Revenue

Jurnal SASAKA

Edisi Juni 2012

Haul to Chairil Anwar

Acara FAS (Forum Alternatif Sastra)

Komunitas Sasaka

Pungkit, Anto,Atep, Ema

Acara Godi Suwarna

Sedang menyimak

Diskusi

Kebersamaan tak lekang oleh waktuuuu

Dado dan Nira

MC Acara FAS

Pungkit, Ema dan Atep

kongko-kongko

Jurnal SASAKA

Coming Soon Edisi September 2012

Senin, 28 November 2011

SANG SUREALIS DAN NOBEL SASTRA 2011


Penganugrahan nobel kesusastraan telah disiarkan. Betapa tidak, moment tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh semua sastrawan di seluruh dunia. Sebab perayaan tersebut menjadi semacam kebanggaan bagi para sastrawan dunia. Yang karyanya bagus dan memukau dewan juri maka akan masuk nominasi, tentu saja ada beberapa kategori yang khusus untuk menentukan siapa pemenangnya.


Terlebih setelah komite hadiah Nobel di Akademi Kerajaan Swedia, Kamis (06/10) di Stockholm mengumumkannya. Yakni penyair Swedia, Tomas Transtroemer (80) meraih hadiah Nobel sastra 2011, Trantroemer kerap menyuguhkan karya yang sederhana tetapi berbau mistik tentang alam, sejarah, dan kematian, seperti yang di ungkapkan  juri Swedis Acamedy “Transtroemer dianugerahi hadiah bergengsi itu karena mampu menghadirkan gambaran realitas yang "tembus cahaya", ringkas, dan padat. "Dia memberi kita akses segar ke arah realitas".


Puisinya penuh dengan imajinasi dan emosi, tetapi juga berisi hal-hal yang tak disangka-sangka sehingga membuat karyanya secara bersamaan disorientasi dan menyegarkan.
    
Selan itu, Transtomer yang terkenal di kawasan Skandinavia itu disebut-sebut master of mysticism, selalu mempersembahkan kesadaran seperti mimpi. "Sebagian besar koleksi puisi Transtroemer berciri ekonomi, hal-hal konkret, dan metafora. "Transtroemer telah beralih menuju format yang bahkan lebih kecil dengan derajat konsentrasi lebih tinggi," tutur salah satu juri.
    
Di sisi lain dalam jumpa persnya, Transtroemer yang murah senyum mengatakan bahwa hadiah yang diberikan terhadapnya terasa "sangat istimewa". orang Swedia ketujuh yang meraih hadiah bergengsi itu, akan menerima hadiah senilai 10 juta kronor Swedia (1,48 juta dollar AS atau 1,08 juta euro) pada acara penyerahan di Stockholm pada 10 Desember. Sementara istrinya, Monica, menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan karena suaminya menderita stroke pada 1990, yang menyebabkan kemampuan komunikasinya terganggu.


Uniknya sekretaris tetap Swedish Akademy, Peter Englund, mengatakan kepada televisi Swedia bahwa Transtroemer telah dinominasikan untuk hadiah itu setiap tahun sejak 1993.    
Oleh karenanya "Karyanya tentang kematian, sejarah, dan kenangan, melihat kita, menciptakan kita, dan membuat kita penting karena manusia bagian dari penjara tempat semua entitas besar bertemu," kata Englund kepada laman the nobelprize.org.
    
Sementara buku-buku kumpulan puisinya antara lain The Great Enigma: New Collected Poems (New Directions, 2006), The Half-Finished Heaven (2001); New Collected Poems (1997); For the Living and the Dead (1995); Baltics (1975); dan Windows and Stones (1972).


Perkenalan dengan Penyair Amerika


          Dilahirkan di Stockholm tahun 1931, Transtromer dibesarkan seorang diri oleh ibunya seorang guru setelah dia bercerai dengan ayahnya -- seorang wartawan. Dia mulai menulis puisi saat belajar di Sekolah Sodra Latin di Stockholm dan mencapai debutnya dengan koleksi "Seventeen Poems" pada usia 23 tahun setelah itu sejak tahun 1950-an, Transtromer berteman akrab dengan penyair Amerika Robert Bly, yang mengalihbahasakan banyak karyanya dalam bahasa Inggris dan beberapa Karya-karyanya telah dialihbahasakan ke lebih 50 bahasa.


Dengan demikian kita dapat melihat bahwa perkenalannya dengan penyair lain diluar negaranya dapat memberikan seseuatu yang baru, selebihnya dapat menciptakan karya menjadi di baca oleh semua orang, dengan bahasa yang diterjemahkan, tentunya ini faktor lain mengapa Transtomer mendapatkan hadiah tersebut.


           Dari perhelatan tersebut, ada pertanyaan kapan Indonesia akan menyandang gelar tersebut? Ya sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan, selama karya sastra Indonesia telah dan dapat dibaca oleh orang dunia, dengan cara titik perantaranya adalah penerjemah. Kita sebagai masyarakat tidak hanya sebatas mengkonsumsi karya dunia, tentu kita juga harus di konsumsi oleh dunia.


Oleh karenanya dari hadiah nobel sastra tersebut dapat diambil beberapa point tertentu, semisal apa yang Jose Saramago, sastrawan Portugal pemenang hadiah nobel kesusastraan pada tahun 1998, bahwa karya sastra dunia diciptakan penerjemah, jadi posisi penerjemah sangat berperan penting untuk membuat karya sastra menjadi dibaca dan terpahami oleh dunia, sebab biasanya karya tersebut telah di alihbahasakan ke bahasa Inggris.


Pada titik inilah, sementara puisi “sang surealis” itu akan dinanti pasar pembaca sastra khususnya di Indonesia, karena akan diterjemahkan dan beberapa penyuka puisi sudah  mencoba menterjemahkan itu, lihat saja di internet-ruang-ruang maya, puisi Tranformer sudah mulai diterjemahkan, kita akan selalu menunggu akan terjemahan dari karya yang tentunya berkualitas, semoga dapat menjadi pelajaran.


*Oleh. Pungkit Wijaya, Penulis, penikmat puisi dan sedang menulis skripsi, bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung.

Sabtu, 19 November 2011

Kisah si Periang 1


Saat matahari mulai mendaki
Keramaian yang sudah tidak asing lagi
Untuk kita nyatakan dengan teriakan

Disana, di suatu ruang yang menjulang
dimana orang-orang saling memberi
Dan mengisi dirinya dalam kehampaan

Hiruk pikuk para penduduk tak tertunduk
Sorak sorai kegembiraan melengkapi
Terik cahaya matahari satu-satunya
Yang tak kita pedulikan.

Hanya satu titik yang ada dalam kepala.

Tiba-tiba terdengar teriakan
Gemanya menembus perasaan yang bimbang

Kuingat lagi pesan- pesan sang rembulan.

Penghuni malam sunyi
Penunggu lautan tak bertepi.
Menjadi awal peristiwa tertutupnya langit biru
Oleh gumpalan asap hitam.
Disini..
Diruang waktu tak bertepi,
Tersimpan kisah si periang
Yang hidup diselimuti kegelapan.

Ombak-ombak menghantamnya bertubi-tubi
Menyayat bagai tikaman ribuan belati
Maka Butiran air nyeri menetes tak berwujud

Aku ambruk dalam getarannya, terperosok
dari tetesan butir air nyeri yang jatuh perlahan.
Terperosok dan terjerembab tak tertahan !

Bara api dari dasar laut Merayap,
menghasut keheningan

Tapi sepatah kata demi kata menyelinap
kedalam telinga dan tungku-tung
kumemadamkan api dasar lautanku

Menghentikan getaran bumi yang sakit
dan bintang-bintang yang menganga Penuh tanya.

Menyiasati keindahan alam.

Sang rembulan tersenyum
cahayanya memancar dan memantul lagi.
Suasana bumi dan langitpun
terasa Keramahannya

Maka lautan semakin sunyi
Dan begitu indah untuk kita jelajahi


2011

Saeful Mustofa lahir di Bandung 12-06-1993. Tercatat sebagai mahasiswa jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

Jumat, 14 Oktober 2011

IDENTITAS


Pada suatu hari di pameran lukisan, Saya melihat drawing karya seseorang yang tentu saja saya kenal orangnya. Saya melihat drwaing tersebut, sebuah patung liberti berwarna hitam dan biru, tetapi tidak seperti laiknya liberti yang sebenarnya, pelukis tersebut mengganti obor yang di usung tangan kanannya oleh sebuah pot bunga. Mula-mula saya jadi ingin tertawa melihat karya tersebut sambil bertanya,
“kenapa ya, ko obornya di ganti oleh pot bunga”.
sambil melihat-lihat lukisan lain di sekitar dinding itu saya membayangkan drawing tadi, dan tiba-tiba ada seorang teman untuk mengajak ngbrol dengan sendirinya saya lupa dengan drawing itu dan keasyikan mengobrol sampai pulang.

Berangkatlah saya ke tempat Tolabul Ilmu, tempatnya lumayan cukup jauh dari tempat menitipkan baju dan sepatu, tentu nya saya di perjalan sebelum tiba di sana sempat berpikir

“ jikalau menuntut ilmu mendapat pahala, apalagi jauh tempatnya wah, pahalanya juga pasti di tambah”
Namun dengan jarak 15 menit saya pun tiba di sana. Dengan panas dan penuh keringat memenuhi tubuh saya kembali bertanya
“ memang siapa yang akan menambah pahalanya, meskipun tempat tolabul ilmu saya jauh dan sedikit menguras keringat dan mengeluarkan kocek uang”
Sambil menghela nafas, Saya memang seorang mahasiswa yang “tidak disiplin” katanya, memang itu kata seorang dosen,
“sudah datangnya kesiangan ke kelas lalu tidak memakai sepatu dan berpakain tidak rapih”
Memang waktu itu saya tidak mekakai sepatu, hanya memakai sendal saja dan memakai pakaian seadanya. sebelumnya memang saya tidak mandi karen di kostan stok air sedang habis jadi ya seadanya sajalah, tetapi yang penting gosok gigi agar tak bau nafas.
fikir saya begini
“ yang penting gosok gigi meskipun tidak mandi asalkan jangan korupsi tetapi harus berbaik hati. 
Setelah itu, saya duduk di bangku sambil menyadari kesalahan saya sebagai mahasiswa yang “tidak disiplin” atau setidaknya tidak mematuhi aturan perkuliahan yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saya tidak memperhatikan dosen tersebut ketika menerangkan mata kuliah tersebut, pikiran malah terus bertanya-tanya, sebenarnya aturan mahasiwa harus memakai pakaiain rapi itu dari mana dan apabila saya hanya memakai kain “ sarung” saja ke kelas akan seperti apa, dengan itu sebenarnya pola pemikiran dari mana sich, dan terus bertanya, pikiran saya kadang jalan-jalan ke alun-alun Bandung yang katanya sich kota mode “ faris Van java” gitu loh, terus pikiran berjalan-jalan ke tempat di kampus yang sedang di bangun, lebih teapatnya sudah retak gitu dech, nah tiba-tiba saya teringat perkataan teman saya yang tampan dari Milenia Corporation tepatnya Cileunyi Group ia memang pengusaha Counter. di samping itu, ia punya media juga, ia sempat berkata begini
“ ah saya mah kalau kuliah mau pakai peci hitam saja”
mungin saja, saya pikir ia alumni Pondok Pesantren, ah saya semakin pusing saja bila berjalan-jalan terus, sudah lah saya tidak mau mengingat itu lagi sambil jam mata kuliah sebentar lagi selesai.
Memang semua harus di pertanggung jawabkan.
Setelah ucapan teman saya di atas, ia bertanya kepada teman saya yang satu lagi. Begini katanya “ kenapa rambutmu gondrong, kamu harus mempertanggung jawabkanya juga lho”dan mungkin ada yang lebih bijak juga kata teman saya juga si tampan dari milenia itu tadi. nah ketika saya katanya ditanya oleh ayah yang budiman setelah kuliah begini
“ ayah, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi”.
Ya, begitulah hidup memang penuh pertanggung jawaban. Ketika seorang pemuda menteskan airmani pun harus tanggung jawab apabila kekasihnya hamil. Nah saya kembali lagi memperhatikan dosen tadi sambil menggerutu dalam hati
“ pak, bapak juga harus bertanggung jawab juga, karena hidup ini tanggung jawab”

Memang tidak seperti halnya kata temen saya “udunan adalah jiwa” jikalau bapak dosen keilmuan sastra ya harus tanggung jawab kepada sastra itu sendiri dan kepada mahasiswa sastra tersebut. Saya sebenarnya ingin mendebat dosen tersebut, tetapi ya sudahlah, mau gimana lagi mahasiswa yang “tidak dispilin”  dilarang berbicara. Jadi sama saja ya \saya andaikan “ orang miskin dilarang sekolah dan buang sampah”, nah maka dari itu apakah pendidikan hanya di nilai dari bungkusnya saja tetapi isi kacangnya tidak pernah di buka apalagi di makan, karunya atuh si kacang. pengandaian yang sederhana dari teman saya ketika ia memang mahasiswa tidak disiplin juga atau interdisiplin.

Mmengapa begitu karena bergelut di tiga dispilin ilmu sekaligus atau kalau bahasa teman saya yang satu lagi begini “menyelam sambil minum air, sudah minum air terus sambil mencari karang juga. dengan itu, pertama mempelajari pendidikan, jurnalistik dan sastra, kalau saya golongkan ia sudah mendapat gelar Fropesor sekaligus, "edan kan” bayangin aja.

Tetapi setelah adzan ashar membalut kota, aku menulis catatan ini dengan segelas kopi dan sebatang rokok sambil mendengarkan lagu “kopi lambada”, aromanya asmara dan nikmatnya membara, asyik juga ya walaupun perut keroncongan, bahwa menulis itu asyik dan lebih asyik, lebih daripada jadi politikus.

Kembali lagi ke cerita awal tentang drwaing lukisan yang mengganti patung liberti pake pot bunga, jadi menurut saya fenomena “tidak disiplin” memang kita dapati dalam kehidupan di abad ini, nah maka seorang kretator lukisan syah-syah saja menggantinya juga atau tidak disiplin, semisal sekarang banyak kiai yang menjadi politisi, ada juga lulusan Ilmu Hukum menjadi sastrawan begitu pula lulusan dokter, ada yang menjadi penulis puisi dan penyanyi dan aktris ibu kota begitu pula dengn saya seorang mahasiswa jurusan Cicaheum-Garut ( elf) hehe, maksudnya jurusan sastra tetapi menjadi tukang gorengan sampeu. mungkin itulah sejumlah contoh orang yang tidak disiplin menurut saya.

Sambil menyambut nadoman saya membayangkan begini jikalau MUI (majelis umat islam) mengeluarkan ftawa seperti “ menulislah walau satu ayat, kalau tidak menulis haram dan tidak diakui sebagai umat” itu akan seperti apa, umat islam indonesia. 

Semisal ketika jurusan sastra pasti mengkaji karya sastra dan sejumlah perkembangannya, biografi pengarang dan banyak lagi teus semisal jurusan ilmu hukum mengkaji tentang UUD 45 dan jurusan pendidikan mempelajari metode pengajaran atau ekonomi islam mempelajari teori berdagang ala Rasululoh Muhamad S.A.W. nah maka selayaknya jikalau dan sebaiknya pula ranah keilmuan tersebut mampu “disiplin” mengapa? ya jikalau jurusan Ilmu Hukum pastrilah ada dari staf pengajarnya yang menjadi konsultan hukum atau pengacara dan mahasiswnya juga kalau ada, lalu jurusan pendidikan begitu pula dengan sastra maka seharusnya “disiplin”. jikalau memang “disiplin” atau bahasa kerenya dari praktisi menuju akademisi dan dari akademisi menuju praktisi, apa salahnya jika kita mencoba berkolaborasi, mahasiswa sastra menjadi pengacara dan mahasiswa pendidikan menjadi Advocakat, apa itu “tidak disiplin?

Catatan : maaf apapbila ada nama, tokoh dan setting yang sama ini tidak kesengajaan ini hanyalah karya fiksi.

Pungkit Wijaya, penikmat kopi lambada.

KUNANG-KUNANG KEMATIAN


Di kampungku—yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang yang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.

“Apa orang yang baik tidak butuh cahaya? Apakah cahaya sudah ada melalui amal baiknya? Sedangkan yang tidak baik masih membutuhkan cahaya, bukan melalui amal baik malah dari cahaya kunang-kunang?” tanya salah seorang warga, beberapa hari yang lalu.

“Cahaya kunang-kunang itu berasal dari zat luciferin, mungkin ada hubungannya dengan Lusifer para setan neraka.” jawab Pak RT.

“Berarti bila kita mati nantinya akan menjadi iblis toh?” ia kembali bertanya.
“Bila sampean mati membawa amal buruk pasti bakalan seperti itu.” timpal yang lain.
“Tidak baik percaya sama tahayul.” bantah seseorang yang tidak setuju.
“Sampean tak percaya? Kualat loh!”
“Manusia dan iblis itu beda, tapi sama-sama mahluk ciptaan Gusti Allah!”
“Mbuh!”

