Revenue

Jurnal SASAKA

Edisi Juni 2012

Haul to Chairil Anwar

Acara FAS (Forum Alternatif Sastra)

Komunitas Sasaka

Pungkit, Anto,Atep, Ema

Acara Godi Suwarna

Sedang menyimak

Diskusi

Kebersamaan tak lekang oleh waktuuuu

Dado dan Nira

MC Acara FAS

Pungkit, Ema dan Atep

kongko-kongko

Jurnal SASAKA

Coming Soon Edisi September 2012

Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

KONTRIBUSI SASTRA ISLAM TERHADAP SASTRA INGGRIS: SEBUAH PELACAKAN AWAL[1]


Berbicara mengenai Sastra Islam, khususnya bagi saya pribadi, masih menyisakan sejumput tanya yang mengharap segudang jawab. Mengapa demikian? Karena sejujurnya, istilah Sastra Islam merupakan sebuah istilah yang problematis. Di satu sisi, betul adanya bahwa apa yang kemudian hadir dalam kesusastraan Arab pasca kelahiran Islam (berikut perkembangan dan kejayaan kekhalifahannya di masa Umayyah dan Abbasiyah sampai masa sekarang), sedikit banyaknya sangat terpengaruh oleh Al-Quran, baik dari segi bentuk maupun isinya. Dalam konteks ini, maka istilah Sastra Islam dapat dengan mudah dilekatkan dan didefinisikan, karena Al-Quran sebagai sumber otentik ajaran Islam diturunkan oleh Allah dalam bahasa Arab. Namun, di sisi lain, ketika istilah Sastra Islam didefinisikan dalam kaitannya dengan kategorisasi sastra sebagai disiplin ilmu, maka istilah ini pun menguap, tidak jelas, hanya menyisakan titik-titik air yang tersebar di pikiran para sastrawan dan ahli sastra, tanpa adanya keterangan yang jelas. Ini misalnya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah Sastra Islam itu adalah sastra Arab? Apakah Sastra Islam itu adalah sastra yang ditulis oleh orang Islam (Muslim) walaupun bukan berbahasa Arab? Ataukah Sastra Islam itu sastra yang berisi prinsip-prinsip dan ajaran universal Islam walaupun ditulis bukan oleh orang Islam dan bukan dalam bahasa Arab saja? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengganggu saya ketika istilah Sastra Islam ini muncul dan banyak diperdebatkan oleh para sastrawan dan ahli sastra. Dalam hal ini, saya kemudian beralasan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab serta merta karena juga disebabkan oleh sifat sastra itu sendiri yang universal. Biasanya universalime sastra tidak dapat dibatasi oleh ideologi tertentu. Ideologi tentunya dapat menjadi intisari sebuah karya, tetapi tidak bisa berubah menjadi penyekat sastra itu sendiri. Ideologi ada dan hadir di dalam karya dengan sifatnya yang inklusif; jelas, berbekas, tapi tetap laten.

Dalam ilmu sastra (setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat), satu-satunya aspek yang bisa menjadi penyekat atau dinding pemisah antara sastra yang satu dengan yang lainnya adalah wilayah/Negara/bangsa. Sehingga kita mengenal adanya Sastra Indonesia, Sastra Sunda, Sastra Jawa, Sastra Melayu, Sastra Inggris, Sastra Jepang, Sastra Amerika, dan lain-lain, tapi tidak Sastra Liberal, Sastra Kapitalis, Sastra Komunis, Sastra Kristen, Sastra Hindu, atau Sastra Islam. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk memulai lagi dan/atau mencoba lagi merumuskan kesusastraan berbasis ideologi, termasuk pendefinisian Sastra Islam sebagai sebuah istilah yang ‘berterima’ (acceptable) dalam disiplin ilmu sastra. Dalam kajian kita kali ini, anggap saja dulu bahwa istilah Sastra Islam sudah kuat, kokoh, tak tergoyahkan dan ‘berterima’ sebagai sebuah kategori dalam ilmu sastra, atau paling tidak, kita acukan istilah Sastra Islam ini kepada pengertian yang pertama, yaitu sebagai kesusastraan Arab yang banyak dipengaruhi Al-Quran baik dalam bentuk maupun isinya.Sebagai sebuah pelacakan awal, tulisan ini tidak berpretensi untuk menjadi sebuah pengkajian yang komprehensif mengenai kontribusi Sastra Islam terhadap Sastra Inggris. Tulisan ini akan membatasi dirinya sendiri dalam hubungannnya dengan kehadiran bentuk-bentuk Sastra Islam sebagai suatu kesusastraan yang banyak dipengaruhi Al-Quran, dan beberapa pengaruhnya ke dalam kesusastraan Inggris.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Quran adalah karya sastra terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Nilai estetis Al-Quran terpancar dari setiap ayat yang hadir tidak hanya dalam bentuk puisi tetapi juga prosa dan drama sekaligus. Fenomena historis ‘Ijaz Al-Quran, tantangan Allah kepada siapa saja yang hendak menandingi kehebatan sastrawi Al-Quran (dan kenyataannya, sampai sekarang memang tak ada seorangpun dan dari sastra apapun yang dapat menandinginya,Subhanallah…!), membuktikan bahwa Al-Quran betul-betul merupakan karya sastra agung. Tanpa fenomena historis ini, maka mungkin saja kita akan ragu kalau Al-Quran adalah karya sastra agung yang kekuatannya dapat dan akan selalu mempesonakan, mengharukan, menggerakkan, menakutkan, dan bahkan menghancurkan. Dalam konteks kesusastraan Arab, Al-Quran mampu mencerai-beraikan semua norma keunggulan sastra yang pernah dikenal bangsa Arab sendiri. Setiap ayat Al-Quran sesuai dan memenuhi norma sastra yang pernah dikenal, dan bahkan mengunggulinya. Al-Quran bukanlah puisi, bukan, prosa, dan bukan drama, tapi semua unsur yang pernah dikenal bangsa Arab (dan oleh manusia secara umum) dalam bidang ilmu sastra mengenai puisi, prosa, dan drama ada dan hadir dalam Al-Quran sekaligus. Bahasa Al-Quran bisa diawali dengan puitik tapi bisa berakhir secara dramatik atau kedua-duanya. Dalam surat An-Nur, kita menemukan bahasa yang dramatis di awal-awal, tapi begitu puitis di tengah ketika mengungkapkan perumpamaan Allah dengan cahaya. Begitupun dengan prinsip Plot yang dikemukakan Aristoteles sebagai yang memiliki awal, tengah dan akhir, diruntuhkan oleh Al-Quran (misalnya terlihat dalam surat Al-Qashash) dengan menghadirkan cerita tidak dalam hubungannya dengan perjalanan kausalitas tetapi lebih didasarkan pada prinsip kelogisan sebuah cerita. Ini baru sebagian kecil dari keagungan bentuk, belum lagi yang berhubungan dengan keagungan isi. Universalitas manusia, HAM, hubungan keluarga, sains dan teknologi, ekonomi, perpolitikan, seni, kebudayaan, dan prinsip-prinsip rasional dalam melihat perkembangan kehidupan adalah juga hanya sebagian kecil dari isi kandungan Al-Quran yang begitu komprehensif mengatur kehidupan.

Dari sinilah maka, kesusastraan Arab pasca kelahiran Al-Quran (baca: Islam), begitu terpengaruh oleh gaya Al-Quran. Di sepanjang dunia Muslim maupun sejarah Muslim, Al-Quran menjadi ideal sastra yang tak tertandingi. Sebelum zaman kolonialisme dan imperialism Barat (baca: Eropa dan Amerika), ketika kekuatan asing memaksakan penggantian tulisan Arab dengan Latin dan mulai mempengaruhi selera sastra masyarakat Muslim, hampir semua karya sastra Muslim merefleksikan karakteristik tradisional Al-Quran. Beberapa karya itu diantaranya adalah: khutbah, risalah, maqamah (kisah pendek), qishash (cerita berisi pesan moral), qashidah (syair), danmaqalah (esei tentang satu gagasan tertentu). Pendek kata, semua Muslim berupaya memenuhi semua kriteria ini, karena kriteria ini berasal dari Al-Quran, contoh ideal. Pemenuhan kriteria ini merupakan ukuran keberhasilan, ukuran pemenuhan sastra, dan ukuran nilai estetis dari penulis dan pembaca.

Dilihat dari sisi Al-Quran inilah, maka saya kemudian melihat adanya kontribusi Sastra Islam terhadap kesusastraan Inggris, baik langsung maupun tidak langsung. Contohnya adalah bagaimana kesusatraan Inggris saat ini mengenal istilah apothegm, yaitu pernyataan tajam dan mengandung filosofi yang tinggi dalam bentuk puisi atau prosa. Apothegm ini pada awalnya tidak ada dalam kesusastraan Inggris, dan baru muncul setelah abad ke-18 (abad di mana Eropa sedang jaya-jayanya menguasai Asia dan Afrika, termasuk Negara-negara Arab). Dari sini, dapat kita “curigai” bahwa kemunculan apothegm sebagai genre sastra dipengaruhi oleh Sastra Islam dari bentuk (genre) khutbah, yang notabene merupakan suatu wasiat. Begitu pula dengan istilah essayyang pemaknaannya sama dengan istilah maqalah di sastra Arab, yang mengungkapkan satu gagasan tertentu. Contoh lain adalah parable yang bersanding sejajar dengan istilah qishash.

Selain itu, kita juga tidak bisa menyangkal kekuatan kisah Alfun laila wa laila (Seribu Satu Malam) yang banyak menginspirasi Sastra Inggris baik dalam bentuk maupun isi ceritanya. Bahkan, bagi sebagian besar sastrawan Muslim, Romeo and Juliet-nya William Shakespeare diyakini sebagai versi lain (kalau tidak mau dikatakan jiplakan) dari Layla Majnun-nya Syech Nizhami. Semua ini, walaupun terlalu dini juga mengatakan Sastra Inggris banyak dipengaruhi Sastra Islam, berhubungan dan dapat dikatakan sebagai kontribusi Sastra Islam terhadap Sastra Inggris.

[1] Handout disampaikan dalam acara diskusi reguler SASAKA (Sanggar Sastra Kampus), 13 Oktober 2010

[2] Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Minggu, 26 Agustus 2012

Indonesia Mudik




MUDIK adalah ciri khas kebudayaan Indonesia. Buktinya, Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings, penyusun A Comprehensive Indonesian-English Dictionary (2010), tidak menemukan padanan yang tepat buat istilah mudik. Mereka hanya dapat menerjemahkannya menjadi “go back to one’s native village at Lebaran”. Alhasil, dalam urusan mudik, kamus dwibahasa (yang mencari padanan kata) pun terpaksa menyerupai kamus ekabahasa (yang menerangkan arti kata).

Pemakaian istilahnya saja unik nian. Terbentuk dari kata dasar udik, istilah mudiksesungguhnya informal. Verba yang baku seharusnya mengudik, tapi kata bentukan demikian tidak pernah terdengar. Betapapun, istilah informal itu dipakai dalam rapat kabinet, digunakan dalam rumusan kebijakan serta program birokrasi pemerintahan, dan diolah dalam media jurnalistik. Dengan kata lain, gejala mudik memperlihatkan betapa kegiatan informal dapat menguras perhatian tatanan formal. Tanpa perang saudara atau bencana alam, seluruh tatanan transportasi Indonesia bisa dibikin hibuk selama dua pekan sehabis Lebaran. 

Mungkin itu sebabnya orang sulit mencari bandingan mudik di luar Indonesia. Dari segi besarannya, kafilah Idul Fitri ini kiranya hanya dapat dibandingkan dengan migrasi kolektif dalam novel klasik The Grapes of Wrath karya John Steinbeck. Tentu, kaitan cerita Amerika itu berbeda, yaitu terusirnya warga desa oleh industrialisasi pertanian, hingga mereka bergerak di jalan raya buat mencari tempat baru. Dengan kata lain, rakyat Steinbeck meninggalkan udik, sedangkan rakyat Indonesia kembali ke udik —setelah tersedot industrialisasi kehidupan di kota. 

Uniknya pula, kata udik itu sendiri sudah jarang dipakai dalam perbincangan sehari-hari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), kata itu bisa berarti “daerah di hulu sungai” atau “dusun”. Sungai dahulu kala adalah jalan raya hari ini. Dulu, tatkala sungai masih menjadi jalur transportasi utama, orang Nusantara pergi ke hilir dan kembali ke udik. Dari situlah, rupanya, timbulnya ungkapan hilir-mudik alias mondar-mandir yang biasa digunakan buat melukiskan keadaan lalu lintas. Kata udik tak lagi sering digunakan karena orang Indonesia sudah lama mengabaikan sungai.

Perhatian Indonesia hari ini terarah ke jalan raya, bukan ke sungai. Buktinya, rumah-rumah di bantaran kali umumnya membelakangi kali itu sendiri. Kali dan sungai akhirnya dijadikan ruang belakang tempat banyak orang membuang sampah, kotoran, dan sebagainya. Adapun jalan raya kemudian dijadikan ruang depan tempat banyak orang mempertaruhkan karier dan harkat dirinya. Jejak-jejak peradaban sungai di negeri ini hanya dapat dirasakan pada istilah dan rutinitas mudik. Mereka yang mudik tak ubahnya dengan ikan salmon yang kembali ke hulu pada waktu-waktu tertentu.

Bagi kawanan ikan salmon, hulu sungai adalah tempat yang baik buat mati dan melaksanakan regenerasi. Bagi jutaan orang Indonesia, dusun atau desa adalah tempat yang baik buat memperlihatkan sikap berani mati setahun sekali. Tidak mustahil hidup para pemudik berakhir di jalur pantura Jawa atau di jurang kelokan empat puluh empat Sumatra. Sepeda motor adalah simbolnya yang menonjol. Pasukan kavaleri manapun, tampaknya, tidak dapat menandingi patriot bermotor dalam hal keberanian, kecepatan, daya angkut, dan jarak tempuhnya.

Patut dicatat bahwa salah satu destinasi terpenting bagi para pemberani itu adalah kuburan. Meski Persis atau Muhammadiyah barangkali tidak menyukainya, muslim pemudik pada umumnya menjadikan kunjungan ke kuburan sebagai kegiatan penting. Mereka merambih ke makam leluhur atau anggota keluarga lainnya. Di situ bunga rampai ditaburkan dan air jernih dikucurkan ke atas pusara, juga doa dipanjatkan. Lebaran mendapatkan salah satu simbolnya dalam semacam air setaman.

Di situ pun terlihat watak Indonesia. Jika Idul Fitri di negeri ini dapat ditafsirkan sebagai kesempatan reuni, patut dicatat bahwa reuni itu tidak hanya melibatkan orang-orang yang masih hidup, melainkan juga melibatkan orang-orang yang sudah mati. Si hidup dan si mati berkumpul lagi dalam suasana Idul Fitri. Leluhur dan kaum kerabat yang telah tiada seakan tidak benar-benar mati, melainkan tetap ikut mempengaruhi suasana hati dan gerak-gerik keluarga yang masih hidup.

Pentingnya orang-orang yang telah tiada dalam kehidupan orang Indonesia tergambarkan dalam The Potent Dead (2002) suntingan Henri Chambert-Loir dan Anthony Reid. Buku ini menyajikan sejumlah telaah mengenai aspek-aspek spiritual orang Indonesia, antara lain orang Jawa, Dayak, dan Bugis. “The potent dead, as this book demonstrates, are omnipresent in modern Indonesia,” tulis penyunting buku itu dalam bagian pendahuluan.

Demikianlah, melalui rutinitas mudik yang bersifat informal, dengan segala risikonya, orang Indonesia merealisasikan gerak batin ke tempat asal, ke lingkungan leluhur, di mana kebersamaan sepertinya diteguhkan kembali.***

Oleh Hawe Setiawan. Budayawan dan Kritikus Sastra.

Sabtu, 09 Juni 2012

SASTRA TRANSFORMATIF - TRANSENDENTAL


Emha Ainun Najib pernah menyatakan bahwa karya-karya Kuntowijoyo, setelah ia sembuh dari sakit, merepresentasikan kematangan dan kedalaman. Karya-karyanya lebih bersifat kontemplatif dan reflektif. Bagi Emha, saat-saat Kunto dirundung sakit adalah seperti masa tapa, saat berkepompong, dan setelah sembuh, Kunto menjelma menjadi seekor kupu-kupu. Tetapi, bila kita melihat cerpen terbarunya yang berjudul “Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl. Kembang Desa, Jl Kembang Api”, maka lontaran pernyataan Emha itu tidak tepat jika dialamatkan kepada Kuntowijoyo. Karya terbarunya itu (Kompas, 28 April 2002), justru memproklamirkan kembalinya Kunto ke gaya penulisannnya di tahun 70 ssmpai tahun 80-an—saat-saat ketika ia menghasilkan kumpulan cerpennya, “Dilarang Mencintai Bunga-bunga,” atau kumpulan puisinya yang berjudul “Suluk Awang Uwung.” Cerpennya yang paling mutakhir itu saya anggap sebagai titik kembalinya Kuntowijoyo kepada paradigma transendentalnya yang selama ini ia perjuangkan. Sedangkan karyanya sebelum itu, misalnya novel yang berjudul “Mantra Pejinak Ular,” justru saya anggap sebagai anomali dari jalur kreatif Kunto. Dalam novel itu, Kunto cenderung lebih verbal dan lebih “hijau” ketika menyuarakan nilai-nilai transendentalnya. Memang ia masih memadukan—juga mempertentangkan—nilai-nilai tradisi dan modernitas, tetapi “kematangan” sebagaimana yang diungkapkan Emha, tidak kita temukan. 
Memang, sejak awal Kuntowijoyo berusaha untuk melesakkan nilai-nilai transendental dalam setiap karyanya, baik yang fiksi maupun non fiksi. Transendentalisme telah menjadi paradigma kreatifnya. Ia misalnya menulis dalam sebuah makalah bahwa saat ini, “kita memerlukan sebuah ‘sastra transendental’”. Kunto mengemukakan gagasannya itu karena melihat bahwa “aktualitas tidak dicetak oleh roh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial, dan kekua-saan, sehingga kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata kongkret dan empiris yang dapat ditangkap oleh indera kita. Kesaksian kita kepada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian – jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri kita dari aktualitas, dan kedua, membebaskan diri kita dari peralatan inderawi”. (DKJ, 1984: 154). Tujuan dari sastra trensendental yang dikemukakan Kunto adalah humanisasi.
Tujuan dari sastra transendental itu akan lebih jelas kita pahami apabila kita melihat juga paradigma ilmu sosial yang ditawarkan Kunto. Dalam bukunya Paradigma Islam, Kunto menggagas suatu paradigma ilmu sosial yang berdasarkan pada nilai-nilai religi. Dia mengatakan bahwa, “kita membutuhkan ilmu-ilmu sosial profetik, yaitu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa, dan oleh siapa. Oleh karena itulah ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita dan etik dan profetik tertentu.” (Kuntowijoyo, 1993: 288).
Secara garis besar ada tiga tahapan yang diperkenalkan dalam ilmu sosial profetik, humanisasi/emansipasi, liberasi dan transendensi. Bagi Kunto, humanisasi dan luberasi tidak bisa dipisahkan dari transendensi. Keduanya harus mengarah pada nilai tansendental. (Kuntowijoyo, 1993: 338).
Dari gagasannya tentang sastra transendental serta ilmu sosial profetik, kita bisa membaca bahwa Kunto mengangankan terwujudnya sebuah sastra transformatif yang transendental. Transformatif dalam arti bahwa sastra dijadikan sebagai unsur pengubah dalam masyarakat. Dan transendental berarti bahwa perubahan yang terjadi dalam masyarakat mengarah pada perwujudan nilai-nilai transendensi. Jadi, melihat dari paradigma ilmu sosial dan karya-karya sastra yang dihasilkannya, Kunto tidak hanya mengangankan terwujudnya sebuah sastra yang transendental, tetapi lebih dari itu ia juga harus bersifat transformatif.
Kunto berupaya untuk mewujudkan gagasannya itu lewat karya sastra. Dalam beberapa cerpennya kita bisa melihat konsistensi Kuntowijoyo. Sebagian besar dari karyanya merupakan perwujudan dari keinginannya untuk membebaskan manusia dari kungkungan benda-benda, dogma-dogma, ideologi dan dari pseudo-spiritual. Tulisan ini akan mencoba menelusuri jejak-jejak strukturalisme transendental yang digagas oleh Kuntowijoyo dalam karya-karya fiksinya.

Kritik atas Manusia Modern
            Herbert Marcuse, seorang filsuf mazhab Frankfurt, mengemukakan bahwa manusia modern telah kehilangan dimensi spiritualnya. Yang tinggal dari manusia modern hanyalah dimensi material. Oleh sebab itu Marcuse menjuluki manusia modern sebagai manusia satu dimensi (one dimentional man). Dalam bahasa Kunto, manusia menjadi elemen yang mati dalam proses produksi. Modernitas telah memperbudak manusia sekedar menjadi otomat dari proses produksi. (Kuntowijoyo, 1993: 161).
            Pandangan-pandangan Kunto tentang manusia modern jelas tergambar dalam cerpen-cerpen yang terdapat dalam kumpulan Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (selanjutnya ditulis DMB). Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, menggambarkan adanya pertentangan antara dimensi material dan dimensi transendental. Tokoh ayah dalam cerpen itu merupakan tipikal khas manusia modern. Ia seorang pekerja keras. Seluruh hidupnya hanya untuk kerja. Wujud pertentangan antara material dan transendental bisa kita lihat lewat pandangan si anak tentang ayahnya, “Aku mulai segan bertemu dengan ayah…..pasti ayah akan datang dengan baju bergemuk. Kotor, seluruh badan berlumur minyak hitam. (DMB:10). Ketika sang anak ditanya tentang gunanya tangan dan si anak tidak menjawab, tokoh ayah menjawabnya sendiri, “Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, buyung…cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja.” (DMB:12). Semuanya untuk kerja. Persis seperti yang digambarkan dalam cerpen “Kuda itu Seperti Manusia Juga”, dalam kumpulan cerpen terbarunya. Manusia tak ubahnya seperti kuda, yang nilai gunanya hanya untuk diperas tenaganya. Tokoh ayah dalam DMB memandang kesempurnaan hidup bisa didapatkan dalam kerja. (DMB: 21).
            Melalui cerpen ini Kunto ingin mengemukakan bahwa hidup tidak hanya untuk kerja. Energi kehidupan ini tak bisa dihabiskan hanya untuk memenuhi kebutuhan materi. Hidup juga membutuhkan ketenangan batin. Tak ada yang lebih baik dari ketenangan jiwa. (DMB:12). Tokoh kakek, dalam cerpen ini, membedakan antara manusia satu dimensi dengan manusia berdimensi ganda. “Di luar matahari membakar. Hilir mudik kendaraan. Orang berjalan ke sana-ke mari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar, orang bertentang tentang harga. Mereka semua menipu diri sendiri. hidup ditemukan dalam ketanangan. Bukan dalam hiruk pikuk dunia.” (hlm. 12).
Tapi bagi Kunto, seorang anak kecil tetaplah anak kecil. Ia tidak bisa dipaksa untuk menjadi dewasa. Menjadi bijak. Ia boleh saja bersikap bijak. Tapi seorang anak harus tetap memiliki kepolosan, kesucian, bahkan dunianya adalah dunia main-main. Dunia khayal dan imajinasi. Kita akan ikut tersenyum ketika Kunto menggambarkan tokoh anak tersenyum reflektif melihat teman-temannya bermain layang-layang. Atau, kita akan merasa heran. Keheranan, bahkan mungkin marah akan timbul ketika kita menjadi seorang ibu dan si kecil kita bertanya, “Ibu, katakanlah. Apa yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin?” (DMB:14). Tampak sekai bahwa Kunto sangat memahami dunia anak-anak. Dan ia ingin membiarkan seorang anak tetap menjadi anak-anak. Maka, Kunto menutup ceritanya dengan gumaman sang anak: “Bagaimanapun, aku adalah anak dari ayah dan ibuku.” (DMB:22).
Pertentangan antara hiruk pikuk dunia dan ketenangan jiwa, dapat kita lihat juga dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon.” Kunto mengawali cerpennya dengan menggambarkan situasi sebuah pasar. Ketika kembali membaca cerpen itu, penulis teringat esai Goenawan Mohamad, “Zarathustra di Tengah Pasar”. Dalam tulisan itu ia mengatakan bahwa pasar merupakan sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir: kebersamaan yang semu, perjumpaan yang sementara dan hanya berlangsung di permukaan. Model sebuah pasar adalah tempat di mana orang di dekat kita adalah pesaing kita. Di dalam pasar, rasa iri bukan hal yang salah, rakus bisa jadi bagus, dan keduanya dilembagakan dalam sebuah sistem. (Kalam, No.7, 1996: 110). Heterogenitas yang ada di pasar bermuara pada satu tujuan: uang/materi. Kondisi semacam itulah yang ingin dikritik Kunto lewat cerpennya. Kondisi masyarakat satu dimensi.
Masyarakat semacam itu telah kehilangan satu hal yang sangat berharga: ketenangan dan ketentraman batin; spiritualitas. Ketentraman batin digambarkan oleh Kunto melalui persahabatan dua manusia, satu muda, satunya lagi tua. Kepolosaan dan kebijakan. Keduanya disatukan oleh kebahagiaan yang didapatkan dalam aktivitas bermain. Pemilihan judul “Burung Kecil Bersarang di Pohon”, menunjukkan bahwa inti dari jalinan peristiwa dalam cerpen ini terdapat dalam aktivitas bermain yang dilakukan oleh dua orang berbeda usia.
Ada beberapa kesamaan antara DMB dengan BKBdP. Masing-masing keduanya mempertentangkan antara hiruk pikuk dunia dan ketenangan jiwa. Dalam DMB Kunto menggunakan metafor bunga dan anak kecil untuk menggambarkan ketenangan jiwa. Dan dalam BKBdP, Kunto memilih burung kecil dan anak kecil serta aktivitas bermainnya.
Bermain, bagi Huizinga, merupakan unsur konstitutif dalam eksistensi manusia dan mencirikan siapa manusia itu sesungguhnya. Dalam kata pengantar bukunya, Homo Ludens, Fungsi dan Hakikat Permainan dalam Budaya, Prof. J. Huizinga mengatakan, julukan baru untuk manusia sebagai homo ludens (manusia bermain) sudah selayaknya perlu mendapatkan perhatian yang sama dengan sebutan-sebutan lain untuk manusia yang sudah ada sebelumnya.
Manusia suka bermain. Sebab bermain merupakan satu kegiatan yang khas manusiawi yang sifatnya universal. Dalam permainan, orang boleh—bahkan sering kali malah diharuskan—membangun sebuah dunia rekaan baru yang lain sama sekali dari kenyataan sehari-hari. Dengan demikian orang seakan harus pindah beralih dari kenyataan yang faktual ada menuju pada sebuah dunia lain yang bisa menjadikan sesuatu, seperti misalnya, kepuasan batin. (Mathias Haryadi, Basis, September, 1995: 338). Dalam cerpen BKBdP, tokoh mahaguru menemukan kepuasan batin, ketenangan dan ketentraman jiwa yang merupakan inti spiritualitas dalam aktivitas bermainnya bersama anak kecil.

Kesadaran Kolektif vs. Kesadaran Individu
            Modernitas, melalui proyek industrialisasinya, di samping telah memberikan berbagai kemudahan bagi manusia, juga telah menjebak manusia dalam budaya pop (mass culture). Budaya massa merupakan akibat dari proses massifikasi. Ini disebabkan karena dalam sektor budaya terjadi industrialisasi dan komersialisasi. Persis seperti yang diungkapkan oleh Kierkegaard di awal tulisan ini. Manusia modern telah menjelma menjadi manusia massa. Massifikasi dan kolektivisme menjadi hantu-hantu yang memusnahkan ketunggalan kepribadian manusia (Fuad Hassan, 1992:28.)
Dalam masyarakat modern, masyarakat komoditas, bagi Baudrilard, dorongan konsumsi bukanlah terutama kenikmatan atau kegunaan, melainkan keinginan untuk mengambil dan memamerkan “nilai tanda”. (Kalam, No. 7, 1996: 113). Massifikasi tidak hanya berpengaruh pada dimensi fisik-material saja, tapi juga berdampak pada pembentukan kesadaran massa. seseorang membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, tapi ia menginginkan citra yang sama dengan orang lain. Yang dia beli bukanlah nilai guna, tapi nilai citra (image value).
            Kuntowijoyo mengajukan dua cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi massifikasi, yaitu dengan (1) privatisasi dan (2) spiritualitas. (Subandi, 1997: 55). Kesadaran kolektif, bagi Kunto, selalu tidak mewakili kesadaran pribadi. Kekuatan-kekuatan yang tak terlawan memaksa kita meninggalkan fitrah. Hanya pribadi yang mempunyai roh. Rohlah yang tidak terikat oleh aktualitas, dan merupakan potensi yang memerdekakan. (DKJ, 1984: 155).
            Pentingnya kesadaran pribadi untuk menghadapi massifikasi, di antaranya digambarkan Kunto dalam cerpen “Serikat Laki-laki Tua”. Cerpen itu menampilkan sosok Kojar yang bersikeras menolak kemauan teman-temannya yang lain untuk bersam-sama memakai topi. Tokoh Kojar berkata, “Aku hanya membela hak-hakku sebagai manusia merdeka. Persetan apakah kalian menuduh ini individualisme. Persetan istilah demagogi itu…” (DMB:107). Atau dalam bagian lain, Kunto menulis bahwa tidak baik mengikuti seseorang yang berjalan di depan kita, sedangkan kita tidak tahu hendak kemana dia. (DMB:108).

Pembebasan Diri dari Realitas Semu
Kesadaran kolektif akibat massifikasi yang menjadi konsekuensi modernitas secara tak langsung telah mempengaruhi sikap manusia dalam memandang sesuatu. Manusia cenderung merasa cukup melihat sesuatu hanya pada tataran artifisialnya. Cara pandang seperti itu bisa kita lihat dalam cerpen “Anjing”. Tokoh tetangga kami digambarkan sebagai seorang laki-laki yang hanya melihat perempuan dari sisi luarnya saja (artificial). Apa yang diperbuat oleh laki-laki tersebut mewakili nafsu yang menggebu. Kunto menyimbolkan nafsu itu dengan anjing—anjing sebagai simbol nafsu dapat kita lihat juga dalam cerpen-cerpen Kunto yang lain seperti, Segenggam Tanah Kuburan dan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan—yang akhirnya dibunuh oleh tokoh tetangga.
Melalui tokoh tetangga dan tokoh istri, Kunto mencoba untuk mengkritik perilaku manusia modern. Tokoh tetangga mengawini gadis yang umurnya sepuluh tahun lebih muda karena cantik, luwes dan pandai mengaji. Rumah tangganya tidak bahagia (hlm. 46), karena sang istri tidak mau disetubuhi. Tokoh lain tipikal manusia modern adalah istri sang narator. Ia seorang perempuan yang cepat mengubah opininya ketika mendapatkan realitas yang lain. Ia, yang tadinya membenci tokoh tetangga, berubah memujinya hanya karena mendengar bahwa tetangganya itu pandai mengaji dengan suara yang bagus. (DMB, hlm. 39).
Kedua, cerpen di atas menggambarkan kondisi masyarakat konsumer. Kondisi yang di dalamnya hampir seluruh energi dipusatkan bagi pelayanan hawa nafsu—nafsu kebendaan, kekayaan, kekuasaan, seksual, ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, keindahan; sementara hanya sedikit ruang bagi penajaman hati, dan pencerahan spiritual.

Spiritualitas dan Pseudo Spiritual
Kondisi masyarakat semacam itu tidak hanya berpengaruh pada berubahnya pandangan masyarakat dalam bidang-bidang material. Budaya virtual, menurut Yasraf, telah melenyapkan batas antara spiritual dan spititual semu (pseudo spiritual). (Yasraf, 1998: 31). Masyarakat kontemporer mementingkan ibadah ritual dan melupakan ibadah sosial. Ritual yang dilaksanakannya pun hanya berkisar pada ritual kasar yang kasat mata, tidak dibarengi dengan ketangan jiwa dan kedekatan hati pada Tuhan.
Gambaran seperti itu dapat kita lihat pada cerpen yang berjudul “Anjing”. Dalam cerpen itu, Kunto mengkritik umat Islam yang berpijak hanya pada realitas artifisial. “Memelihara anjing, sepanjang pengetahuan tak dilarang oleh agama.” Kata sang suami. “Tidak dilarang tetapi patutkah kita memelihara najis” (jawaban si istri). (DMB: 32). Tokoh istri digambarkan sebagai seorang istri yang pintar, berpendidikan, taat pada suami dan bertetangga dengan baik. Tapi ia selalu memandang realitas hanya pada permukaannya saja. Begitu pula dalam beragama. Ia membenci anjing, karena najis. Juga karena tiap malam suka menggonggong dan menggganggu tidurnya (DMB: 31). Ia membenci tetangganya, karena tetangganya memiliki anjing. Tapi kemudian ia menyukai anjing itu setelah tahu pemiliknya pandai mengaji. (DMB: 39).
Kunto juga mengkritik religiusitas semu dalam cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Kunto mengkritik tokoh-tokoh agama yang berrumah di atas angin. Pemuka-pemuka spiritual yang merasa paling suci. Serta kyai-kyai yang enggan bersentuhan dengan masyarakat yang dianggapnya berdosa. (DMB: 185). Ia juga mengkritik umat yang selalu melihat manusia dari ukuran luarnya saja. Ia mengkritik masyarakat awam yang sering melakukan kultus individu. (DMB: 197-198). Dengan cerpen ini, Kunto ingin berkata bahwa, nilai spiritual tidak hanya terletak pada rutinitas ritual kita. Religiusitas murni bisa kita dapatkan dalam hati yang tenang dan jiwa yang tentram. Tokoh mahaguru tauhid lebih memilih untuk menolong seorang anak kecil menangkap burung dan meninggalkan rutinitasnya sebagai khatib. Ia lebih menyukai ketentraman jiwa dan ketenangan hati.(DMB: 199).
Kunto tidak hanya melakukan kritik atas praktik beragama yang jelek. Ia juga mengajukan contoh tentang bagaimana beragama yang ideal. Kunto terlihat konsisten ketika menggarap cerpen “Sepotong Kayu untuk Tuhan”. Sesuai dengan gagasannya tentang sastra transendental, cerpen itu berusaha untuk memanusiakan manusia. Cerpen itu menjadi arus balik yang melawan dehumanisasi. Tokoh kakek digambarkan sebagai seorang tua bijak, pekerja keras dan taat beribadah. Apa yang dilakukannya untuk manusia, didasarkan atas keyakinan bahwa itu akan sampai pada Tuhan. Keikhlasan dan ketulusan telah menjadi barang langka ketika kebanggaan pada diri sendiri dan individualisme merajai dunia. Tokoh kakek merupakan gambaran manusia religius. “Kayu itu akan kita sumbangkan untuk pembangunan Rumah Tuhan, istriku.” Istrinya akan senang, memuji syukur. Pada saat-saat terakhir dari hidup mereka, masih sempat juga beramal. (DMB: 113). Kayu itu akan membuatnya tersenyum pada hari kematiannya. Ketika itu, boleh jadi tubuhnya telah hancur oleh tanah di kuburnya. (DMB: 115).

Kritik atas Mistisisme
Cerpen-cerpen Kunto menjadi gambaran nyata dari paradigma ilmu sosialnya yang berlandaskan tiga nilai, liberasi, emansipasi dan transendensi. Kunto ingin membebaskan manusia dari penjara-penjara, serta ikatan yang membelenggu. Ia tidak hanya mengkritik modernisme, tetapi juga melakukan kritik terhadap mistisisme. Hal itu bisa kita lihat dalam cerpen yang berjudul “Segenggam Tanah Kuburan”. Lagi-lagi, hawa nafsu telah menjadi pemicu utama manusia untuk melakukan tindak kejahatan. Memburu kesenangan jasmani. Mencampakkan nilai-nilai transendental. Karena ingin minum tuak sepuasnya, menyepikan diri bersama perempuan, dan bisa mengundang ledek untuk bernyanyi, sang maling dalam cerpen ini, merampok. (DMB: 58). Untuk mencapai tujuannya, sang maling menggunakan mistik (DMB: 49, 60, 61). Cerpen ini memiliki kesamaan tema dengan cerpen “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”, cerpen terbaik KOMPAS. Keduanya mengkritik mistisisme yang digunakan sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu. Tapi dari sisi literal-estetis, AMK lebih baik dari STK. Metafor-metafor yang digunakan dalam AMK lebih mudah untuk dicerna.
Dalam STK, Kunto memilih tokoh orang tua untuk melawan kekuatan mistik yang dikerahkan oleh si maling. Uniknya, media yang digunakan untuk melawan mistik adalah nilai-nilai tradisional yang digambarkan dengan pelantunan kidung penolak tenung. Kidung yang dilantunkan dengan suara yang lembut, menggambarkan kondisi hati yang tentram, jiwa yang bersih, luput dari nafsu. Lewat cerpen ini, sekali lagi Kunto ingin mengatakan bahwa ketenangan dan ketentraman jiwa bisa mengalahkan amarah dan nafsu.
Dalam cerpen yang lain, “Ikan-ikan dalam Sendang”, Kunto seolah-olah berkata bahwa tempat-tempat magis, dan benda-benda keramat, semuanya hanyalah cerita yang dibuat-buat oleh manusia untuk kepentingan tertentu. Pada halaman 153 tertulis, “Orang kampung menganggap sendang itu sendang keramat. Itu cerita turun-temurun. Dan kebanyakan, dia sendiri yang menceritakan itu.” Berbeda dengan cerpen-cerpen yang lain, dalam cerpen IdS, orang tua digambarkan sebagai orang rakus dan ingin menang sendiri. (DMB: 157, 163-164).
Cerpen ini juga mengkritik masyarakat umum yang mempercayai sesuatu tanpa pernah menyelidikinya terlebih dahulu (DMB: 166). Juga mengkritik masyarakat yang meyakini mistik tanpa mengetahui hakikat yang ada di balik suatu benda. (DMB: 159). Mereka membanggakan sesuatu yang hampa dan tak bermakna. Mereka mengagungkan pohon beringin putih dan sendang keramat (DMB: 159).
Dalam cerpen lainnya, “Mengail Ikan di Sungai”, Kunto mengungkapkan bahwa penciptaan mitos yang dilakukan oleh manusia, telah mempengaruhi imajinasi anak-anak. Mereka menjadi kehilangan daya imajinasi dan kreasinya. Tokoh Romli digambarkan sebagai anak kecil yang terobsesi untuk memiliki kail keramat. (DMB: 175). Kesadaran kolektif yang diciptakan mitos, telah membuat Romli lebih mementingkan batang kail bekas pengukur mayat dibandingkan kesembuhan ayahnya. Ia membolos beberapa hari hanya untuk menunggu kematian ayahnya. (DMB: 178). Secara tak sadar, ia mengharapkan agar ayahnya mati, dan ia bisa mendapatkan batang kail keramat. (DMB: 178-179).
Tapi sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Romli hanya untuk memuaskan hasratnya saja. Ia ingin mengalami apa yang dirasakan oleh Pak Kajin, seperti tokoh anak yang juga ingin merasakan mengail dengan batang kail keramat. (DMB: 175).

Penutup
            Sebagian besar cerpen Kuntowijoyo merupakan representasi dari pemikirannya mengenai Ilmu Sosial Prefetik dan sastra transendental. Pemikiran tentang liberasi, emansipasi dan transendensi, dapat kita temukan dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, “Anjing”, “Segenggam Tanah Kuburan”, “Ikan-ikan dalam Sendang”, “Mengail Ikan di Sungai”, “Burung Kecil Bersarang di Pohon”, dan “Serikat Laki-Laki Tua”. Sedangkan cerpen “Sepotong Kayu untuk Tuhan” dan “Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah”, merupakan gambaran ideal tentang hubungan antara manusia dengan manusia lain dan manusia dengan Tuhan-nya.
Ada anomali yang kita temukan dalam penokohan Kunto. Pada sebagian besar cerpennya, Kunto selalu memakai tokoh anak-kecil dan/atau orang tua (DMB, STK, SkuT, GiBdMR, BKBdP). Dalam semua cerpen itu, Kunto meggambarkan sosok orang tua sebagai seorang yang penuh dengan kebijakan, dan lemah lembut (DMB, BKBdP, GiBdMR), penuh pengalaman (DMB, BKBdP), serta memiliki visi yang jauh ke depan (DMB). Dan tokoh anak memiliki kepolosan, kadang juga bijak (DMB), kesucian (GiBdMR), dan kegembiraan (BKBdP).
Tapi dalam cerpen “Serikat Laki-Laki Tua” orang tua digambarkan sebagai—meminjam ungkapan Bung Karno—old established generation. Begitu juga dalam cerpen “Ikan-ikan dalam Sendang”. Orang tua seperti itu memiliki kecenderungan untuk banyak omong. Ia ingin menceritakan segala hal, bahkan tidak saja merasa tahu semua hal, tetapi juga merasa berjasa dalam hal apa saja. Ia tidak saja menempatkan diri sebagai tokoh pembuat sejarah, tetapi juga melakonkan diri sebagai tokoh pembuat sejarah. Perjalanan historis seakan baru berarti karena peran dan keterlibatannya.
Gambaran anak kecil dalam cerpen “Mengail Ikan di Sungai”, berbeda dengan gambaran anak kecil pada umumnya cerpen Kuntowijoyo. Dalam cerpen itu, kenakalan lebih ditonjolkan, dibanding kepolosannya. Imajinasi yang dimilikinya juga terlalu liar (mengharap kematian ayah hanya untuk mendapatkaan batang kail keramat).
Dari sisi estetika cerpen, Kunto, pada sebagian besar cerpennya, berhasil menggabungkan—meminjam ungkapn Kleiden—makna dengan peristiwa. Peristiwa yang dijalin dalam cerpennya, sarat makna. Dan pada DMB menjadi multi-interpretable. Sense, makna tekstual dan refference atau makna referensial, digarap dengan sangat bagus.
Makna-makna yang terkandung dalam cerpen-cerpennya, bisa kita dapatkan dari judul yang digunakan Kunto. Simbolisasi yang digunakan, pada sebagian besar cerpen, sangat bagus. Bunga dan burung kecil sebagai lambang kesucian dan ketenangan jiwa. Samurai, metafor dari kejantanan dan dominasi pria. Juga Anjing sebagai perlambang dari nafsu.
Dialektika makna-peristiwa, terjalin sangat bagus dalam cerpen DMB, SKuT, dan BKBdP. Jalinan makna-peristiwa, dalam cerpen lainnya kurang mendapat perhatian Kunto. Bahkan dalam cerpen STK, kita kehilangan makna, berbeda dengan “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan.” Juga dalam cerpen Serikat Laki-Laki Tua.

Dedi Ahimsa berprofesi sebagai Naib dan Sastrawan, dan beliau pernah menjadi dosen Bahasa dan Sastra Inggris.

Kamis, 22 Desember 2011

Hasan(the)isme


Oleh Bunyamin Fasya*

Prolog

Manusia modern menurut Gabriel Marcel, cenderung melihat manusia lain sebagai ‘engkau’ yang keberadaannya dianggap berguna hanya ketika memberikan manfaat dan keuntungan bagi ‘aku’. Inilah yang disebut oleh Marcel sebagai hubungan aku-engkau, suatu jenis hubungan subjek-objek. Hubungan yang seperti itu merupakan hubungan yang berbahaya karena hubungan tersebut akan menjadikan manusia-manusia yang individualis, tidak peduli pada orang lain di sekitar dirinya.

Kecenderungan memandang orang lain sebagai bagian—di luar dirinya ini, tidak hanya sebatas pada hubungan interaksi sosial melainkan sudah pada wilayah idealisme. Idealisme yang dimaksud adalah sebuah bentukan tradisi berkepercayaan terhadap Tuhan baik secara praktik maupun konsep berpikir, sebagaimana yang ditanamkan oleh leluhurnya. Ketika leluhurnya beragama Islam misalnya, maka idealisme atau keyakinan keturunannya harus berdasarkan dengan ajaran agama Islam.

Namun ajaran yang ditanamkan oleh leluhur itu tidak menjamin bahwa idealisme atau keyakinan itu akan dianut oleh si individu secara liniar. Bisa jadi seiring dengan perkembangan peradaban manusia, keyakinan itu bisa berubah sesuai dengan kehendak baru yang diyakininya. Faktor psikologis seseorang ketika bertemu atau menemukan realitas baru atau ganjil akan menentukan segalanya—ia bisa ke kanan dan ke kiri.

Pembicaraan di atas bisa ditemukan pada gambaran realitas manusia dalam teks sastra Roman Atheis karangan Achdiat K. Miharja. Di dalam Roman ini, menceritakan  tokoh Hasan seorang pemuda desa yang taat beragama, namun karena bergaul dengan orang-orang yang beraliran materialisme (kebendaan), kejiwaan Hasan menjadi terganggu—kepercayaannya terhadap Tuhan yang diyakininya menjadi pudar.

Sebelumnya Hasan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang taat beragama yaitu Islam.Hasan adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng gunung Telaga Bodas. Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam, Ayahnya Raden Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik, sopan, berilmu dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, walaupun Hasan masih kecil, tapi dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat. Hasan selalu patuh kepada semua peraturan kedua orang tuanya.

Suatu hari, ia bertemu dengan Rusli, sahabat karib masa kecil Hasan. Rusli mempunyai sahabat perempuan, Kartini yang sangat memesona bagi Hasan. Saat Hasan mengetahui bahwa Rusli dan Kartini adalah seorang atheis, ia terkejut dan menjauhi mereka. Hal ini dilakukan agar ia tidak ikut terpengaruh menjadi seorang atheis seperti mereka. Namun, niat itu diurungkannya. Perlahan – lahan, Rusli dan Kartini memberikan pengaruh terhadap perkembangan iman Hasan, membuat dirinya yang seorang agamawan fanatik menjadi seorang atheis. Ditambah lagi, muncul seorang atheis fanatik bernama Anwar, sahabat Rusli. Lambat laun, ia menganggap menjalankan kewajiban agama sebagai suatu perbuatan yang terlarang.

Eksistensi Hasan Sebagai Manusia
Dunia manusia adalah dunia wacana. Mengutip Prof. Dr. Fuad hasan, kemampuan berpikir merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni ‘a world of discourse’. Melalui kesanggupannya itu, manusia mengutarakan pikirannya dan pendapatnya (logos), gairah dan perasaannya (phatos), serta adab dan susilanya (ethos).

Eksistensi menurut Karl Jaspers (Syamsudin, 1997: 76), berdiri berhadapan dengan transendensi, sama dengan kebebasan yang diberi isi. Dengan begitu manusialah yang memberi arti dan isi kepada hidupnya sendiri. Manusia bukanlah kenyataan yang berkeping-keping, yang bergerak dari masa kini ke masa lainnya. Manusia adalah sekaligus masa lampau, masa kini dan masa datang. Manusia mempunyai “sikap” sejarah. Historisitas merupakan struktur konstitutif eksistensi manusia (W. Poespoprodjo, 1987: 8-9).

Sebagaimana di atas telah digambarkan bahwa keberadaan leluhur dalam beragama menjadi kriteria utama dalam keturunannnya. Hasan merupakan contoh historisitas struktur konstitutif eksistensinya sebagai  manusia. Historisitas itu dibentuk oleh orang tuanya yang taat beragama.

Keberadaan manusia (Hasan) sebagai hamba dan sebagai khalifah Allah di muka bumi, merupakan suatu kenyataan apriori (imani) bagi umat Islam. Posisi dilematis, bahkan paradoks tersebut (juga posisi manusia atas alam dan manusia lain) menjadi dasar ontologis keimanan dalam agama. Kemestian beribadah seorang manusia, sebagai contoh, didasarkan pada keyakinan akan posisinya sebagai hamba di hadapan Tuhan. Posisi ini, secara epistimelogis, mensyaratkan sikap apriori, tanpa reserve, untuk menghambakan dirinya pada Tuhan. Akan tetapi, di sisi lain, posisi manusia sebagai khalifah mensyaratkan kemerdekaan manusia untuk berkreasi, mengaktualisasikan seluruh potensi yang diberikan Tuhan pada dirinya. Yaitu, potensi indera, pikir, rasa, dan potensi-potensi lainnya untuk berkreasi.

Keberadaan manusia pada posisi itu, merupakan cerminan Hasan ketika dia mengalami dilematis mental setelah pertemuannya dengan Rusli dan Kartini. Rusli yang atheis mencoba meretakkan keimanan Hasan. Pada peristiwa ini Hasan membuktikan kemerdekaannya dalam berkreasi—ia mengikuti faham atheisme yang dianut Rusli. Secara umum kreasi Hasan dalam sikap tidak hanya digambarkan dalam tingkah lakunya saja yang sudah meninggalkan ibadah melainkan pada sikap tutur Hasan yang cenderung kontroversi.

”Baru sekali  ini aku bertengkar dengan orang  tua. Dan alangkah hebatnya pertengkaran  itu  pertengkaran  paham,  pertengkaran  pendirian,  pertengkaran kepercayaan. Tapi ah, mengapa aku tidak bersandiwara saja ? mengapa aku harus berterang-terangan  memperlihatkan  sikapku  yang  telah  berubah  itu  terhadap  agama?”

Secara eksistensial, Hasan berada dalam himpitan antara tekanan-tekanan primordialnya sebagai hamba Tuhan dan sebagai khalifah. Selanjutnya, secara ontologis, pluralitas Hasan sebagai makhluk biologis (sebagai bagian integral dari kenyataan alamiah), dan sebagai makhluk ruhaniah, telah menghadirkan dilema ontologis yang berimplikasi pada dilema epistemilogis pula.
Hasan yang mengalami dilematis diri itu tergambar pada perubahan psikisnya yang mulai merasakan kesalahan-kesalahan dirinya terhadap Tuhan, Kartini bahkan pada orang tuanya. Hasan teringat akan nasihat-nasihat yang diberikan orang tuanya.

”Aku mengucap beribu syukur alhamdulillah, bahwa aku hanya menjadi ”pembunuh” di dalam khayal. Mengucap syukur alhamdulillah, karena aku merasa sudah terlalu berat berdosa. Berdosa terhadap orang tua sendiri. Berdosa...juga terhadap Kartini, yang terlalu bengis kuperlakukan. Berdosa terhadap Tuhan Yang Mahakuasa. Ya, terhadap Tuhan yang selama ini sudah kuabaikan segala perintah-Nya.”

Dengan demikian, kehidupan manusia sangat ditentukan oleh cara pandangnya terhadap diri dan segala sesuatu di luar dirinya. Hal ini secara gamblang dijelaskan C.A. van Peursen dalam tiga tipologis mental budaya manusia, yaitu: pertama, mental mitis yang melahirkan manusia-manusia statis karena memasukkan dirinya dan menjadikan dirinya sebagai bagian integral dari wilayah imanen. Kedua mental ontologis yang melahirkan sikap mengambil jarak (eliminasi) antar manusia dengan segala sesuatu di luar dirinya. Mental ontologis ini memiliki kecenderungan untuk melakukan eksploitasi terhadap apa-apa yang ada di luar diri, sebagai objek. Dan, mental yang ketiga, adalah mental fungsional yang berusaha melakukan relasi antara dirinya dengan sesuatu di luar dirinya, relasi ini berpijak di atas prinsip-prinsip fungsional.

Ketiga mental tersebut merupakan gambaran manusia pada sisi eksistensinya sebagai manusia dalam prerilaku keberfungsiannya sebagai makhluk sosial yang bertitik pada psikologis dirinya. Psikologis ini, merupakan hasil kontak diri manusia (Hasan) dengan lingkungannya dan di luar dirinya—Tuhan, Kartini, Rusli, Anwar, Orangtuanya.

Epilog

Dalam konteks budaya, seorang manusia secara kodrati senantiasa berhadapan dan berada dalam masyarakatnya, homo socius. Masyarakat telah ada sebelum seorang individu dilahirkan dan masih akan ada sesudah individu tersebut mati. Lebih dari itu, di dalam masyarakatlah dan sebagai hasil proses sosial, individu menjadi sosok pribadi, ia memperoleh dan berpegang pada suatu identitas.

Manusia tidak akan eksis bila terpisah dari masyarakat. Dengan kata lain, bahwa masyarakat (sebagai kumpulan individu-individu manusia) diciptakan oleh manusia dan manusia merupakan produk dari masyarakat. Kedua hal tersebut menggambarkan adanya dialektika inhern dari fenomena masyarakat.
Proses dialektika fundamental tersebut, menurut Berger, terdiri dari tiga momentum, yaitu: internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. Ketika seorang manuisa hidup dalam masyarakat, ia akan senantiasa menganggap dirinya sebagai bagian penting dari masyarakat tersebut. Keadaan dan proses inilah yang dikenal dengan eksternalisasi.

Dalam Atheis, Achdiat K. Miharja, menggambarkan ekternalisasi tersebut pada sosok Hasan yang berusaha kembali pada orang tuanya. Berusaha kembali pada rahim ibunya pada sarakannya, yang menjadi eksistensi diri Hasan yang sebenarnya. Meski harus menempuh jalan kematian yang tak disengaja.

Tiba-tiba… tar tar tar aduh
“Hasan  jatuh  tersungkur.  Darah  menyerobot  dari  pahanya.  Ia  jatuh pingsan.  Peluru  senapan  menembus  daging  pahanya  sebelah  kiri.  Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling  sebentar  di  atas  aspal,  bermandikan  darah.  Kemudian  dengan  bibir melepas kata...”Allahu Akbar”, tak bergerak lagi….
Wallahu ‘alam bi al-shawab.

* Penyair, aktif di FAS (Forum Alternatif Sastra) Bandung.

Selasa, 06 Desember 2011

Modernitas dalam Novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” (Resensi Diskusi di komunitas Sasaka novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”)


Oleh Asep Gunawan

Dalam dunia kesusastraan Indonesia pra kemderdekaan semua tentunya mengenal novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” karya seorang intelektual Hamka. Novel tersebut dicetak sekitaran 1936, tentunya ini termasuk karya sastra klasik yang begitu dahsyat. Yang termaktub dalam khazanah kesusastraan Indonesia sampai saat ini.

Ketika kita membaca karya Hamka yang satu ini, praktis imaji kita akan dibawa pada romantisme kondisi Indonesia pra merdeka. Setting yang diambil pada karyanya yang satu ini bercerita tentang tanah Minang, tanah yang sangat kental akan lokalitas budayanya, terutama paham matriarki yang dianutnya. Dan Hamka sedikitnya mengambil titik pijak narasinya dengan adat ini, terbukti ketika di awal cerita kita akan disuguhkan mengenai konflik antara Sutan Pandekar dengan Mamaknya Yang berujung dengan diusir dan dipenjaranya Sutan Pandekar di Cilacap setelah dengan tidak sengaja membunuh Mamaknya.
Selain landsekap tanah Minang, Hamka juga cukup pandai dalam mendeskripsikan tanah Mengkasar, yang jadi tanah pijakan kedua bagi Sutan Pandekar, sampai dia menikah dan memiliki anak di sana.

Zainudin, si anak campuran darah mengkasar dan Minang itu, mesti menerima kenyataan pahit bahwasannya leluhur ayahnya di Minang tidak pernah mengakui dirinya sebagai seorang keturunan Minang. Karena adat dan tradisi di sana yang beranggapan bahwa orang Minang haruslah beristrikan orang lokal. Selain juga budaya matriarki yang dipegang kuat di padang Panjang ini. Hingga membuat kisah cinta Zainudin dengan Hayati tak kesampain lantaran adat yang menjadi tembok pemisah keduanya. selain pada akhirnya, lagi – lagi zainudin harus menelan pil pahit, mengingat Hayati lebih memilih untuk menikah dengan Aziz yang secara ekonomi lebih mapan dibanding Zainudin.

Wacana modernitas

Kelahiran suatu karya memang pada dasarnya dibidani oleh keadaan social pengarangnya. Di mana banyak phenomena – phenomena yang melatarbelakangi kelahiran karya sastra dan sedikit banyaknya direflesikan oleh sang pengarang dalam karyanya. Karena pada dasarnya karya sastra merupakn pencerminan keadaan masyarakat pada saat tertentu. (Ian Watt dalam Faruk: 2010)

Begitupun Hamka, yang mendeskripsikan adanya gejala – gejala modernitas yang merasuk pada tatanan pranata social pada orang – orang Indonesia. Paling tidak ada dua aspek yang cukup terlihat pada ceritanya yang satu ini. Yang pertama mungkin, semakin lunturnya nilai – nilai moral dan religious yang menjadi pondasi kuat bangsa Indonesia, terutama Minang. Dan yang kedua, munculnya sikap materialism pada setiap individu, yang dengan mudahnya menanggap bahwa materilah yang menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang.(I. Bambang Sugiharto: 1996).

Kedua gejala tersebut cukup berhasil direfresentasikan pada kedua tokohnya, Aziz dan Hayati. Aziz yang notabene, berasal dari keluarga elit yang telah bersinggungan dengan modernitas, yang dicirikan dengan pola hidupnya yang cenderung matrealistis dan menjurus pada kehidupan hedonis, hingga berakhir tragis. Sedang, Hayati tentunya tak lepas dari judgment yang sama, keputusannya untuk memilih menikah dengan Aziz selain dorongan dari kelurganya,  materi pulalah yang dijadikan pertimbangan olehnya, mengingat Aziz merupakan orang yang “ada”.

Modernitas, memang salah satu unsur yang diperkenalkan oleh bangsa Barat yang secara melalui kolonialismenya. Melalui modernitas seolah bangsa kita diajak untuk lebih berfikir maju dan logis, sehingga kadang melupakan budaya primordial kita. Namun lagi – lagi ketidaksiapan mental Indonesia dalam memaknai modernitas, nampaknya menjadi boomerang bagi kita. Karena memang, bangsa Indonesia bisa dibilang saat itu, sedang mengalami masa transisi dari pola hidup tradisional menuju pola hidup modern.

Budaya lokal tentu saja akan selalu menjadi lawan bagi budaya global yang masuk. Namun mungkin Hamka ingin memberikan gambaran akan sebuah ketidaksiapan mental jika memang terlalu terbuka menyerap semua unsur modernitas yang diterapkan barat pada Indonesia khusunya, akan berakhir dengan sebuah ketragisan. Tak mengherankan, mindset seperti ini memang sudah menjadi wacana global bagi semua negara – negara pasca kolonial untuk meniru si penjajah atau kalau meminjam istilah Homi. K. Bhaha, Mimikri. Semua produk Barat baik sikap, pemikiran atau life style, akan menjadi bahan acuan bagi bangsa terjajah hingga bermuara pada sebuah wujud peniruan, yang salah satunya tentang modernitas.

Namun Hamka, dengan pandai membungkusnya dengan model narasi yang tidak terlalu fulgar menceritakan wacana itu, hingga yakni tema cintalah yang seolah muncul ke permukaan. Tentunya, hamka tidak serta merta memberikan gambaran itu jika tidak merujuk pada phenomena sosial yang sedang terjadi kala itu. Persentuhan Barat dan local melahirkan perubahan paradigma yang kadang mengancam budaya local hingga bisa mengakibatkan tercerabutnya nilai lokalitas yang sejak dulu tertanam.

Peran Akar Primordial

Di dalam sebuah karya tentunya mengandung ideology pengarang. Ideology – ideology yang ingin disampaikan terhadap para pembacanya. Jika melirik background Hamka yang seorang Buya, atau seorang tokoh Islam, tentunya nilai – nila islamilah yang ingin dia sampaikan, namun tidak terlepas dari akar primordial bangsa Indonesia. Paling tidak kedua hal itulah yang harus dijadikan pijakan utama bagi bangsa Indonesia dalam memaknai modernitas atau globalitas secara umum.

Pada kontek kekinians, modernitas semakin buas terlihat dan tanpa ampun menghempaskan nilai lokalitas bangsa kita. Nilai moral dan religious semakin berbanding terbalik dengan pola pikir ke-Baratan yang semakin menguat. Walhasil, sikap hidup yang selalu diorientasikan pada materilah yang laku bagi setiap pendirian seseorang. Hingga setiap orang harus selalu bersaing satu sama lain dalam meraih materi, walaupun harus ada yang “dikorbankan”, sebuah sikap masyarkat yang cenderung tidak manusiawi, hingga tidak aneh kalau krisis multi dimensi di Indonesia tak pernah menemui titik akhirnya.

Paling tidak secara implisit Hamka ingin mengutarakan bahwa globalitas apapun itu bentuknya tak harus membuat kita tercerabut dari nilai – nilai local yang kita anut. Karena hal itulah yang menjadi satu – satunya identitas di dalam dunia global yang semakin menghapus batasan – batasan budaya antar bangsa. Baiknya secara bijak kita menyambut modernitas itu dengan penuh pertimbangan, bukan malah dengan tangan terbuka hingga menyerap dan menerapkannya secara total dalam kehidupan kita. untuk itu sikap kritis sangatlah dibutuhkan agar bangsa kita tidak menjadi bangsa yang tergerus budaya global. Dan tentunya dengan tetap menjaga citra sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai religious dan akar primordial kita.

Penulis, Mahasiswa Sastra Inggris UIN Bandung, bergiat di Komunitas Sasaka

Senin, 28 November 2011

SANG SUREALIS DAN NOBEL SASTRA 2011


Penganugrahan nobel kesusastraan telah disiarkan. Betapa tidak, moment tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh semua sastrawan di seluruh dunia. Sebab perayaan tersebut menjadi semacam kebanggaan bagi para sastrawan dunia. Yang karyanya bagus dan memukau dewan juri maka akan masuk nominasi, tentu saja ada beberapa kategori yang khusus untuk menentukan siapa pemenangnya.


Terlebih setelah komite hadiah Nobel di Akademi Kerajaan Swedia, Kamis (06/10) di Stockholm mengumumkannya. Yakni penyair Swedia, Tomas Transtroemer (80) meraih hadiah Nobel sastra 2011, Trantroemer kerap menyuguhkan karya yang sederhana tetapi berbau mistik tentang alam, sejarah, dan kematian, seperti yang di ungkapkan  juri Swedis Acamedy “Transtroemer dianugerahi hadiah bergengsi itu karena mampu menghadirkan gambaran realitas yang "tembus cahaya", ringkas, dan padat. "Dia memberi kita akses segar ke arah realitas".


Puisinya penuh dengan imajinasi dan emosi, tetapi juga berisi hal-hal yang tak disangka-sangka sehingga membuat karyanya secara bersamaan disorientasi dan menyegarkan.
    
Selan itu, Transtomer yang terkenal di kawasan Skandinavia itu disebut-sebut master of mysticism, selalu mempersembahkan kesadaran seperti mimpi. "Sebagian besar koleksi puisi Transtroemer berciri ekonomi, hal-hal konkret, dan metafora. "Transtroemer telah beralih menuju format yang bahkan lebih kecil dengan derajat konsentrasi lebih tinggi," tutur salah satu juri.
    
Di sisi lain dalam jumpa persnya, Transtroemer yang murah senyum mengatakan bahwa hadiah yang diberikan terhadapnya terasa "sangat istimewa". orang Swedia ketujuh yang meraih hadiah bergengsi itu, akan menerima hadiah senilai 10 juta kronor Swedia (1,48 juta dollar AS atau 1,08 juta euro) pada acara penyerahan di Stockholm pada 10 Desember. Sementara istrinya, Monica, menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan karena suaminya menderita stroke pada 1990, yang menyebabkan kemampuan komunikasinya terganggu.


Uniknya sekretaris tetap Swedish Akademy, Peter Englund, mengatakan kepada televisi Swedia bahwa Transtroemer telah dinominasikan untuk hadiah itu setiap tahun sejak 1993.    
Oleh karenanya "Karyanya tentang kematian, sejarah, dan kenangan, melihat kita, menciptakan kita, dan membuat kita penting karena manusia bagian dari penjara tempat semua entitas besar bertemu," kata Englund kepada laman the nobelprize.org.
    
Sementara buku-buku kumpulan puisinya antara lain The Great Enigma: New Collected Poems (New Directions, 2006), The Half-Finished Heaven (2001); New Collected Poems (1997); For the Living and the Dead (1995); Baltics (1975); dan Windows and Stones (1972).


