mungkin kau khilaf, surga itu harus menggugah,
dengan kotak jariyah besar atau keramik mengkilat,
dengan jendelajendela berkacapatri kaligrafi,
dengan lampu mewah dan jadwal terperinci.
barangkali kau lupa bahwa surga juga tergantung
dana kampanye siapa, sebab yang kau tahu bahwa
janji dunia tak sepenuhnya bisa dipercaya.

/3/
magrib hangus ke isya, pengajian tak juga terlaksana.
tumpeng basi, telur dan kentang pasi: damar mengubur
bayangannya sendiri. kau lalu menutup kitab dan merapatkan
kening ke bumi.mungkin menginsyafi bahwa memang
hanya Tuhan saja yang selalu terjaga. jam delapan kurang sepuluh,
kauhabiskan tafakurmu. di langgar reyot itu, aku lalu bersaksi
bahwa tiada surga selain sukmamu. kau lalu menutup doa
dan langgar segera diheningkan.

tapi yang datang malah orangorang bermuka tegang.
aku dilempar ke balik pintu, kutatap, lehermu dicicip gergaji.
“dukun santet! dukun santet!” kudengar bisik keji itu:
kau jadi kedap, aku jadi pengap. perlahan langkahlangkah aus,
aku merayap di atas samak. ada basah berenang ke dada,
kugapai, kau sudah tanpa kepala.

/4/
empat belas tahun berlalu, aku tak pernah paham
mengapa jemaat tibatiba sirna. belasan tahun itu,
aku tak pernah tahu siapakah mereka yang datang
dengan kekejian. sungguh, tahuntahun tanpa isi:
aku tak pernah paham cara Tuhan menanammu
ke dalam ketiadaan.

/5/
kubakar kemenyan tiap malam selasa: membangkitkan
rinduku pada tujuhratus cara senyummu yang liku.
kusampirkan selendang itu ke pundakku,
kukhatamkan tadarusmu tentang bulan,
tentang wajah ayah yang lebih dulu undur tanpa usia.
langgar telah lama rubuh, tak ada lagi saksi selain
aku dan ingatan. aku terus berlari: menautkan tiap semoga
pada mungkin.

ah, sepertinya bunda lupa bahwa nyeri juga punya batas.
aku lalu menyerbu jalan dengan pedang bertali selendang:
beringas mencari riwayat kepalamu yang hilang.
lebaran seminggu lagi tiba, oh untuk kesekiankalinya,
aku harus ziarah ke sukma yang mana?
sungguh, aku terguncang.

Bandung, 10/05/2011

Oleh Faridz Yusuf. Alumni Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mempunyai keinginan untuk melanjutkan studi S2.
Puisi ini muncul jadi pemenang dan puisi favorit "Cinta dan Kasih Ibu 2011" Bunda Hanna Fransisca, dari 4021judul puisi, dengan Juri lomba yang terhormat: Acep Zamzam Noor dan Joni Ariadinata.