Pada waktu itu aku tidak ikut melibatkan diri dalam obrolan-obrolan mereka, padahal mereka selalu sibuk membicarakannya bila ada warga yang mati. Dan entah sejak kapan mitos itu ada di kampungku, mungkin pada zaman dulu para leluhur jawa kuno selalu mengingatkan untuk melakukan amal baik terhadap sesamanya ketika hidup, dan bila matinya meninggalkan amal buruk maka kukunya akan menjelma kunang-kunang untuk mencari cahaya setelah dikubur. 

Dan sekarang hampir semua warga—dari mulai anak kecil, dewasa, hingga para orang tua—sudah tidak asing lagi untuk mengetahuinya.
Malam ini di luar nampak rembulan telah matang, langit semakin gosong, di sana ada ribuan bintang bercahaya seperti segerombolan kunang-kunang beterbangan di pekarangan rumahku, seolah ada yang mengundang kedatangan mereka. Lantas siapakah orang itu? “Apakah sekarang ada warga yang mati dengan buku catatan amal di tangan kirinya?” tanyaku dalam hati.

Kunang-kunang itu masih berkeliaran di antara pepohonan, tanah tandus yang di penuhi rimbun semak, bahkan ada satu kunang-kunang yang hinggap di jendela kamarku, lalu ke tanganku, sepertinya ia menyukaiku, atau akan menjemputku pada kematian. Pasalnya, selain mempercayai mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati, orang-orang juga percaya bila ada salah satu warga yang dihinggapi kunang-kunang maka ia akan mati. Kunang-kunang itu penjemput kematian.

            Aku tidak begitu percaya pada yang namanya mitos. Tahayul. Mungkin karena sewaktu kecil aku rajin mengaji, ilmu yang pernah aku dapat bahwa orang yang mati arwahnya langsung ditempatkan oleh Tuhan, entah dimana, aku lupa lagi, sebab sudah sepuluh tahun aku tidak menuntut ilmu agama. Aku malu pada namaku yang selalu di sebut-sebut sebagai jawara kampung tak terkalahkan di usiaku sekarang yang masih berumur 27 tahun. Hingga namaku kian santer terdengar ke kampung-kampung lain.

Yadi Jopang, begitulah mereka menyebut namaku. Ketika nama itu disebut, orang-orang yang mendengarnya pasti bakal menutup pembicaraan mereka lalu pergi dari orang yang menyebut namaku. Atau mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka bila aku berteriak-teriak di sekitar kampung pada larut malam yang tengah menikmati minuman memabukan. Di telinga mereka, suaraku bagaikan aungan singa jantan yang hendak berburu karena kelaparan.

Mereka mulai segan dan takut padaku ketika pada suatu hari di kampungku pernah terjadi sebuah bentrokan warga antar kampung. Kala itu kampungku diserang warga kampung sebelah. Mereka datang dengan membawa berbagai parang ditangannya. Penyebabnya berawal ketika Taryo, salah seorang warga kampungku yang kepergok sedang bergumul dengan istri warga kampung sana, dan bukan untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Aku sebagai sahabat Taryo tentu membelanya, dengan cara melawan warga kampung sebelah dan bisa mengalahkan mereka yang membawa kapak atau sebilah belati hanya dengan tangan kosong.

Ternyata senjata mereka tidak bisa melukakiku, hanya rasa gatal saja ketika para jawara kampung lain pernah menancapkannya ke leherku. Kenapa? Sebab sudah lama aku menuntut ilmu kanuragan pada salah seorang dukun. Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan. Bila mematuhi semua syarat itu, maka hanya dengan membacakan mantra “Yaahu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den keya keris mengkana landhepe tangan ingsun” lalu tangan kanan menggebrak tanah, seketika itu puluhan lawan akan terpelanting, kocar-kacir tak karuan.

Lamunanku dikejutkan oleh Joko, sahabatku yang berbadan gemuk dengan di penuhi tato menjarah di kedua lengannya. Ia datang dari balik jendela dengan raut muka yang pucat menjadi seperti warna lampu neon kamarku. Langkahnya yang terburu-buru dan napasnya masih terengah-engah, aku tahu ia pasti membawa kabar buruk.

