Revenue

Jurnal SASAKA

Edisi Juni 2012

Haul to Chairil Anwar

Acara FAS (Forum Alternatif Sastra)

Komunitas Sasaka

Pungkit, Anto,Atep, Ema

Acara Godi Suwarna

Sedang menyimak

Diskusi

Kebersamaan tak lekang oleh waktuuuu

Dado dan Nira

MC Acara FAS

Pungkit, Ema dan Atep

kongko-kongko

Jurnal SASAKA

Coming Soon Edisi September 2012

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

AKU PERGI LIBURAN


Aku hari selasa pergi keGeriya. Di sanah banyak mainan dan disanah aku belibondu. Terus aku beli gantungan hape, terus aku beli baju, terus aku makan di KFC. Terus aku pulang deh. Selesai ceritanya. Salam dari Mentari untuk teman-teman semua. Dadah..

Mentari Timur el-Faiz. Murid PAUD Strawbery kelompok B


Rabu, 25 April 2012

Perempuan Pemimpi

Lelaki buruk rupa berdiri mematung di hadapan­ku. Aku yakin, ia orang yang akan menjadi sua­miku. Tidak salah lagi, meski baru bertemu dengannya, namun aku hapal seperti apa orang yang kelak akan menjadi suamiku. Melalui mimpi. Dalam mimpi itu, aku menikah dengan seorang lelaki berkulit hitam, kepala pelontos dengan hidung yang melesak ke dalam. Belum lagi teli­nganya: jebang. Seperti ciri-ciri lelaki ini.
Hanya dalam mimpi, aku bisa meramal masa depan. Seolah kejadian yang belum terjadi dalam hidup, akan tampak dalam mimpiku. Oleh karenanya, aku sangat yakin bahwa lelaki yang sedang aku lihat ini yang akan menjadi suamiku.
Aku tidak pernah salah dalam menafsirkan mimpi. Karena keajaiban mimpi itu, aku bisa bertemu dengannya di Stasiun Gambir. Dalam mimpiku itu diceritakan, bahwa ia berasal dari Surabaya, datangnya menggunakan kereta ekonomi, menge­nakan baju lusuh dengan peluh mengental di lehernya. Ternyata lelaki yang berada di hadapanku ini baru saja turun dari kereta. Aku langsung memeluk lelaki itu seperti sudah mengenalnya. Bagaikan seorang perem­puan yang menunggu kepulangan kekasihnya yang telah lama tak bertemu. Membuatnya terkejut mendapati dirinya dipeluk oleh perempuan yang tak ia kenal.
“Akhirnya kita bertemu juga...” aku berteriak histeris sambil meme­luknya, “Sudah lama aku menunggumu disini.”
Lelaki itu diam seje­nak memandangi wajahku, menatap lekat-lekat binar cahaya kedua mataku yang tampak berkaca-kaca karena bahagia. Dengan sedikit gelagapan ia tampak kikuk, “Maap, mbak kayanya salah orang, aku bukan orang yang mbak tunggu.” katanya. Lalu dipan­danginya orang-orang sekitar yang turun dari kereta, sepertinya tak ada orang yang mirip dengan­nya.
“Mana mungkin aku salah!” teriakku lagi. “Apa kau tidak mengenaliku?” aku bertanya, yang pasti jawabannya sudah dapat kutebak bila ia akan barkata, “Ya, aku tidak mengenalmu!”
Lelaki itu kembali angkat bicara, “Aku tidak punya kenalan disini, aku hanya perantau yang sedang liburan di kota ini.”
Tidak. Aku tidak salah orang. Aku telah hapal wajah orang yang akan menjadi suamiku yang dalam mimpiku orang itu berwajah buruk rupa dan menurutku, hanya orang inilah yang wajahnya paling buruk diantara ribuan wajah para penum­pang kereta di Stasiun Gambir.
“Sudah mbak jangan memelukku terus, aku tidak mengenal siapa mbak, mungkin orang yang mbak tunggu wajahnya mirip denganku?” lelaki itu kemudian mencoba membuka eratnya pelu­kanku, pastinya deka­panku membuatnya merasa tak nyaman.
“Jangan lepaskan pelukanku.” cegahku sambil terus memeluknya.
Ia kembali diam. Berdiri mematung dan menarik kepalanya kebe­lakang sedikit menjauh dari wajahku. Membuat dadanya yang bidang semakin keras menempel di dadaku. Ternyata kami memiliki tinggi tubuh yang sama. Sejajar dengan jendela kereta. Napas yang dikeluarkan dari hidungnya begitu sangat tak teratur. Aku tahu ia pasti sangat gugup. Mungkin baru pertama kali ini ia dipeluk oleh seorang perempuan. Dengan wajah buruk rupa itu, mana ada orang yang mau menjadi kekasihnya dan memeluknya erat-erat. Tapi kenyataanya seka­rang, seorang perempuan sepertiku mau meme­luknya. Sekadar untuk meyakinkan bahwa aku adalah istrinya nanti.
Tidak. Aku tidak salah memeluk orang. Kulit wajah lelaki yang sedang kupeluk ini benar-benar hitam. Tak ada bedanya dengan warna gerbong kereta tua yang telah berkarat. Namun bedanya,  lelaki ini masih muda meski terlihat tua. Ada tiga gerat menggumpal pada keningnya. Matanya semakin nyalang setengah terpicing. Kedua bulu alisnya saling beradu, menandakan ia mulai geram oleh tingkahku karena langsung menyam­bar tubuhnya itu dengan pelukan.
Melihat gelagatnya yang mulai risih dan melakukan sedikit perla­wanan, aku kembali bertanya, “Siapa nama­mu?” sambil melepaskan pelukan.
“Sudah saya katakan, mbak salah orang, bukti­nya mbak tidak tahu nama saya kan?” jawab­nya sedikit membentak.
“Aku belum tahu namamu, tapi wajahmu selalu ada dalam mim­piku.”
“Maksud mbak?” ia sekarang yang bertanya.
“Aku selalu bermimpi bahwa kau akan menikah denganku.” tegasku yang dibalasnya dengan gele­ngan kepala.
Meski telah kujelaskan perihal bahwa aku bisa meramal masa depan melalui mimpi, namun lelaki itu tidak percaya bila ia akan menikah denganku. Sudah setengah jam kami berdiri berha­dapan disitu, tanpa pernah menghitung berapa kereta yang datang dan pergi dari stasiun itu, atau merasakan tatapan aneh dari orang-orang yang lalu lalang karena melihat kami saling baradu mulut. Mungkin dalam pikirannya sekarang hanya terfokus pada satu titik: ia ingin pergi jauh-jauh dariku. Aku tidak akan mem­biarkannya kembali menaiki kereta yang akan membawanya menghilang. Tujuanku datang kesini, hanya untuk menjelaskan pada lelaki buruk rupa ini, bahwa ia akan men­jadi jodohku. Ditambah lagi harapanku untuk segera melangsungkan resepsi pernikahan. Namun ia selalu saja menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Aku adalah istrimu nanti,” kataku lagi, “Di masa depan, kita adalah sepasang suami istri.”
