Revenue

Selasa, 06 Desember 2011

Modernitas dalam Novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” (Resensi Diskusi di komunitas Sasaka novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”)


Oleh Asep Gunawan

Dalam dunia kesusastraan Indonesia pra kemderdekaan semua tentunya mengenal novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” karya seorang intelektual Hamka. Novel tersebut dicetak sekitaran 1936, tentunya ini termasuk karya sastra klasik yang begitu dahsyat. Yang termaktub dalam khazanah kesusastraan Indonesia sampai saat ini.

Ketika kita membaca karya Hamka yang satu ini, praktis imaji kita akan dibawa pada romantisme kondisi Indonesia pra merdeka. Setting yang diambil pada karyanya yang satu ini bercerita tentang tanah Minang, tanah yang sangat kental akan lokalitas budayanya, terutama paham matriarki yang dianutnya. Dan Hamka sedikitnya mengambil titik pijak narasinya dengan adat ini, terbukti ketika di awal cerita kita akan disuguhkan mengenai konflik antara Sutan Pandekar dengan Mamaknya Yang berujung dengan diusir dan dipenjaranya Sutan Pandekar di Cilacap setelah dengan tidak sengaja membunuh Mamaknya.
Selain landsekap tanah Minang, Hamka juga cukup pandai dalam mendeskripsikan tanah Mengkasar, yang jadi tanah pijakan kedua bagi Sutan Pandekar, sampai dia menikah dan memiliki anak di sana.

Zainudin, si anak campuran darah mengkasar dan Minang itu, mesti menerima kenyataan pahit bahwasannya leluhur ayahnya di Minang tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang keturunan Minang. Karena adat dan tradisi di sana yang beranggapan bahwa orang Minang haruslah beristrikan orang lokal. Selain juga budaya matriarki yang dipegang kuat di padang Panjang ini. Hingga membuat kisah cinta Zainudin dengan Hayati tak kesampain lantaran adat yang menjadi tembok pemisah keduanya. selain pada akhirnya, lagi – lagi zainudin harus menelan pil pahit, mengingat Hayati lebih memilih untuk menikah dengan Aziz yang secara ekonomi lebih mapan dibanding Zainudin.

Wacana modernitas

Kelahiran suatu karya memang pada dasarnya dibidani oleh keadaan social pengarangnya. Di mana banyak phenomena – phenomena yang melatarbelakangi kelahiran karya sastra dan sedikit banyaknya direflesikan oleh sang pengarang dalam karyanya. Karena pada dasarnya karya sastra merupakn pencerminan keadaan masyarakat pada saat tertentu. (Ian Watt dalam Faruk: 2010)

Begitupun Hamka, yang mendeskripsikan adanya gejala – gejala modernitas yang merasuk pada tatanan pranata social pada orang – orang Indonesia. Paling tidak ada dua aspek yang cukup terlihat pada ceritanya yang satu ini. Yang pertama mungkin, semakin lunturnya nilai – nilai moral dan religious yang menjadi pondasi kuat bangsa Indonesia, terutama Minang. Dan yang kedua, munculnya sikap materialism pada setiap individu, yang dengan mudahnya menanggap bahwa materilah yang menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang.(I. Bambang Sugiharto: 1996).

Kedua gejala tersebut cukup berhasil direfresentasikan pada kedua tokohnya, Aziz dan Hayati. Aziz yang notabene, berasal dari keluarga elit yang telah bersinggungan dengan modernitas, yang dicirikan dengan pola hidupnya yang cenderung matrealistis dan menjurus pada kehidupan hedonis, hingga berakhir tragis. Sedang, Hayati tentunya tak lepas dari judgment yang sama, keputusannya untuk memilih menikah dengan Aziz selain dorongan dari kelurganya,  materi pulalah yang dijadikan pertimbangan olehnya, mengingat Aziz merupakan orang yang “ada”.