Perkenalan dengan Penyair Amerika


          Dilahirkan di Stockholm tahun 1931, Transtromer dibesarkan seorang diri oleh ibunya seorang guru setelah dia bercerai dengan ayahnya -- seorang wartawan. Dia mulai menulis puisi saat belajar di Sekolah Sodra Latin di Stockholm dan mencapai debutnya dengan koleksi "Seventeen Poems" pada usia 23 tahun setelah itu sejak tahun 1950-an, Transtromer berteman akrab dengan penyair Amerika Robert Bly, yang mengalihbahasakan banyak karyanya dalam bahasa Inggris dan beberapa Karya-karyanya telah dialihbahasakan ke lebih 50 bahasa.


Dengan demikian kita dapat melihat bahwa perkenalannya dengan penyair lain diluar negaranya dapat memberikan seseuatu yang baru, selebihnya dapat menciptakan karya menjadi di baca oleh semua orang, dengan bahasa yang diterjemahkan, tentunya ini faktor lain mengapa Transtomer mendapatkan hadiah tersebut.


           Dari perhelatan tersebut, ada pertanyaan kapan Indonesia akan menyandang gelar tersebut? Ya sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan, selama karya sastra Indonesia telah dan dapat dibaca oleh orang dunia, dengan cara titik perantaranya adalah penerjemah. Kita sebagai masyarakat tidak hanya sebatas mengkonsumsi karya dunia, tentu kita juga harus di konsumsi oleh dunia.


Oleh karenanya dari hadiah nobel sastra tersebut dapat diambil beberapa point tertentu, semisal apa yang Jose Saramago, sastrawan Portugal pemenang hadiah nobel kesusastraan pada tahun 1998, bahwa karya sastra dunia diciptakan penerjemah, jadi posisi penerjemah sangat berperan penting untuk membuat karya sastra menjadi dibaca dan terpahami oleh dunia, sebab biasanya karya tersebut telah di alihbahasakan ke bahasa Inggris.


Pada titik inilah, sementara puisi “sang surealis” itu akan dinanti pasar pembaca sastra khususnya di Indonesia, karena akan diterjemahkan dan beberapa penyuka puisi sudah  mencoba menterjemahkan itu, lihat saja di internet-ruang-ruang maya, puisi Tranformer sudah mulai diterjemahkan, kita akan selalu menunggu akan terjemahan dari karya yang tentunya berkualitas, semoga dapat menjadi pelajaran.


*Oleh. Pungkit Wijaya, Penulis, penikmat puisi dan sedang menulis skripsi, bergiat di Forum Alternatif Sastra (FAS) Bandung.

Jumat, 14 Oktober 2011

IDENTITAS


Pada suatu hari di pameran lukisan, Saya melihat drawing karya seseorang yang tentu saja saya kenal orangnya. Saya melihat drwaing tersebut, sebuah patung liberti berwarna hitam dan biru, tetapi tidak seperti laiknya liberti yang sebenarnya, pelukis tersebut mengganti obor yang di usung tangan kanannya oleh sebuah pot bunga. Mula-mula saya jadi ingin tertawa melihat karya tersebut sambil bertanya,
“kenapa ya, ko obornya di ganti oleh pot bunga”.
sambil melihat-lihat lukisan lain di sekitar dinding itu saya membayangkan drawing tadi, dan tiba-tiba ada seorang teman untuk mengajak ngbrol dengan sendirinya saya lupa dengan drawing itu dan keasyikan mengobrol sampai pulang.

Berangkatlah saya ke tempat Tolabul Ilmu, tempatnya lumayan cukup jauh dari tempat menitipkan baju dan sepatu, tentu nya saya di perjalan sebelum tiba di sana sempat berpikir

“ jikalau menuntut ilmu mendapat pahala, apalagi jauh tempatnya wah, pahalanya juga pasti di tambah”
Namun dengan jarak 15 menit saya pun tiba di sana. Dengan panas dan penuh keringat memenuhi tubuh saya kembali bertanya
“ memang siapa yang akan menambah pahalanya, meskipun tempat tolabul ilmu saya jauh dan sedikit menguras keringat dan mengeluarkan kocek uang”
Sambil menghela nafas, Saya memang seorang mahasiswa yang “tidak disiplin” katanya, memang itu kata seorang dosen,
“sudah datangnya kesiangan ke kelas lalu tidak memakai sepatu dan berpakain tidak rapih”
Memang waktu itu saya tidak mekakai sepatu, hanya memakai sendal saja dan memakai pakaian seadanya. sebelumnya memang saya tidak mandi karen di kostan stok air sedang habis jadi ya seadanya sajalah, tetapi yang penting gosok gigi agar tak bau nafas.
fikir saya begini
“ yang penting gosok gigi meskipun tidak mandi asalkan jangan korupsi tetapi harus berbaik hati. 
Setelah itu, saya duduk di bangku sambil menyadari kesalahan saya sebagai mahasiswa yang “tidak disiplin” atau setidaknya tidak mematuhi aturan perkuliahan yang seharusnya. Tetapi tiba-tiba saya tidak memperhatikan dosen tersebut ketika menerangkan mata kuliah tersebut, pikiran malah terus bertanya-tanya, sebenarnya aturan mahasiwa harus memakai pakaiain rapi itu dari mana dan apabila saya hanya memakai kain “ sarung” saja ke kelas akan seperti apa, dengan itu sebenarnya pola pemikiran dari mana sich, dan terus bertanya, pikiran saya kadang jalan-jalan ke alun-alun Bandung yang katanya sich kota mode “ faris Van java” gitu loh, terus pikiran berjalan-jalan ke tempat di kampus yang sedang di bangun, lebih teapatnya sudah retak gitu dech, nah tiba-tiba saya teringat perkataan teman saya yang tampan dari Milenia Corporation tepatnya Cileunyi Group ia memang pengusaha Counter. di samping itu, ia punya media juga, ia sempat berkata begini
“ ah saya mah kalau kuliah mau pakai peci hitam saja”
mungin saja, saya pikir ia alumni Pondok Pesantren, ah saya semakin pusing saja bila berjalan-jalan terus, sudah lah saya tidak mau mengingat itu lagi sambil jam mata kuliah sebentar lagi selesai.
Memang semua harus di pertanggung jawabkan.
Setelah ucapan teman saya di atas, ia bertanya kepada teman saya yang satu lagi. Begini katanya “ kenapa rambutmu gondrong, kamu harus mempertanggung jawabkanya juga lho”dan mungkin ada yang lebih bijak juga kata teman saya juga si tampan dari milenia itu tadi. nah ketika saya katanya ditanya oleh ayah yang budiman setelah kuliah begini
“ ayah, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi”.
Ya, begitulah hidup memang penuh pertanggung jawaban. Ketika seorang pemuda menteskan airmani pun harus tanggung jawab apabila kekasihnya hamil. Nah saya kembali lagi memperhatikan dosen tadi sambil menggerutu dalam hati
“ pak, bapak juga harus bertanggung jawab juga, karena hidup ini tanggung jawab”

Memang tidak seperti halnya kata temen saya “udunan adalah jiwa” jikalau bapak dosen keilmuan sastra ya harus tanggung jawab kepada sastra itu sendiri dan kepada mahasiswa sastra tersebut. Saya sebenarnya ingin mendebat dosen tersebut, tetapi ya sudahlah, mau gimana lagi mahasiswa yang “tidak dispilin”  dilarang berbicara. Jadi sama saja ya \saya andaikan “ orang miskin dilarang sekolah dan buang sampah”, nah maka dari itu apakah pendidikan hanya di nilai dari bungkusnya saja tetapi isi kacangnya tidak pernah di buka apalagi di makan, karunya atuh si kacang. pengandaian yang sederhana dari teman saya ketika ia memang mahasiswa tidak disiplin juga atau interdisiplin.

Mmengapa begitu karena bergelut di tiga dispilin ilmu sekaligus atau kalau bahasa teman saya yang satu lagi begini “menyelam sambil minum air, sudah minum air terus sambil mencari karang juga. dengan itu, pertama mempelajari pendidikan, jurnalistik dan sastra, kalau saya golongkan ia sudah mendapat gelar Fropesor sekaligus, "edan kan” bayangin aja.

Tetapi setelah adzan ashar membalut kota, aku menulis catatan ini dengan segelas kopi dan sebatang rokok sambil mendengarkan lagu “kopi lambada”, aromanya asmara dan nikmatnya membara, asyik juga ya walaupun perut keroncongan, bahwa menulis itu asyik dan lebih asyik, lebih daripada jadi politikus.

Kembali lagi ke cerita awal tentang drwaing lukisan yang mengganti patung liberti pake pot bunga, jadi menurut saya fenomena “tidak disiplin” memang kita dapati dalam kehidupan di abad ini, nah maka seorang kretator lukisan syah-syah saja menggantinya juga atau tidak disiplin, semisal sekarang banyak kiai yang menjadi politisi, ada juga lulusan Ilmu Hukum menjadi sastrawan begitu pula lulusan dokter, ada yang menjadi penulis puisi dan penyanyi dan aktris ibu kota begitu pula dengn saya seorang mahasiswa jurusan Cicaheum-Garut ( elf) hehe, maksudnya jurusan sastra tetapi menjadi tukang gorengan sampeu. mungkin itulah sejumlah contoh orang yang tidak disiplin menurut saya.

Sambil menyambut nadoman saya membayangkan begini jikalau MUI (majelis umat islam) mengeluarkan ftawa seperti “ menulislah walau satu ayat, kalau tidak menulis haram dan tidak diakui sebagai umat” itu akan seperti apa, umat islam indonesia. 

Semisal ketika jurusan sastra pasti mengkaji karya sastra dan sejumlah perkembangannya, biografi pengarang dan banyak lagi teus semisal jurusan ilmu hukum mengkaji tentang UUD 45 dan jurusan pendidikan mempelajari metode pengajaran atau ekonomi islam mempelajari teori berdagang ala Rasululoh Muhamad S.A.W. nah maka selayaknya jikalau dan sebaiknya pula ranah keilmuan tersebut mampu “disiplin” mengapa? ya jikalau jurusan Ilmu Hukum pastrilah ada dari staf pengajarnya yang menjadi konsultan hukum atau pengacara dan mahasiswnya juga kalau ada, lalu jurusan pendidikan begitu pula dengan sastra maka seharusnya “disiplin”. jikalau memang “disiplin” atau bahasa kerenya dari praktisi menuju akademisi dan dari akademisi menuju praktisi, apa salahnya jika kita mencoba berkolaborasi, mahasiswa sastra menjadi pengacara dan mahasiswa pendidikan menjadi Advocakat, apa itu “tidak disiplin?

Catatan : maaf apapbila ada nama, tokoh dan setting yang sama ini tidak kesengajaan ini hanyalah karya fiksi.

Pungkit Wijaya, penikmat kopi lambada.