“Yadi, kampung kita digegerkan dengan kematian Taryo.” katanya yang berdiri di ambang jendela terbuka.
“Apa! Taryo mati? Tapi mengapa kematiannya begitu menggemparkan warga kampung?” tanyaku dengan mata melotot dan terkejut.
“Kematiannya itu telah mengundang banyak kunang-kunang, mereka takut dijemput kematian.” jawab Joko.
            “Ia mati kenapa?” tanyaku lagi.
            “Dikeroyok warga kampung sebelah karena selalu menjaili wanita sana,” jawab Joko. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Sebagai sahabatnya, apa yang harus kita lakukan?”
“Entahlah,” jawabku yang masih tak percaya keadaan ini.

Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.
“Lebih baik kita bunuh saja warga kampung sebelah, kita harus balas dendam!” katanya lagi antusias.
“Kau saja, aku takut seperti Taryo!”
“Kau takut mati? Bukankah kau tidak bisa dibunuh!” tanya Joko kembali.
            “Tadi ada kunang-kunang hinggap di tanganku, aku takut kunang-kunang itu penjemput kematianku.”
“Ha ha... Goblok! Mati itu di tangan Tuhan, bukan melalui kunang-kunang!”
            “Jangan bicara Tuhan, hanya mengingatkanku pada kematian!” kataku dengan nada menggertak. Lalu ia beralasan:

“Bukankah tubuhmu kebal terhadap senjata? Dulu pun kau bisa mengalahkan sepuluh jawara yang membawa parang hanya dengan tangan kosong.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum kecut lalu menengadahkan kepala  ke atas dengan menggertakan gigi, dan mengepalkan tangan.
***

Siang yang panas, cuaca begitu terik membuat wajah orang-orang menjadi seperti pantat kunang-kunang yang bercahaya, dan rawa-rawa telah lama mengering. Tapi tidak pada suasana rumah Taryo yang sedang berkabung. Isak tangis, derai air mata, masih mengalir dari para keluarganya. Ia yang semasa hidupnya lekat dengan dosa, kini telah berpulang meninggalkan dunia. Aku berada di rumah kecil itu bersama Joko, sekadar mengucapkan kalimat bela sungkawa, dan mengamati para pelayat dengan wajah yang di sedih-sedihkan. Aku tahu kesedihan mereka bukan karena kematian Taryo, melainkan karena kegelisahannya terhadap kunang-kunang. Bahkan secara tak sengaja kami mendengar dari salah seorang pelayat mengatakan bahwa kematian Taryo hanya penyebar kunang-kunang.
“Nanti malam pasti kunang-kunang akan semakin banyak berkeliaran, mengingat kelakuan Taryo yang tidak baik, pasti ia membutuhkan banyak cahaya, semoga tidak hinggap pada kita saja, kunang-kunang itu penjemput maut.” kata pelayat itu.

“Lebih baik kita musnahkan saja mereka, biasanya mereka bersarang di tempat-tempat yang tandus dan berawa.” jawab yang lain.
“Tapi alangkah baiknya bila kita berdoa untuk Taryo, kasihan!” aku menimpal obrolan mereka. Namun sepertinya ucapanku itu tak dihiraukannya.

 Jujur, aku sedikit emosi, apalagi setelah mendengar dari omongan seluruh warga, ternyata mereka telah sepakat nanti malam akan menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Lantas bagaimana acara tahlilan dan yasinan? Bukankah warga kampung mempunyai tradisi setiap malam mendoakan orang yang mati supaya arwahnya merasa tenang? Apakah menangkap kunang-kunang lebih penting ketimbang mendoakan Taryo? Bila mitos kunang-kunang itu memang benar, dan tak ada yang berkeliaran, mungkin ia akan kekurangan cahaya di alam sana.
“Setuju...”
“Kami semua setuju…”
“Malam ini kita harus menangkap semua kunang-kunang!” teriak semua warga bersamaan.
            “Basmi...”
“Bunuh...”
“Basmi semua hingga tak tersisa. Kami tidak ingin mati!”

Aku mendengar kerumunan warga yang berteriak di lapangan. Sepertinya kunang-kunang sudah mereka anggap sebagai Tuhan, mereka pikir kematian bukan lagi kehendak Tuhan, mereka sudah terlalu mempercayai mitos itu. Namun satu pertanyaanku, bila kunang-kunang berhasil dimusnahkan, apakah mereka bakal terhindar dari kematian? Bakal hidup abadi? Mereka menganggap Tuhan sudah mati. Bahkan Taryo yang telah mati pun mereka anggap sampah; penyebar bencana; pembawa sial; dan itu yang membuatku benci kunang-kunang. Aku tidak akan mati meski dihinggapinya. Hidup dan matiku kehendak Tuhan.