“Berarti kita akan menikah?” ia kembali bertanya.
“Ya!” jawabku singkat sambil menyunggingkan senyum.
“Bagaimana kita akan menikah, sedangkan kita tidak pernah mengenal satu sama lain.” jawab­nya.
“Tapi aku telah menge­nalmu.”
“Dimana? Kita baru bertemu.”
“Setiap malam kita selalu bertemu melalui mimpi-mimpiku.” aku membantah.
“Mbak jangan meng­ada-ngada!” jawabnya dengan nada menggertak.
“Kaulah jodohku, kumohon percayalah…” aku merengek. Tetapi lelaki itu tetap tidak percaya sambil meng­gelengkan kepalanya berkali-kali. Padahal, hampir setiap malam, aku selalu bermimpi akan dinikahi oleh seorang lelaki berkulit hitam, kepala pelontos dengan hidungnya yang melesak ke dalam. Belum lagi telinganya: jebang. Aku yakin betul mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Sudah lama aku memiliki kekuatan mera­mal masa depan hanya dengan tidur dan bermim­pi. Akibat kekukatan mimpi itu, orang-orang selalu bertanya padaku, mereka selalu bertanya entah itu masalah jodoh, bisnis, politik, bahkan masalah kematian seka­lipun. Aku bisa mera­malnya. Hasilnya selalu tepat.
Tak bisa disangsikan lagi, keakuratan ramalan mimpiku memang tidak pernah salah. Semuanya bermula ketika aku percaya bila mimpi itu bukan hanya sekadar bunga tidur. Semuanya bisa menjadi kenyataan bila aku mempercayai mimpi itu akan benar-benar terjadi. Bahkan seorang peramal pun bisa manfsirkan mimpi orang-orang dengan caranya masing-masing; entah itu lewat kartu tarot, garis tangan atau jalan cerita mimpi tersebut. Tetapi aku tidak perlu menaf­sirkan mimpiku, karena cerita mimpiku tidak absurd. Semuanya meng­alir begitu saja. Jalan cerita mimpiku akan sama dengan kejadian yang akan menimpa hidupku.
Tetapi, beberapa minggu yang lalu, aku selalu bermimpi tentang jodohku. Entah karena sebelum tidur aku selalu memikirkan siapa yang akan menjadi jodohku. Aku selalu percaya perka­taan kedua orang tuaku yang selalu memberikan nasihat, “kamu adalah apa yang kamu pikirkan, dan bila kamu selalu memikirkan tantang jodohmu sebelum tidur, maka kamu akan memim­pikan seperti apa jodohmu itu.” Hasilnya, setiap aku tidur, aku selalu bermimpi dinikahi seorang lelaki buruk rupa, seperti lelaki yang seka­rang ada di hadapanku. Apa mungkin dalam lubuk hatiku, aku ingin dinikahi oleh lelaki seperti itu? Yang pasti, aku begitu menikmati mimpi itu.
“Aku adalah istrimu nanti, kita adalah sepa­sang suami istri dimasa depan.” kataku yang berjanji tak akan mengu­langi ucapan itu lagi..
“Mbak itu perempuan gila, mana mungkin aku mau menikahi perempuan seperti mbak.”
“Kalau kau tidak percaya, tidurlah dengan­ku.” ajakku dengan senyum manja.
“Apa mbak seorang perek¹?”
“Aku istrimu di masa depan.”
“Terserah!” katanya ketus. Ia lalu melangkah pergi tanpa pernah meno­leh ke belakang.
Usahaku untuk menje­laskan apa yang aku alami dalam mimpi ternyata sia-sia, ia tetap tidak mempercayainya. Apakah karena aku terlalu jujur? Sehingga ia begitu kaget dan memanggilku orang gila yang mengada-ngada tentang apa yang aku katakan. Sebenarnya aku pun tidak ingin dinikahi olehnya.
***
KEMARIN hari yang begitu sangat men­jengkelkan bagiku. Le­bih tepatnya pada kebo­dohanku. Kenapa aku tidak menanyakan pada lelaki itu, “Kau tinggal dimana?” atau mungkin, “Kau mau tinggal dimana? Mungkin aku bisa men­carikanmu sebuah kon­trakan.” mengingat mim­piku semalam yang tidak begitu jelas. Aku memim­pikan lelaki itu tinggal di sebuah kontrakan kumuh yang padat penduduk. Mana mungkin aku mengetahui tempat tinggalnya, sedangkan hampir semua kontrakan di kota ini, memang seperti itu suasananya.
Statsiun ini masih sama seperti kemarin. Lalu lalang calon penum­pang kereta begitu men­deras. Langit tetap mendung. Guntur meng­gelegar setiap dua menit sekali. Tampaknya di bulan Desember ini, musim hujan masih belum berakhir. Begitu dingin. Merewet pada setiap kegelisahan orang-orang. Angin berkesiur memecah uraian rambutku. Begitu juga rok mini yang kuke­nakan; tergerai, terbuka setengah paha. Orang-orang sekilas menatapku. Mungkin di benak mereka mengumpat, “Dasar wanita zaman sekarang, musim dingin seperti ini memakai pakian seperti itu.” Ah biarkan saja, ini gaya hidupku. Tanpa rasa malu sedikitpun, aku akan tetap mununggu lelaki itu datang lagi.
Di dekat peron, aku masih menunggunya. Sebatang rokok yang terjepit di mulutku hampir habis. Lipstik sedikit luntur. Tiba-tiba dari arah jauh, seseorang mendatangiku. Wajahnya sangat kukenal. Tak asing lagi bagiku. Dengan postur tubuh yang pendek, berwajah gelap dan kepalanya pelontos. Aku tersadar ternyata ia lelaki kemarin.
“Akhirnya kau datang juga padaku.” teriakku.
Lelaki itu tersenyum, “Apa kau telah mempunyai kekasih?” aku menjawabnya dengan gelengan kepala, dan membalas senyumnya.
“Berarti calon suami pun tak punya?” ia kembali bertanya.
“Aku yakin kamulah suamiku!”
“Kalau begitu, aku akan melakukan kewajiban sebagai seorang suami sekarang juga.”
Lalu, aku dibawanya ke tempat sepi. Di bawah langit mendung, kami bergumul seperti sepasang suami istri. Kejadiannya begitu cepat. Setelah kami mengenakkan kembali pakaian, ia lantas melangkah pergi. Tampak terburu-buru. Aku pun mengejarnya. Setelah itu, ia menaiki sebuah kereta. Entah kemana.
Kemudian di menit yang sama, pada sebuah kereta yang lain, aku melihat seorang lelaki turun dari kereta. Wajahnya buruk rupa.


Cerpen Oleh : T.H. IHSAN, eksponen Sasaka

HU Haluan Padang, Minggu, 15 April 2012 00:54

Jumat, 14 Oktober 2011

KUNANG-KUNANG KEMATIAN


Di kampungku—yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang yang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.

“Apa orang yang baik tidak butuh cahaya? Apakah cahaya sudah ada melalui amal baiknya? Sedangkan yang tidak baik masih membutuhkan cahaya, bukan melalui amal baik malah dari cahaya kunang-kunang?” tanya salah seorang warga, beberapa hari yang lalu.

“Cahaya kunang-kunang itu berasal dari zat luciferin, mungkin ada hubungannya dengan Lusifer para setan neraka.” jawab Pak RT.

“Berarti bila kita mati nantinya akan menjadi iblis toh?” ia kembali bertanya.
“Bila sampean mati membawa amal buruk pasti bakalan seperti itu.” timpal yang lain.
“Tidak baik percaya sama tahayul.” bantah seseorang yang tidak setuju.
“Sampean tak percaya? Kualat loh!”
“Manusia dan iblis itu beda, tapi sama-sama mahluk ciptaan Gusti Allah!”
“Mbuh!”

Pada waktu itu aku tidak ikut melibatkan diri dalam obrolan-obrolan mereka, padahal mereka selalu sibuk membicarakannya bila ada warga yang mati. Dan entah sejak kapan mitos itu ada di kampungku, mungkin pada zaman dulu para leluhur jawa kuno selalu mengingatkan untuk melakukan amal baik terhadap sesamanya ketika hidup, dan bila matinya meninggalkan amal buruk maka kukunya akan menjelma kunang-kunang untuk mencari cahaya setelah dikubur. 

Dan sekarang hampir semua warga—dari mulai anak kecil, dewasa, hingga para orang tua—sudah tidak asing lagi untuk mengetahuinya.
Malam ini di luar nampak rembulan telah matang, langit semakin gosong, di sana ada ribuan bintang bercahaya seperti segerombolan kunang-kunang beterbangan di pekarangan rumahku, seolah ada yang mengundang kedatangan mereka. Lantas siapakah orang itu? “Apakah sekarang ada warga yang mati dengan buku catatan amal di tangan kirinya?” tanyaku dalam hati.

Kunang-kunang itu masih berkeliaran di antara pepohonan, tanah tandus yang di penuhi rimbun semak, bahkan ada satu kunang-kunang yang hinggap di jendela kamarku, lalu ke tanganku, sepertinya ia menyukaiku, atau akan menjemputku pada kematian. Pasalnya, selain mempercayai mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati, orang-orang juga percaya bila ada salah satu warga yang dihinggapi kunang-kunang maka ia akan mati. Kunang-kunang itu penjemput kematian.

            Aku tidak begitu percaya pada yang namanya mitos. Tahayul. Mungkin karena sewaktu kecil aku rajin mengaji, ilmu yang pernah aku dapat bahwa orang yang mati arwahnya langsung ditempatkan oleh Tuhan, entah dimana, aku lupa lagi, sebab sudah sepuluh tahun aku tidak menuntut ilmu agama. Aku malu pada namaku yang selalu di sebut-sebut sebagai jawara kampung tak terkalahkan di usiaku sekarang yang masih berumur 27 tahun. Hingga namaku kian santer terdengar ke kampung-kampung lain.

Yadi Jopang, begitulah mereka menyebut namaku. Ketika nama itu disebut, orang-orang yang mendengarnya pasti bakal menutup pembicaraan mereka lalu pergi dari orang yang menyebut namaku. Atau mengunci rapat-rapat pintu rumah mereka bila aku berteriak-teriak di sekitar kampung pada larut malam yang tengah menikmati minuman memabukan. Di telinga mereka, suaraku bagaikan aungan singa jantan yang hendak berburu karena kelaparan.

Mereka mulai segan dan takut padaku ketika pada suatu hari di kampungku pernah terjadi sebuah bentrokan warga antar kampung. Kala itu kampungku diserang warga kampung sebelah. Mereka datang dengan membawa berbagai parang ditangannya. Penyebabnya berawal ketika Taryo, salah seorang warga kampungku yang kepergok sedang bergumul dengan istri warga kampung sana, dan bukan untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Aku sebagai sahabat Taryo tentu membelanya, dengan cara melawan warga kampung sebelah dan bisa mengalahkan mereka yang membawa kapak atau sebilah belati hanya dengan tangan kosong.

Ternyata senjata mereka tidak bisa melukakiku, hanya rasa gatal saja ketika para jawara kampung lain pernah menancapkannya ke leherku. Kenapa? Sebab sudah lama aku menuntut ilmu kanuragan pada salah seorang dukun. Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan. Bila mematuhi semua syarat itu, maka hanya dengan membacakan mantra “Yaahu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den keya keris mengkana landhepe tangan ingsun” lalu tangan kanan menggebrak tanah, seketika itu puluhan lawan akan terpelanting, kocar-kacir tak karuan.

Lamunanku dikejutkan oleh Joko, sahabatku yang berbadan gemuk dengan di penuhi tato menjarah di kedua lengannya. Ia datang dari balik jendela dengan raut muka yang pucat menjadi seperti warna lampu neon kamarku. Langkahnya yang terburu-buru dan napasnya masih terengah-engah, aku tahu ia pasti membawa kabar buruk.

“Yadi, kampung kita digegerkan dengan kematian Taryo.” katanya yang berdiri di ambang jendela terbuka.
“Apa! Taryo mati? Tapi mengapa kematiannya begitu menggemparkan warga kampung?” tanyaku dengan mata melotot dan terkejut.
“Kematiannya itu telah mengundang banyak kunang-kunang, mereka takut dijemput kematian.” jawab Joko.
            “Ia mati kenapa?” tanyaku lagi.
            “Dikeroyok warga kampung sebelah karena selalu menjaili wanita sana,” jawab Joko. Lalu ia melanjutkan ucapannya, “Sebagai sahabatnya, apa yang harus kita lakukan?”
“Entahlah,” jawabku yang masih tak percaya keadaan ini.

Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.
“Lebih baik kita bunuh saja warga kampung sebelah, kita harus balas dendam!” katanya lagi antusias.
“Kau saja, aku takut seperti Taryo!”
“Kau takut mati? Bukankah kau tidak bisa dibunuh!” tanya Joko kembali.
            “Tadi ada kunang-kunang hinggap di tanganku, aku takut kunang-kunang itu penjemput kematianku.”
“Ha ha... Goblok! Mati itu di tangan Tuhan, bukan melalui kunang-kunang!”
            “Jangan bicara Tuhan, hanya mengingatkanku pada kematian!” kataku dengan nada menggertak. Lalu ia beralasan:

“Bukankah tubuhmu kebal terhadap senjata? Dulu pun kau bisa mengalahkan sepuluh jawara yang membawa parang hanya dengan tangan kosong.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum kecut lalu menengadahkan kepala  ke atas dengan menggertakan gigi, dan mengepalkan tangan.
***

Siang yang panas, cuaca begitu terik membuat wajah orang-orang menjadi seperti pantat kunang-kunang yang bercahaya, dan rawa-rawa telah lama mengering. Tapi tidak pada suasana rumah Taryo yang sedang berkabung. Isak tangis, derai air mata, masih mengalir dari para keluarganya. Ia yang semasa hidupnya lekat dengan dosa, kini telah berpulang meninggalkan dunia. Aku berada di rumah kecil itu bersama Joko, sekadar mengucapkan kalimat bela sungkawa, dan mengamati para pelayat dengan wajah yang di sedih-sedihkan. Aku tahu kesedihan mereka bukan karena kematian Taryo, melainkan karena kegelisahannya terhadap kunang-kunang. Bahkan secara tak sengaja kami mendengar dari salah seorang pelayat mengatakan bahwa kematian Taryo hanya penyebar kunang-kunang.
“Nanti malam pasti kunang-kunang akan semakin banyak berkeliaran, mengingat kelakuan Taryo yang tidak baik, pasti ia membutuhkan banyak cahaya, semoga tidak hinggap pada kita saja, kunang-kunang itu penjemput maut.” kata pelayat itu.

“Lebih baik kita musnahkan saja mereka, biasanya mereka bersarang di tempat-tempat yang tandus dan berawa.” jawab yang lain.
“Tapi alangkah baiknya bila kita berdoa untuk Taryo, kasihan!” aku menimpal obrolan mereka. Namun sepertinya ucapanku itu tak dihiraukannya.

 Jujur, aku sedikit emosi, apalagi setelah mendengar dari omongan seluruh warga, ternyata mereka telah sepakat nanti malam akan menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Lantas bagaimana acara tahlilan dan yasinan? Bukankah warga kampung mempunyai tradisi setiap malam mendoakan orang yang mati supaya arwahnya merasa tenang? Apakah menangkap kunang-kunang lebih penting ketimbang mendoakan Taryo? Bila mitos kunang-kunang itu memang benar, dan tak ada yang berkeliaran, mungkin ia akan kekurangan cahaya di alam sana.
“Setuju...”
“Kami semua setuju…”
“Malam ini kita harus menangkap semua kunang-kunang!” teriak semua warga bersamaan.
            “Basmi...”
“Bunuh...”
“Basmi semua hingga tak tersisa. Kami tidak ingin mati!”

Aku mendengar kerumunan warga yang berteriak di lapangan. Sepertinya kunang-kunang sudah mereka anggap sebagai Tuhan, mereka pikir kematian bukan lagi kehendak Tuhan, mereka sudah terlalu mempercayai mitos itu. Namun satu pertanyaanku, bila kunang-kunang berhasil dimusnahkan, apakah mereka bakal terhindar dari kematian? Bakal hidup abadi? Mereka menganggap Tuhan sudah mati. Bahkan Taryo yang telah mati pun mereka anggap sampah; penyebar bencana; pembawa sial; dan itu yang membuatku benci kunang-kunang. Aku tidak akan mati meski dihinggapinya. Hidup dan matiku kehendak Tuhan.

***
            Malamnya aku datang membalaskan dendam pada kampung sebelah, melakukan kerusuhan dengan melemparkan api ke rumah-rumah warga kampung itu yang terbuat dari bilik kayu dan mudah terbakar, membuat kampung itu menjadi merah, seperti neraka, api di mana-mana, dan tentunya hati mereka pun terbakar dengan mengacung-acungkan ancam sebuah parang ke arah kami.
“Tangkap mereka…”
“Kita bunuh mereka…” teriak seluruh warga.

Mereka berlari mengejar kami, seperti halnya warga kampungku yang sekarang sedang menangkap semua kunang-kunang yang berkeliaran. Melihat situasi seperti itu, raut muka Joko menjadi pucat, bahkan aku sendiri pun langsung berlari menjauhinya, dan melesapkan diri di balik semak tak jauh dari sana. Entah kenapa kekuatanku tidak lagi melindungiku, hanya darah yang bercucuran di mana-mana: kepala, tangan, dan baju yang aku kenakan pun robek terkena sayatan sebuah belati.
“Apa karena siang tadi aku menginginkan warga kampungku supaya mendoakan Taryo? Tentunya meminta kepada Tuhan.” bisikku dalam hati. Tanpa sadar aku telah melanggar pantangan dari dukun itu dan kembali mengingat Tuhan.

Di balik semak-semak itu aku hanya bisa mendengar suara Joko yang melolong kesakitan meminta pertolongan: Aduh, ampun, sakit, hentikan, dan terakhir ia berteriak memanggil namaku. Dan setelah itu hening, tak ada suara. Sial. Kenapa di saat seperti ini kekuatanku malah lenyap. Aku hanya bisa bersembunyi ketika sahabatku dikeroyok, mungkin hingga tewas. Kurasakan lututku bergetar, mungkin aku juga takut, pastinya setelah ini giliranku yang menjadi santapan para warga yang geram dengan parang tajam di tangan mereka. Sekelimunan orang masih mencari tempat persembunyianku. Aku membayangkan apa jadinya bila aku tertangkap? Mungkin tubuhku diseret, pentungan dan parang tajam akan mendarat ke tubuhku—bernasib sama seperti Taryo dan Joko—mati di tangan amukan massa.

“Apakah aku akan mati di tangan mereka?”
“Apakah kematianku telah di jemput kunang-kunang?”

Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang sekarang sedang berkecamuk di pikiranku. Aku berharap mitos itu hanya bualan belaka. Aku tidak ingin mati. Kini yang aku bisa hanya meminta perlindungan Tuhan, bukan pada kekuatan yang tiba-tiba hilang. Aku mengintip mereka melalui celah semak-semak, jumlahnya sangat banyak, mungkin ada puluhan orang yang membawa parang serta pentungan yang siap di arahkan pada tubuhku. Inikah yang di rasakan Taryo dan Joko? Menikmati saat terakhir menghela napas dengan penuh dosa. Kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah di hinggapinya. Dan bila aku mati disini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku.

Sumedang, 19 Juli 2011

Oleh Ihsan Taufik Hidayat. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris. Menulis puisi dan cerpen. Bergiat di Komunitas SASAKA

Selasa, 11 Oktober 2011

KOTA INI


Hari menjelang malam adalah rombongan pengantar jenazah, dengan seragam serba hitam mereka berjalan pelan.
“Jasad siapakah yang kalian antarkan?” Tanyaku.

“Ini jasadmu, kawan. Sekarang Jum’at malam.” Jawabnya dingin. Ah, aku teringat pemuda Kafka itu, yang memasuki lubang kuburan setelah membaca namanya tertera di batu nisan.
Jum’at menjelang malam adalah ketika biasanya aku pulang dengan perasaan penuh. Rutinitas telah tandas dalam laporan mingguan, meski masih ada ini itu di pundakku, aku sampirkan untuk dilampirkan minggu depan. Pun hari ini.

Kamarku, masih seperti saat kutinggalkan pagi tagi. Apa-apa bergelatakan, rasa bosan yang sulit kurapikan. Biasanya, sebelum pulang aku berbenah. Untuk Senin nanti, menyiasati semangat dengan kerapian berapi-api. Tapi sepertinya tidak kali ini, meski sapu lidi sudah naksir berat pada karpet; puntung-puntung rokok, debu-debu, sampah kertas dan plastik. Kali ini keletihanku tidak merestui. Hanya seperti kubiarkan semula. Hanya cucian yang kubawa, beberapakali aku bawa pekerjaan pulang. Hasilnya pundakku mengalami nasib malang.

Aku memutar kunci dengan tangan berkeringat. Bukan meninggalkan kota ini terasa berat. Keharuan yang entah darimana meninggalkan kota keranjang rutinitas yang entah dengan cara apa harus kucintai. Mungkin, hanya teringat seseorang yang sempat mencintaiku tanpa cara, tanpa bicara. Biasanya besok pagi aku temui. Tapi bagaimana mungkin cinta seperti itu, bukankah gambaran dari bentuk cinta itu bersudut, sedangkan kita membayangkan dunia adalah selingkar penuh? Ah, aku hanya akan pulang. Dengan kekosongan.

Di kursi tiga dekat jendela, hunian idaman selama ini. Tas kusimpan disampingku, benteng pertahanan yang paling kuandalkan. Ah, kerandaku beroda. Rombongan pengantar jenazah itu semakin penuh mengantarku, dalam setengah jaga. Tiba-tiba aku ingin bertanya pada Jum’at malam yang mengunyahku.

“Bagaimana rasanya kekosongan, hah?”
Jawabnya adalah lanskap-lanskap di kaca jendela, berlarian dan tersesat dalam labirin bayangan wajah sendiri.

Dua setengah jam perjalanan. Kota yang kutuju, adalah sepuluh tahun yang lalu, pertama ia menyapa telapak kakiku. Kota yang kusangka tidak memungkinkan bagi cinta. Kota dimana jalan raya adalah kesempatan emasmu untuk mampus di tangan remaja pengendara, kota dimana lampu merah berubah menjadi ayah yang menculik anak-anak dari sekolah, sungai di kota ini adalah pawai limbah dan bayi-bayi yang mati kaku, pusat perbelanjaan di kota ini adalah rumah ibadah yang membuat si kapiran-kapiran tertunduk rendah. Di kota ini, orang-orang mengecat rambutnya berwarna-warna, karena mereka telah bosan dengan mimpi yang hitam putih saja; mimpi yang sering diceritakan bapak dan emak sewaktu sarapan itu. Ah, sudah kubilang. Kota ini tidak memungkinkan untuk cinta.

Kota yang menjadi tempat menginapku untuk semalam, sebelum Sabtu mengajakku pulang ke rumah dan kemudian berharap menjelma batu. Kota yang dimana cinta kadang seperti pasukan tentara, menyergap lalu melemparku semena-mena. Berkali-kali. Kota yang lampu-lampunya kunyalakan oleh senyuman gadis di Sabtu pagi. Meski di sini hujan lumpur terjadi, mereka tetap akan melahirkan pelangi.
Pukul 22.11. keranda berlabuh. Lampu-lampu di kota ini tanpa nyawa. Harus kunyalakan dengan senyum siapa? Ah, aku hanya ingin istirah dan membasuh lanskap di wajah dengan mimpi paling asing. Lalu, besok aku akan pergi, meninggalkan kota ini dalam sehari.