Selasa, 11 Oktober 2011

PUISI, POLITIK, DAN PEREMPUAN CANTIK


Ayo, kenakan sepatumu/ jalanan menyiapkan debu dan kelu.
(Bambang Q-Anees)

Mari kita mulai dengan rendezvous, kenapa puisi itu mirip politik? Lalu apa hubungannya dengan perempuan cantik? Menurut pengamatan saya begitu jelas hubungan ketiga makhluk tersebut, saling bertautan satu dengan lianya, ketiganya sering bertemu dan menimbulkan energi puitik. Lalu ketiga hal tersebut semuanya harus sensual, gemulai, meliak-liuk, ada juga yang mengentak, relasi dari ketiganya harus soal bagaimana bisa menyihir, puisi harus memberikan makna mendalam kepada pembaca, politik harus membelai rakyat, begitu pula perempuan cantik harus menyihir para penyair dan politisi,(sedikit mengenang) semua itu serba memakai sesuatu yang konotatif dan tentunya syarat dengan pelbagai kepentingan. Bahkan Goenawan Moehammad dalam catatan pinggirnya menulis bahwa Richard Nixon, seorang politisi Amerika berpidato itu mirip puisi, tetapi apa yang di katakan Nixon bukan puisi tetapi ia tetap seorang politisi.

Setelah itu, mari kita lihat apa bedanya para penulis puisi (penyair) dan politisi khususnya di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam kenyataanya puisi dan politik sering berbenturan, puisi bisa saja melawan, menolak, bahkan menyerukan politik, sampai-sampai banyak tema dari puisi membentak para politisi, penyair mengungkapkan ekspresinya lewat puisi, tentu saja mereka peduli terhadap perkembangan politik, politik menjadi tema dalam sastra, dan penyair Wiji Tukul selalu mengingatkan kita “hanya ada satu kata, lawan!”

Di sisi lain berbeda jika menohok para politisi khususnya yang tergabung dari pejabat kampus, mereka bisa jalan-jalan( studi banding) didanai kampus dengan dalih-dalih merumuskan undang-undang kampus, yang belum tentu seluruh mahasiswa mengetahuinya, sampai-sampai keadaaan perpolitikan kampus karut-marut hingga sampai saat ini belum ada kejelasan, belum lagi perebutan proyek kekuasaan, bagaimana nasib mahasiswa sekarang, seharusnya politisi kampus memikirkan dan membebaskan tahanan (mahasiswa atau mustad’affin) dari belenggu jeruji besi. Berbeda dengan penyair (penulis puisi) di kampus, belum tentu bisa seperti itu jalan-jalan didanai oleh kampus. Padahal penyair selalu memikirkan kampus, selalu memikirkan nasib mahasiswa (menjadikanya tema dalam puisi).

Oleh karena itu dalam benak saya bertanya-tanya, apakah para para politisi kampus akan peduli terhadap puisi? Sebuah keniscayaan, sebab puisi ditulis berdasar dengan ketulusan hati (AZN), jikalau politik syarat dengan kepentingan, dalih-dalih dalam politik ada anekdot “kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan” begitulah politik, tak menguntungkan Ya, tidak jadi kawan, kacian deh loe! Eh, padahalah media ucapnya sama, yaitu kata-kata (jika kampanye atau lobi-lobi). Seharusnya politisi mencintai puisi, mereka sering puitis lho, ayo coba ketika pencalonan, seribu janji membuai tehadap rakyat kampus, padahal itu konotatif, bermakna ganda, terkadang menimbulkan metapor, menimbulkan banyak pesan, terkadang tidak tertuju terhadap makna aslinya. Bahkan terlaksana atau tidak itu urusan belakangan.

Pada sisi lain juga, puisi sejak zaman dahulu kala telah ada, ia menjadi semacam tradisi lisan bagi masyarakat sebelum mengenal tulisan, pada zaman Yunani kuno hingga ke peradaban Romawi, Persia puisi tidak pernah absen. Begitu juga politik selalu beriringan, selalu berdampingan.

Hingga pada masa Arab klasik, di negeri jazirah itu banyak penyair, sampai-sampai Ka’bah, kiblat bagi umat islam menjadi semacam pertarungan antara penyair, puisi yang bagus akan di pajang, mereka sering berkumpul dan membaca puisi (dahulu sebutannya syair), bahkan kitab suci Al-qur’an diturunkan untuk melibaskan, membasmi syair para kaum jahiliah, mungkin tidak salah karena Tuhan sebagai Dzat yang maha puitis. lalu apakah Alqur’an puisi-puisi dari Tuhan itu sendiri? kita bisa setuju atau tidak, kalau tidak setuju maka seyogyanya nagucung di alun-alun.

Uniknya, Sayidina Umar r.a, sahabat rasul pernah berkata kepada Tuhan, ya Tuhan kenapa bukan aku yang menjadi atau nabi, kenapa Engkau memilih Muhammad? padahal saya penyair, tutur Umar. Bila melihat dahulu kepenyairan begitu dahsyat dan sangat diperhitungkan bahkan sebagian pakar mengatakan bahwa penyair itu nabi. Beban yang berat coy, jika menjadi penyair. Pantas saja saya melihat kecenderungan di abad ini orang-orang memilih menjadi politisi, ya, kalau menjadi politisi tinggal banyak pencitraan, sedikit gombal dan bisa melobi sana-sini, sambil berbekal ribuan massa. Niscaya Anda akan menjadi-jadi. Slogannya; maju tak gentar memebela yang bayar!
***
Perkembangan puisi di kampus ini memang tak seperti perkembangan politik. Meski adanya jurusan atau fakultas sastra tidak menjadi tolak ukur (menara gading) bagi perkembangan puisi. namun puisi tetap hadir, tetap lahir dan mengikuti semangat perkembangan zamannya, menjadi suara lain atau menurut Penyair Octavio Paz, The Other Voice. Mari kita sedkiti mengenang, dari zaman penyair Bambang Q-Anees sampai ke zaman B.F Syarifudin, dalam genre Sunda ada Liman Sanjaya, punggawa dari Garut utara, periode IAIN, hanya menyebut beberapa nama, hingga saat ini setelah berubah menjadi UIN. Atau sebut saja dari periode K.H Anwar Mussadad(alm) sampai ke periodik Rektor H. Nanat Fatah Natsir, puisi akan terus hadir. Beberapa genarasi pelapis mulai bermunculan, karena proses estafeta kepenulisan puisi harus dilanjutkan, penyair akan hadir, meski tidak banyak, dari sekian ribu cvitas akademika, mungkin hanya ada beberapa, mungkin ini yang mirip dengan konsep kenabian, dan penyair selalu menggemakan takbir, selebihnya sedikit mengutif, puisi jangan dipeti matikan atuh beb!

Puisi harus tetap hidup, jangan mati, proses kepenulisan tetap berjalan meskipun kampus hancur, gedung-gedung dirobohkan, mahasiswa tercerai berai atau menurut pandangan penyair sekaligus dosen Theologi Bambang Q-Annes menyebutnya seperti Yahudi, tersebar di mana-mana.

Oleh karenanya saya tiba-tiba ingin mengutif petikan puisinya berjudul laut, penyair ini menuliskan ,/Masih terasa getar dari bau tanah/langit dan amis laut / dan daratan yang terbakar tak disapa. Itu lah kehebatan puisi meskipun sudah di tulis pada sekitaran 2000 makna dan suasana dari puisi tersebut seakan aktual, bisa dikontekstualkan dengan keadaan kampus, liat kampus UIN seperti daratan yang terbakar tak disapa.

Lalu dalam larik selanjutnya di tulis, “Apa yang kau bebaskan Hanoman, waktu telah menindas jarak”. sebagai pembaca saya diingatkan kembali kepada sosok Hanoman atau juga ini alusi, dalam puisi tersebut si ‘aku” lirik di lukiskan sebagai hanoman yang membantu Rama ketika membebaskan perempuan cantik yang bernama Sitta, yang diculik Rahwana, “waktu telah menindas jarak”, dalam arti tidak ada kesempatan lagi, sudah terlalu lama, Sitta telah menunggu untuk dibebaskan, lirik selanjutnya “tetapi ia, juga kamu tak tahu/ bahwa sitta telah menemukan waktu dalam api/.

Ada penggambaran peristiwa, sehingga membaca puisi tersebut, bagi saya menimbulkan banyak metapor, tafsir menjadi luas, bisa dari berbagai pendekatan, bisa didekati dari sudut mana saja. Selanjutnya saya ingin menafsir, bagaimana waktu diibaratkan dengan api, mungkin semakin lama, semakin panas, atau lebih tepatnya menunggu itu hal yang membosankan, hal yang bisa membuat pori-pori tubuh seperti terbakar.

Dengan demikian, pada zaman ini saya mengambil makna dari tokoh Hanoman dari puisi Bambang Q-Annes itu dengan konteks zaman edan ini, dan mulai bertanya masih adakah sosok seorang yang mirip Hanoman di hari ini; perasaan yang tulus, pengabdi terhadap Rama, seorang pembebas, maksud saya di sini orang yang benar-benar tulus membebaskan.

Dalam ceritanya, Sitta digambarkan seorang perempuan cantik, berhidung mancung, ketika tersenyum mirip dalam iklan pasta gigi, saya membayangkan ia mirip foto model atau pragawati dari daratan Hindustan. Karena perempuan cantik harus dibebaskan, kebanyakan dalam dunia cerita, tokoh perempuan cantik menjadi sandera politik, sebenarnya saya melihat cerita antara Rahwana dan Rama sebagai peristiwa politis, memang motif pelebaran cerita digambarkan melalui penculikan Sitta, namun di sisi lain saya melihat itu sebagai perebutan kekuasaan atau politik. Atau kelakar saya jangan-jangan penyair Bambang Q-Annes sempat membebaskan perempuan cantik? Ya, bisa saja jikalau dilihat dari aspek sosiologis namun sebaiknya tidak membahas itu.

Begitulah sementara dalam tulisan yang dihidangkan kepada pembaca khususnya di kampus UIN, dalam pandangan yang tidak disertakan berbagai referensi ini, bahkan membingungkan membacanya karena tak usai, perihal sengaja, syukur-syukur bisa berlanjut menjadi bahan diskusi. Namun kembali pada persoalan puisi, politik dan perempuan cantik, memang banyak sekali tema, atau keterkaitan terhadap persoalan tersebut, atau selamanya perempuan cantik yang sensual, lengkung bibirnya tipis, alisnya hitam agak tebal, akan terus menjadi tema para penyair dan politikus? coba sejenak kita bayangkan di siang rindang, matahari belum terkudeta, angin membelai daun-daun, kau duduk di bawah pohon rindang (DPR), kau melihat perempuan berkerudung merah jambu, hidungnya mancung, tingginya semampai, leluk tubuhnya mirip pragawati Paris atau foto model dari Italia, atau sebut saja perempuan Cileunyi rasa Itali, akan timbul puisi atau tidak? selajutnya apakah UIN masih tetap seperti itu, akan tetap selamanya menjadi rumah perkutut dan para dewa!

Oleh Pungkit Wijaya. Bergiat di konsorsium sastra UIN Sunan Gunung Djati Bandung.