***
            Malamnya aku datang membalaskan dendam pada kampung sebelah, melakukan kerusuhan dengan melemparkan api ke rumah-rumah warga kampung itu yang terbuat dari bilik kayu dan mudah terbakar, membuat kampung itu menjadi merah, seperti neraka, api di mana-mana, dan tentunya hati mereka pun terbakar dengan mengacung-acungkan ancam sebuah parang ke arah kami.
“Tangkap mereka…”
“Kita bunuh mereka…” teriak seluruh warga.

Mereka berlari mengejar kami, seperti halnya warga kampungku yang sekarang sedang menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Melihat situasi seperti itu, raut muka Joko menjadi pucat, bahkan aku sendiri pun langsung berlari menjauhinya, dan melesapkan diri di balik semak tak jauh dari sana. Entah kenapa kekuatanku tidak lagi melindungiku, hanya darah yang bercucuran di mana-mana: kepala, tangan, dan baju yang aku kenakan pun robek terkena sayatan sebuah belati.
“Apa karena siang tadi aku menginginkan warga kampungku supaya mendoakan Taryo? Tentunya meminta kepada Tuhan.” bisikku dalam hati. Tanpa sadar aku telah melanggar pantangan dari dukun itu dan kembali mengingat Tuhan.

Di balik semak-semak itu aku hanya bisa mendengar suara Joko yang melolong kesakitan meminta pertolongan: Aduh, ampun, sakit, hentikan, dan terakhir ia berteriak memanggil namaku. Dan setelah itu hening, tak ada suara. Sial. Kenapa di saat seperti ini kekuatanku malah lenyap. Aku hanya bisa bersembunyi ketika sahabatku dikeroyok, mungkin hingga tewas. Kurasakan lututku bergetar, mungkin aku juga takut, pastinya setelah ini giliranku yang menjadi santapan para warga yang geram dengan parang tajam di tangan mereka. Sekelimunan orang masih mencari tempat persembunyianku. Aku membayangkan apa jadinya bila aku tertangkap? Mungkin tubuhku diseret, pentungan dan parang tajam akan mendarat ke tubuhku—bernasib sama seperti Taryo dan Joko—mati di tangan amukan massa.

“Apakah aku akan mati di tangan mereka?”
“Apakah kematianku telah di jemput kunang-kunang?”

Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang sekarang sedang berkecamuk di pikiranku. Aku berharap mitos itu hanya bualan belaka. Aku tidak ingin mati. Kini yang aku bisa hanya meminta perlindungan Tuhan, bukan pada kekuatan yang tiba-tiba hilang. Aku mengintip mereka melalui celah semak-semak, jumlahnya sangat banyak, mungkin ada puluhan orang yang membawa parang serta pentungan yang siap di arahkan pada tubuhku. Inikah yang di rasakan Taryo dan Joko? Menikmati saat terakhir menghela napas dengan penuh dosa. Kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah di hinggapinya. Dan bila aku mati disini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku.

Sumedang, 19 Juli 2011

Oleh Ihsan Taufik Hidayat. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Menulis puisi dan cerpen. Bergiat di Komunitas SASAKA

ABAD YANG LAIN


seekor anjing yang setia menunggu di mulut goa
bersama para pemuda yang resah

sesekali ada berita dari langit
tentang bisik yang gaib
sampai mereka tertidur lelap
dalam sunyi yang terjaga

“hai tuan-tuan apa yang kau lakukan?”

tak ada jawaban
hanya gamis dan kain yang menua
logam usang tak bisa ditukar

siapa yang bisa menghitung detik
dari malam-malam yang hilang

mereka terbangun dengan janggut dan rambut menggumpal
seseorang lantas pergi ke kota
iman sudah dimana-mana
orang-orang menjadi karib yang baik

“tuan kau  berada di abad yang lain”

ia menundukkan wajah
mencoba memutar ulang ingatan
ia kembali ke goa
dan menemukan enam lelaki
sudah tiada bernyawa
seekor anjing entah kemana

“tuhan masihkah aku beriman?”

Juni 2011

Oleh Miftahul Khoer (Miko Alonso) Senang Menulis Puisi, Cerpen dan Esai. Bergiat di Komunitas Kabel Data. Sedang sibuk menjalani olah jiwa.