Cibiru, 05 Maret 2011

Oleh Pow Sirunggawir. Alumni Aqidah dan Filsafat, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sekarang sedang sibuk membangun kerajaan di Empires and Allies

Minggu, 09 Oktober 2011

DI UJUNG PENANTIAN


Di antara sekian banyak rumah di kawasan perumahan padat penduduk di daerah Bandung ini, rumah Astri adalah salah satu rumah yang masih terang benderang. Dikelilingi rumah-rumah lain yang telah senyap dengan penghuni yang terlelap, kesibukan di rumah itu nampak belum mencapai tanda titik. Dari mulai ruang tamu sampai ujung dapur, orang-orang sibuk mengerjakan sesuatu untuk acara besok. Mulut mereka pun ikut sibuk, mengoceh ke sana kemari.
Jauh dari hingar bingar yang terjadi di rumahnya, Astri terdiam membisu di kamarnya yang telah berhiaskan kelambu pernikahan. Ya, besok adalah hari pentingnya. Tetapi malam ini, tak terlihat senyum bahagia di wajahnya, yang ada hanya tatapan kosong. Tatapan itu kemudian berganti menjadi hembusan nafas pelan yang membentuk sebuah senyum kecil. Tapi ia terdiam lagi dengan tatapan kosongnya.
Pintu kamarnya terbuka perlahan, membuat Astri terbangun dari lamunan kosongnya.  Dilihat orang itu tersenyum ke arahnya. Wajah kosong itu pun berseri.
“Kenapa sayang?” dibelainya kepala Astri lembut.
“Nggak, Bu. Astri Cuma lagi merenung aja.”
Ibu masih membelai Astri, anak sulungnya itu, dengan hangat. Senyumnya pun masih mengembang.
"Dulu, waktu ibu mau menikah dengan ayahmu, ibu merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan saat ini."
Astri langsung menatap wajah ibunya, setengah bingung juga kaget. Dari mana ibu bisa tahu pikiranku?
"Ibu bukannya bisa baca pikiranmu, hanya saja dulu juga Ibu pernah menjalani apa yang anak Ibu ini pikirkan saat ini," tanpa menatap wajah anaknya ibu melanjutkan perkataannya.
Tuh kan, Ibu bisa baca pikiranku, bisik hatinya lagi.
"Mau mendengar sebuah cerita sayang?"
"Cerita apa, Bu?" wajah Astri menunjukkan rasa penasarannya.
Ibunya terdiam sesaat sebelum ia memulai ceritanya.

***

Ini adalah kisah 25 tahun lalu, sayang. Sebuah kisah antara seorang gadis remaja dengan seorang pria dewasa tanggung. Sejak pertama kali bertemu, tak ada hal yang istimewa antara kedua manusia yang berbeda ini, bahkan keduanya tak saling kenal. Perkenalan itu terjadi tanpa sengaja.
Kamu tahu sayang, dulu orang yang punya motor itu masih jarang bahkan motor bekas saja masih susah untuk didapat. Jadi untuk mencapai sekolahnya, gadis remaja itu harus naik angkutan umum. Sayangnya, pada hari itu angkutan umum yang menuju sekolahnya sedang mogok beroperasi, mereka sedang memprotes perubahan trayek.
Di saat kebingungan itu, ada motor butut yang lewat di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu pun menghentikan laju motornya.
“Kang, ke SMK ya. Udah kesiangan.” Ucapnya sembari langsung duduk di belakang.
“Cepetan, Kang. Aku kesiangan.”
Walau masih dengan wajah bingung, pemuda itu akhirnya menjalankan motornya. Tak ada yang berbicara karena yang satu merasa was-was, sedangkan satu lagi masih bingung. Emang mukaku tampang tukang ojeg ya? Mungkin itulah yang ada di pikirannya saat itu.

“Lalu, apa yang terjadi setelah itu, Bu?”
Ibu terdiam sesaat, mengingat ceritanya.

Seperti halnya kalo kamu habis naik kendaraan umum, gadis itu membayar uang jalan dan segera berlari ke dalam sekolahnya. Sedangkan pemuda itu, ia malah bingung melihat uang di tangannya. Dilihatnya gerbang sekolah yang memuat nama sekolah tempat gadis itu. Ditatapnya juga titik di mana gadis tadi menghilang. Ia kemudian berlalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang ternyata tak jauh lagi dari tempatnya sekarang.
Setelah kejadian itu, untuk beberapa minggu mereka tak bertemu. Tak ada yang mencoba mencari satu sama lain. Apalagi si gadis hanya menganggapnya seorang tukang ojeg. Tetapi siapa tahu apa yang terjadi kemudian kecuali Tuhan, bukan?
Kira-kira sebulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja lagi di sebuah gedung pementasan seni. Gadis itu nampak terkejut melihat ‘tukang ojeg’nya pun ada di sana. Walalupun agak malu, gadis itu menghampiri pemuda yang sibuk berbicara dengan teman-temannya.
“Maaf, Kang!” ditepuknya punggung pemuda itu berkali-kali untuk mendapatkan perhatiannya.
“Ya, ada apa?”
“Akang yang tukang ojeg waktu itu kan?”
Mendengar perkataan gadis itu, teman-temannya, walaupun pelan namun bisa terlihat dari wajahnya, kalau mereka menertawakan apa yang baru saja gadis itu katakan. Meskipun malu, gadis itu tetap diam di tempat, namun tersipu. Karena tidak ingin mempermalukan dan dipermalukan lebih jauh, pemuda itu menggiringnya menjauh dari teman-temannya.
“Maaf, Kang. Kenapa teman-temannya ngetawain? Ada yang salah ya?”
Sebelum menjawab, pemuda itu memperhatikan wajah sang gadis sesaat, mencoba mengingat kejadian yang telah lalu.
“Kamu yang waktu itu minta aku jadi ojeg ya?”
“Loh, bukannya Akang emang tukang ojeg?”
Pemuda itu tersenyum mendengar perkatannya, “Sebenarnya saya bukan tukang ojeg, saya mahasiswa tingkat 3 dan hari ini kebetulan jurusan saya yang mengadakan acara di sini.”
Mendengar penjelasan pemuda itu, wajah si gadis memerah karena malu. Mengingat kebodohannya hari itu, wajahnya semakin memerah.
“Aduh, maaf kalo gitu. Waktu itu …”
“Yaa.. sudahlah ga apa-apa. Itung-itung amal aja. Oh ya, uang yang waktu itu…, ini saya kembalikan.”
“Ga usah, Kang. Simpen aja. Anggep aja uang buat ganti bensinnya,” si gadis menolak saat pemuda itu mengembalikan uangnya, “Makasih ya, Kang.”
Ya ... pertemuan kedua itu pun berlalu begitu saja dan tak ada perkenalan lebih jauh. Si gadis itu pun hampir melupakan kejadian di gedung kesenian karena disibukkan dengan ujian yang sebentar lagi datang.

“Bagaimana hubungan mereka setalah itu, Bu?”
“Tak lebih baik ataupun buruk, mereka hanya sekedar kenalan biasa tanpa kemungkinan apapun. Tak terjadi komunikasi apapun, termasuk surat.” Ibu lagi-lagi diam termenung menggali memorinya.

***

Lagi-lagi Tuhan mempertemukan mereka dengan jalannya yang unik. Hari itu adalah hari kelulusan sang gadis dan pembagian rapot bagi anak-anak kelas 1 dan 2. Di sekolahnya akan diadakan pemotretan. Pemotretan atau pengambilan foto termasuk momen-momen langka saat itu dan gadis itu sangat bahagia memperoleh kesempatan langka ini.
Semua anak-anak telah bersiap-siap untuk berpose di depan  kamera, pun si gadis. Ia tengah bercengkrama dengan teman-temannya yang juga sangat ‘excited’ dengan pemotretan hari ini. Tawanya terhenti saat tak sengaja ujung matanya menangkap wajah yang tak asing. Orang itu membawa kamera di tangan kanannya dan tripod di tangan kirinya, tas besar ia selendangkan di bahu kirinya. Ya, tak salah lagi, pikirnya.
“Sebentar ya, ke sana dulu!” gadis itu beranjak dari kerumunan teman-temannya yang beceloteh.
Lagi-lagi, ia menepuk punggung pemuda yang membelakanginya. Saat membalikkan badan, gadis itu tengah menyunggingkan senyum ke arahnya.
“Eh, kamu lagi. Sedang apa di sini?”
“Akang lupa, saya kan emang sekolah di sini. Sekarang hari kelulusan saya.” Ucapnya sumringah.
“Oh kelas 3 ya? Kalau begitu, bisa bergabung dengan teman-teman lainnya? Kita akan ambil gambarnya.”
Gadis itu kembali ke kerumunan teman-temannya yang kini menatap ke arahnya.
“Siapa?”
“Yang dulu pernah nganterin,” jawabnya singkat.
Mereka hanya ber ‘ooh’ saja mendengar perkataan si gadis itu. Mendengar aba-aba dari juru potret di depan, semua langsung berpose yang terbaik untuk album sekolah mereka.
Beberapa hari kemudian, tanpa diduga dan tanpa merasakan pertanda apapun, pemuda itu datang ke rumah si gadis. Saat si pemuda datang, walau dengan tanda tanya, tamu itu dipersilahkannya masuk.
“Ibunya ada?” tanya pemuda itu sesaat setelah ia dipersilahkan masuk.
Si gadis malah tediam tak memberi tanggapan “Sebentar ya, Kang. Saya bawa minum dulu,” sambil menundukkan kepala ia menghilang ke arah dapur.
Meskipun bingung dengan sikap si gadis yang tiba-tiba berubah saat ditanyakan tentang orang tuanya, ia tak berpikir hal yang lebih jauh lagi. Saat menunggu dalam diam, seorang laki-laki yang berumur 30 tahunan keluar menemui pemuda itu. Setelah saling bersalaman dan berkenalan, lagi-lagi pemuda itu menanyakan keberadaa orang tua sang gadis.
“Maaf sebelumnya, sebenarnya orang tua kami sudah beberapa tahun lalu tiada,” ucap lelaki yang meruapakan kakak si gadis itu.
“Oooh…Maaf, Kang.”
“Tak apa, itu memang sudah kehendak Tuhan,” ucapnya bijaksana. “Sebenarnya, ada keperluan apa datang kemari?”
Merasa mendapatkan celah, pemuda itu mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah sang gadis. Sungguh sebuah kejutan untuk si gadis dan kakaknya. Si gadis yang menguping dari ruang sebelah hampir saja menjatuhkan nampan yang dipegangnya, sedangkan kakaknya terpaku untuk sepersekian detik.
“Apa kamu sungguh-sungguh?”
“Saya sungguh-sungguh, walaupun hanya bertemu beberapa kali dalam beberapa kesempatan yang singkat saya yakin dengan keputusan saya.”
Dari sinilah kemudian mengalir cerita yang membuat si gadis tersipu dan sedikit kaget. Pemuda itu menceritakan bahwa sebenarnya sejak pertama mereka bertemu secara tidak sengaja di halte bis itu, ia merasakan sesuatu dalam dirinya. Memang tak ia tanggapi pada saat pertemuan pertama. Namun, setelah mereka bertemu untuk kedua kalinya perasaan itu muncul lagi dan membuat dirinya sendiri bertanya-tanya.
Ia sebenarnya sudah mengetahui sedikitnya bagaimana sifat dan sikap gadis ini dari berbagai sumber yang bisa dipercaya. Bukan untuk bermaksud buruk, hanya saja dia sendiri harus memantapkan diri dengan pilihannya serta meminta restu kedua orang tuanya sebelum bisa melangkahkahkan kaki dan menemui si gadis. Pilihannya semakin mantap mengingat gadis itu sekarang telah lulus sekolah.
“Ketika saya telah menetapkan pilihan, saya tidak main-main dan tidak mau membawa sebuah hubungan ke arah yang tidak jelas. Oleh karena itu Kang, saya lebih memilih hubungan ini,” pemuda itu menyudahi ceritanya.
Kakak si gadis menghembuskan nafas sesaat. Ada ekspresi kaget dan takjub yang terlukis di wajahnya.
“Mengenai masalah ini, semuanya saya serahkan pada adik saya yang akan menjalaninya. Tetapi sebenarnya, rencananya ia ingin melanjutkan sekolah lagi setelah ini. Mungkin ada baiknya kamu bicarakan dulu dengannya.”
“Kalau begitu, bolehkah saya mengajaknya bicara sambil jalan-jalan?”
“Tunggu sebenatar!”
Kakak si gadis masuk ke dalam dan mendapati adiknya tengah duduk mendengarkan di ruang itu. Wajahnya menunjukkan rasa kaget namun senang sekaligus bingung. Ditatapnya wajah sang kakak.
“Kak?”
“Keluarlah, temui dia!”
Walaupun masih sedikit shock, ia keluar menemui pemuda itu. Dilihatnya wajah lelaki ‘ojeg’nya yang kini tersenyum, tiba-tiba saja wajahnya memerah dan hatinya berdegup lebih kencang.
“Bisa kita keluar?”
Ia mengangguk tanpa bersuara. Kini ia jadi bingung dan salah tingkah.

“Lalu bagaimana setalah itu, Bu?”
“Ya, mereka berdua akhirnya kelaur dan melanjutkan pembicaraan yang laki-laki itu sampaikan pada kakak sang gadis,” jawab Ibu Astri.
“Apa yang gadis itu berikan sebagai jawaban?”
“Dia tidak memberikan langsung tapi dia malah balik bertanya, pertanyaan yang sebenarnya pernah menjadi pertanyaan si pemuda. Gadis itu bertanya ‘Apa kamu yakin dengan pilihanmu?’ Tapi pemuda malah tersenyum sesaat sebelum menjawab pertanyaan si gadis, ia pun menjawab …”
“Kamu tak akan pernah yakin jika tak berusaha meyakinkan dirimu. Langkahmu hanya akan terhenti di sana hingga akhirnya penyesalan datang menghampiri kehidupanmu. Dirimu tak akan berjalan begitu saja karena ada pilihan yang harus kau pilih untuk meneruskan kehidupan, hanya dengan meyakinkan diri bisa menjadi salah satu usaha untuk terus melanjutkan roda kehidupanmu. Jika kamu ingin berhenti di sini saja, lalu apa yang kau harapkan dari kehidupan? Tenggelam dalam ketidakyakinan?”
“Ayah!” Astri membalikkan badannya sedangkan sang ibu hanya tersenyum menatap suaminya yang muncul tiba-tiba.
“Kayaknya lagi ngomong serius?”
“Ibu hanya sedang bercerita saja, Yah.”
“Kenapa ayah tau kata-kata yang akan diucapkan pemuda itu?”
“Bagaimana ya…? Ayahmu ini kan orang hebat ha…ha…” goda ayahnya.
“Ayaaahh…”
Ibunya tersenyum melihat hal ini sedangkan Ayahnya tertawa melihat Astri yang merajuk.
“Kamu mau tahu yang sebenarnya?” tanya Ayahnya masih dengan sedikit menggoda.
“Sebenarnya anakku, pemuda itu adalah ayahmu ini dan gadis SMA itu adalah ibumu,” jawab sang Ibu masih dengan senyumnya.
Astri terdiam sesaat tak percaya dengan apa yang barusan meluncur dari mulut ibunya. Ia menatap sesaat pada ibunya dan berpaling ke arah ayahnya.
“Nggak nyangka ayah bisa berkata seperti itu,” ujar Astri sembari memeluk ayahnya, “Lalu, kemudian setelah itu apa?”
“Ayah dan ibumu ini menikah,” jawab ibunya.
“Detailnya?” Astri merajuk manja.

Setelah mendengar jawaban itu, si gadis dan pemuda itu pulang ke rumah si gadis, mungkin lebih baik kita sebutkan namanya. Gadis itu, Nining, langsung masuk ke dalam setelah berpamitan sebelumnya. Sebelum pergi, pemuda itu, Rustam, menemui kakak Nining, yaitu Om-mu.
Rustam menegaskan maksudnya dan akan segera datang setelah mendapatkan jawaban dari Nining. Kamu tahu sayang, mengambil keputusan seperti ini bukanlah perkara mudah. Ditambah lagi dirimu hanya seorang anak yang baru lulus sekolah SMA. Belum terpikirkan sebelumnya tentang dunia pernikahan dan warna warninya. Tapi, mengingat kata-kata yang ayahmu ucapkan waktu itu membuat Ibu menjadi yakin dengan pilihan Ibu.
Ibu tahu, sebenarnya ayahmu pun merasa kurang yakin dengan tindakannya mengingat saat itu dia masih seorang mahasiswa dan hanya memiliki kerja sampingan, belum permanen. Tapi keyakinan itu menguat saat mengingat gadis yang menjadikannya tukang ojeg.

Ayah dan ibunya menyudahi cerita itu, ditatapnya kedua orang tua yang telah membimbing dan merawatnya hingga dewasa. Mereka pun memikirkan apa yang ada di pikirannya saat ini. Yakinkah aku melangkah ke tahap ini?
Dipeluknya ayah dan ibunya bergantian, “Terima kasih, Yah. Terima kasih, Bu.” bisiknya.
“Ya sayang, kamu pun harus bersyukur memiliki Hendri sebagai calon suamimu. Dia tidak hanya bisa meyakinkanmu, tapi juga kami sebagai orang tuamu,” Ibu memeluknya lebih erat.
“Usiamu sudah lebih matang Nak dibandingkan ibumu yang saat itu berumur 19 tahun, Hendra pun begitu. Waktu ayahmu menikah dulu, telur di angka 20-nya baru pecah sedangkan Hendra, dia jauh lebih matang dan mapan di usianya yang pertengahan 20 ini. Apalagi kalian telah mengenal dengan baik satu sama lain” ujar ayahnya diselingi canda.
“Satu lagi Yah, apa yang membuat Ayah yakin memilih Ibu menjadi pasangan seumur hidup? Kalian kan hanya bertemu beberapa kali saja, sekitar tiga kali kan? Dan semuanya tidak sengaja,” Astri mengutarakan rasa penasarannya itu.
“Bagaimana ya…? Mungkin bisa dikatakan hal itu bukan terjadi oleh seberapa banyak kamu bertemu dan dengan cara apa. Yang terpenting apa yang kamu rasakan dan kamu lihat dari orang yang kamu pilih, sayang dan setelah sekian lama kamu bersamanya, kamu siap dan bersedia menerimanya. Mungkin dulu Nining itu hanya seorang gadis yang menjadikan Rustam seorang tukang ojeg tetapi jika perasaan dan keyakinan itu telah datang serta rencana Tuhan telah berbicara, apalagi yang bisa kamu berbuat selain menerima dan menjalaninya?” ucap Ayahnya diselingi canda.
“Ayah ini, masih saja bisa menggombal,” Ibu tersipu malu mendengar kata-kata itu.
Astri hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya. Di malam akhir masa lajangnya, kedua orang tua Astri mendampingi. Bersama-sama mereka berdoa yang terbaik untuk anak pertama mereka, Astri pun menguatkan niatnya dan meyakinkan dirinya.

Oleh Efa Faozizyatussa’adah. Merupakan anak sulung dari empat bersaudara ini adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris kelahiran 21 tahun lalu di kota Bandung. Berkat hobi corat coretnya, cerpen ini bisa tercipta. Saat ini sedang berusaha menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Islam Negeri Bandung.