Modernitas, memang salah satu unsur yang diperkenalkan oleh bangsa Barat yang secara melalui kolonialismenya. Melalui modernitas seolah bangsa kita diajak untuk lebih berfikir maju dan logis, sehingga kadang melupakan budaya primordial kita. Namun lagi – lagi ketidaksiapan mental Indonesia dalam memaknai modernitas, nampaknya menjadi boomerang bagi kita. Karena memang, bangsa Indonesia bisa dibilang saat itu, sedang mengalami masa transisi dari pola hidup tradisional menuju pola hidup modern.

Budaya lokal tentu saja akan selalu menjadi lawan bagi budaya global yang masuk. Namun mungkin Hamka ingin memberikan gambaran akan sebuah ketidaksiapan mental jika memang terlalu terbuka menyerap semua unsur modernitas yang diterapkan barat pada Indonesia khusunya, akan berakhir dengan sebuah ketragisan. Tak mengherankan, mindset seperti ini memang sudah menjadi wacana global bagi semua negara – negara pasca kolonial untuk meniru si penjajah atau kalau meminjam istilah Homi. K. Bhaha, Mimikri. Semua produk Barat baik sikap, pemikiran atau life style, akan menjadi bahan acuan bagi bangsa terjajah hingga bermuara pada sebuah wujud peniruan, yang salah satunya tentang modernitas.

Namun Hamka, dengan pandai membungkusnya dengan model narasi yang tidak terlalu fulgar menceritakan wacana itu, hingga yakni tema cintalah yang seolah muncul ke permukaan. Tentunya, hamka tidak serta merta memberikan gambaran itu jika tidak merujuk pada phenomena sosial yang sedang terjadi kala itu. Persentuhan Barat dan local melahirkan perubahan paradigma yang kadang mengancam budaya local hingga bisa mengakibatkan tercerabutnya nilai lokalitas yang sejak dulu tertanam.

Peran Akar Primordial

Di dalam sebuah karya tentunya mengandung ideology pengarang. Ideology – ideology yang ingin disampaikan terhadap para pembacanya. Jika melirik background Hamka yang seorang Buya, atau seorang tokoh Islam, tentunya nilai – nila islamilah yang ingin dia sampaikan, namun tidak terlepas dari akar primordial bangsa Indonesia. Paling tidak kedua hal itulah yang harus dijadikan pijakan utama bagi bangsa Indonesia dalam memaknai modernitas atau globalitas secara umum.

Pada kontek kekinians, modernitas semakin buas terlihat dan tanpa ampun menghempaskan nilai lokalitas bangsa kita. Nilai moral dan religious semakin berbanding terbalik dengan pola pikir ke-Baratan yang semakin menguat. Walhasil, sikap hidup yang selalu diorientasikan pada materilah yang laku bagi setiap pendirian seseorang. Hingga setiap orang harus selalu bersaing satu sama lain dalam meraih materi, walaupun harus ada yang “dikorbankan”, sebuah sikap masyarkat yang cenderung tidak manusiawi, hingga tidak aneh kalau krisis multi dimensi di Indonesia tak pernah menemui titik akhirnya.

Paling tidak secara implisit Hamka ingin mengutarakan bahwa globalitas apapun itu bentuknya tak harus membuat kita tercerabut dari nilai – nilai local yang kita anut. Karena hal itulah yang menjadi satu – satunya identitas di dalam dunia global yang semakin menghapus batasan – batasan budaya antar bangsa. Baiknya secara bijak kita menyambut modernitas itu dengan penuh pertimbangan, bukan malah dengan tangan terbuka hingga menyerap dan menerapkannya secara total dalam kehidupan kita. untuk itu sikap kritis sangatlah dibutuhkan agar bangsa kita tidak menjadi bangsa yang tergerus budaya global. Dan tentunya dengan tetap menjaga citra sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai religious dan akar primordial kita.

Penulis, Mahasiswa Sastra Inggris UIN Bandung, bergiat di Komunitas Sasaka


Do you like this story?

Tulisan Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar